FOTO Internasional

Potret Restoran Mewah Bermunculan di Korut saat Warga Kurang Makan

Reuters, CNBC Indonesia
Senin, 02/11/2026 11:58 WIB

Korea Utara (Korut) membuka lebih dari selusin restoran bulgogi mewah, di tengah persoalan ketahanan pangan yang masih dialami lebih dari 40% penduduknya.

1/7 Lee Ae-ran, seorang peneliti kuliner Korea Utara sekaligus pemilik Restoran Neungra yang membelot dari Korea Utara pada tahun 1997, menyiapkan bulgogi—hidangan daging sapi berbumbu khas Korea—di ruang makan restorannya di Seoul, Korea Selatan, pada 22 Oktober 2026. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)

Korea Utara (Korut) tengah memamerkan tren kuliner baru berupa restoran barbeku bertingkat dengan fasilitas mewah. Restoran yang menyajikan daging panggang atau bulgogi itu dilengkapi teras tepi perairan, meja marmer dengan pemanggang tertanam, serta menu daging sapi, babi hingga burung unta. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)

2/7 Lee Ae-ran, seorang peneliti kuliner Korea Utara sekaligus pemilik Restoran Neungra yang membelot dari Korea Utara pada tahun 1997, menyiapkan bulgogi—hidangan daging sapi berbumbu khas Korea—di ruang makan restorannya di Seoul, Korea Selatan, pada 22 Oktober 2026. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)

Dilansir Reuters Senin (2/11/2026), sejak September 2026, media pemerintah Korut mengumumkan pembukaan lebih dari selusin restoran bulgogi di berbagai wilayah. Salah satunya berada di Sinuiju, kota yang berbatasan dengan China, dengan bangunan setinggi tiga lantai. Pembukaan restoran di Sinuiju dan Kanggye dimeriahkan kembang api, sementara restoran di Pyongsong menawarkan teras tepi perairan. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)

3/7 Lee Ae-ran, seorang peneliti kuliner Korea Utara sekaligus pemilik Restoran Neungra yang membelot dari Korea Utara pada tahun 1997, menyiapkan bulgogi—hidangan daging sapi berbumbu khas Korea—di ruang makan restorannya di Seoul, Korea Selatan, pada 22 Oktober 2026. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)

Kemunculan restoran mewah tersebut menjadi sorotan karena Korut selama ini menghadapi persoalan ketahanan pangan. Pembelot Korut, Lee Ae-Ran, mengatakan daging sapi dahulu sangat sulit diperoleh karena sapi digunakan untuk membantu pekerjaan pertanian. Menurutnya, restoran kelas atas hanya dapat dinikmati kalangan tertentu. "Harganya sangat mahal dan bukan sesuatu yang bisa dimakan sembarang orang," kata Lee yang membelot pada 1997. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)

4/7 Lee Ae-ran, seorang peneliti kuliner Korea Utara sekaligus pemilik Restoran Neungra yang membelot dari Korea Utara pada tahun 1997, menyiapkan bulgogi—hidangan daging sapi berbumbu khas Korea—di ruang makan restorannya di Seoul, Korea Selatan, pada 22 Oktober 2026. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)

Lee, yang kini mengelola restoran Korutdi Seoul, juga mengenang pengalamannya makan di restoran bulgogi bebek di Pyongyang yang mengharuskan pengunjung membayar menggunakan mata uang asing. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)

5/7 Lee Ae-ran, seorang peneliti kuliner Korea Utara sekaligus pemilik Restoran Neungra yang membelot dari Korea Utara pada tahun 1997, menyiapkan bulgogi—hidangan daging sapi berbumbu khas Korea—di ruang makan restorannya di Seoul, Korea Selatan, pada 22 Oktober 2026. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)

Sejumlah analis menilai pembangunan restoran baru menjadi bagian dari upaya pemimpin Korut Kim Jong Un untuk menampilkan gambaran kemakmuran di negaranya. Direktur Divisi Riset Korut di Korea Institute for National Unification, Joung Eun-lee, menyebut restoran tersebut dapat menjadi alat propaganda pemerintah untuk menunjukkan bahwa negara menyediakan fasilitas bagi rakyatnya. Sementara itu, Hazel Smith dari School of Oriental and African Studies, University of London, menilai restoran tersebut juga mencerminkan meningkatnya kesejahteraan sebagian warga yang terhubung dengan jaringan perdagangan dan pembangunan, termasuk yang memiliki hubungan dengan Rusia. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)

6/7 Lee Ae-ran, seorang peneliti kuliner Korea Utara sekaligus pemilik Restoran Neungra yang membelot dari Korea Utara pada tahun 1997, menyiapkan bulgogi—hidangan daging sapi berbumbu khas Korea—di ruang makan restorannya di Seoul, Korea Selatan, pada 22 Oktober 2026. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)

Ekonomi Korut tumbuh 3,5% pada 2025, menjadi pertumbuhan di atas 3% selama tiga tahun berturut-turut. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)

7/7 Lee Ae-ran, seorang peneliti kuliner Korea Utara sekaligus pemilik Restoran Neungra yang membelot dari Korea Utara pada tahun 1997, menyiapkan bulgogi—hidangan daging sapi berbumbu khas Korea—di ruang makan restorannya di Seoul, Korea Selatan, pada 22 Oktober 2026. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)

Di sisi lain, impor daging Korut dari China meningkat lebih dari empat kali lipat sepanjang 2023 hingga 2025, mencapai hampir US$39 juta atau sekitar Rp704 miliar berdasarkan data UN Comtrade. Namun, produksi dalam negeri dinilai belum mampu memenuhi permintaan. WFP memperkirakan sekitar 10,7 juta warga Korut atau lebih dari 40% populasi masih mengalami kekurangan gizi pada 2022. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)