Dunia Gonjang-Ganjing Krisis Pangan, Begini Kondisi Stok Beras RI

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Senin, 02/11/2026 12:25 WIB
Foto: Kondisi Pasar Beras Induk Cipinang terkini, Selasa (12/8/2025). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik dunia yang berpotensi mengganggu rantai pasok dan memicu krisis pangan global membuat sejumlah negara mulai memperkuat kesiapsiagaan masyarakat. Sedikitnya 33 negara bahkan mengimbau warganya menyiapkan persediaan makanan, air minum, obat-obatan, hingga kebutuhan dasar untuk menghadapi situasi darurat.

Di tengah kondisi tersebut, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengklaim ketahanan pangan Indonesia relatif aman. Hal ini ditopang oleh produksi dalam negeri dan cadangan beras nasional yang dinilai cukup kuat.

"Alhamdulillah, kita patut bersyukur. Di saat dunia sedang menghadapi ketegangan geopolitik, ancaman krisis pangan, dan gangguan rantai pasok, kondisi pangan Indonesia relatif aman," kata Amran dalam keterangannya, dikutip Senin (2/11/2026).


"Kita punya produksi dalam negeri, punya cadangan, dan terus memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ini yang harus kita jaga," sambungnya.

Sejumlah negara, termasuk Inggris dan Jepang, telah mendorong masyarakatnya menyimpan persediaan kebutuhan pokok untuk menghadapi kemungkinan gangguan. Persediaan tersebut direkomendasikan cukup untuk memenuhi kebutuhan minimal 72 jam atau tiga hari, bahkan hingga satu minggu jika memungkinkan.

Langkah antisipasi itu dilakukan untuk menghadapi berbagai risiko, mulai dari konflik geopolitik, bencana alam, cuaca ekstrem, serangan siber yang mengganggu infrastruktur, hingga terhambatnya rantai pasok dan distribusi kebutuhan pokok.

Berbeda dengan kekhawatiran sejumlah negara tersebut, Amran menyebut Indonesia memiliki modal kuat berupa cadangan beras pemerintah (CBP), potensi panen, hingga stok di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka).

Suasana Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Rabu (24/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Suasana Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Rabu (24/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Berdasarkan data per 26 Oktober 2026, cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog mencapai sekitar 4,5 juta ton. Selain itu, terdapat potensi sekitar 10 juta ton beras dari standing crop atau tanaman padi yang siap dipanen, serta sekitar 10 juta ton stok di sektor horeka.

Dengan demikian, total ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai sekitar 25 juta ton. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan beras nasional yang berada di kisaran 2,5 juta ton per bulan.

"Kalau kita hitung, stok di Bulog sekitar 4,5 juta ton, standing crop sekitar 10 juta ton, dan stok di horeka sekitar 10 juta ton. Total sekitar 25 juta ton. Sementara kebutuhan kita sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya, ketersediaan kita sangat kuat. Ini yang membuat kita lebih siap menghadapi berbagai gejolak global," ungkap dia.

Amran menegaskan, keberhasilan Indonesia mempertahankan swasembada beras tanpa impor menjadi salah satu fondasi penting ketahanan pangan nasional. Menurutnya, ketergantungan terhadap pasokan pangan dari negara lain dapat menjadi risiko besar ketika konflik geopolitik mengganggu perdagangan internasional.

"Kita tidak boleh bergantung pada negara lain untuk urusan pangan. Bayangkan kalau terjadi konflik besar, jalur perdagangan terganggu, negara-negara menahan ekspornya, sementara kita masih bergantung pada impor. Risikonya sangat besar. Karena itu, swasembada adalah kekuatan dan perlindungan bagi bangsa," tegas Amran.

Untuk menjaga produksi pangan tetap berkelanjutan, Kementerian Pertanian terus menjalankan sejumlah program strategis. Di antaranya optimalisasi lahan, pompanisasi, perbaikan jaringan irigasi, penyediaan benih unggul, hingga peningkatan produktivitas pertanian.

Pemerintah juga memperkuat langkah antisipasi terhadap perubahan iklim dan potensi kekeringan yang dapat mengancam produksi pangan nasional.

Amran menekankan, kondisi pangan yang relatif aman saat ini tidak boleh membuat pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan berpuas diri. Penguatan produksi, cadangan pangan, serta perlindungan terhadap petani harus terus dilakukan.

"Alhamdulillah, kita patut bersyukur pangan Indonesia aman. Tapi kita tidak boleh berpuas diri. Produksi harus terus ditingkatkan, cadangan diperkuat, dan petani dilindungi. Ada keringat petani dan ada negara yang hadir," pungkasnya.


(wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Cadangan Beras Melonjak Tapi Kenapa Harga Beras Masih Mahal?