MARKET DATA
Internasional

Media Independen Tutup Usai Ditekan Pemerintah dan Dicap "Antek Asing"

luc,  CNBC Indonesia
01 November 2026 13:00
A man leaves a building housing the editorial office of the independent media outlet Novaya Gazeta, as a plaque commemorating of slain anti-Kremlin Russian reporter Anna Politkovskaya is seen on the wall (L), in Moscow on October 30, 2026. Russia's f
Foto: AFP/TATYANA MAKEYEVA

Jakarta, CNBC Indonesia - Novaya Gazeta, salah satu media independen paling berpengaruh di Rusia, resmi mengumumkan penutupan operasionalnya pada Jumat (20/10/2026). Surat kabar yang selama bertahun-tahun kritis terhadap Kremlin itu menyebut tekanan pemerintah telah membuat mereka tidak lagi bisa bertahan.

Penutupan tersebut menjadi pukulan terbaru bagi kebebasan pers di Rusia, terutama sejak Presiden Vladimir Putin memerintahkan invasi ke Ukraina pada 2022. Novaya Gazeta selama ini dikenal sebagai salah satu dari sedikit media yang masih berani mengkritik perang Rusia di negara tetangganya tersebut.

Sejak konflik pecah, media yang dikenal sebagai salah satu benteng jurnalisme independen Rusia itu terus menghadapi tekanan. Izin penerbitannya dicabut, sementara sejumlah jurnalis dan editornya diperiksa, ditahan, bahkan rumah mereka digeledah.

Pemerintah Rusia juga memasukkan Novaya Gazeta ke dalam daftar "agen asing", sebuah label yang mengingatkan pada praktik represi era Uni Soviet dan kerap digunakan untuk membatasi suara-suara kritis.

Pendiri surat kabar tersebut sekaligus peraih Nobel Perdamaian, Dmitry Muratov, mengatakan kepada AFP bahwa penutupan media itu merupakan bagian dari operasi militer besar-besaran yang dilakukan Rusia.

"Ini adalah bagian dari kampanye militer raksasa yang sedang dilancarkan oleh Federasi Rusia," kata Muratov.

"Kami adalah penentang keras perang dalam segala bentuknya. Dan kami adalah bagian yang harus dihancurkan," ujar Muratov, yang sebelumnya menjabat sebagai pemimpin redaksi Novaya Gazeta.

Pemimpin redaksi Novaya Gazeta saat ini, Sergei Sokolov, juga mengumumkan berakhirnya operasional surat kabar tersebut melalui pernyataan yang diunggah di YouTube pada Jumat pagi.

"Pemerintah Rusia, dinas khusus Rusia, telah memaksa tim redaksi untuk mengakhiri pekerjaannya," kata Sokolov dalam video yang disampaikan dengan emosional.

Novaya Gazeta didirikan pada 1993, setelah runtuhnya Uni Soviet. Selama lebih dari tiga dekade, media tersebut dikenal sebagai salah satu organisasi jurnalistik paling bereputasi di Rusia, terutama dalam mengungkap dan mendokumentasikan pelanggaran hak asasi manusia.

Mantan pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev bahkan pernah menyumbangkan sebagian uang hadiah Nobel Perdamaian yang diterimanya untuk membantu pendirian surat kabar tersebut.

Keputusan penutupan Novaya Gazeta menuai kecaman dari berbagai organisasi hak asasi manusia dan kebebasan pers.

Kepala HAM PBB Volker Turk menyebut penutupan tersebut sebagai "satu lagi pukulan telak bagi media independen yang masih tersisa di Federasi Rusia".

Sementara itu, Direktur Reporters Without Borders Thibaut Bruttin mengatakan Novaya Gazeta akan tetap menjadi simbol jurnalisme yang bebas, pluralistis, independen, dan berpegang pada standar profesional.

"Novaya Gazeta akan tetap menjadi simbol jurnalisme yang bebas, pluralistis, independen, dan ketat dalam menjalankan prinsip-prinsip jurnalistik, sekaligus menjadi model bagi seluruh profesi ini di dunia," ujar Bruttin.

Amnesty International juga menilai penutupan tersebut sebagai kehilangan besar bagi masyarakat Rusia yang selama ini mengandalkan jurnalisme investigasi independen untuk mengungkap kebenaran.

Sejumlah jurnalis Novaya Gazeta sebelumnya tewas dibunuh dalam kasus-kasus yang secara luas diyakini berkaitan dengan pekerjaan mereka. Salah satunya adalah Anna Politkovskaya, reporter yang bertahun-tahun menyelidiki dugaan pelanggaran yang dilakukan militer Rusia selama operasi di Chechnya.

Politkovskaya ditemukan tewas di gedung apartemennya pada Oktober 2006, bertepatan dengan hari ulang tahun Presiden Vladimir Putin.

Muratov sendiri, yang meraih Nobel Perdamaian bersama seorang jurnalis Filipina pada 2021 atas kiprahnya di bidang jurnalistik, terpaksa mundur dari jabatan pemimpin redaksi dua tahun kemudian setelah pemerintah menetapkannya sebagai "agen asing".

Komite Nobel Norwegia pada Jumat turut mendesak pemerintah Rusia menghentikan tekanan terhadap media independen.

Ketua Komite Nobel Jorgen Watne Frydnes mengatakan kepada AFP melalui surat elektronik bahwa penutupan Novaya Gazeta merupakan pukulan serius bagi kebebasan berekspresi dan hak masyarakat untuk memperoleh informasi.

Sokolov mengatakan selama hampir lima tahun perang berlangsung, Novaya Gazeta masih berusaha menjalankan aktivitas jurnalistik meskipun terus berada di bawah pengawasan aparat intelijen.

"Selama hampir lima tahun perang, kami berhasil beroperasi meskipun sepenuhnya dikepung oleh dinas intelijen. Namun, sekarang semuanya berakhir. Kami akhirnya berada di zona pembunuhan," kata Sokolov.

Ia menilai nasib surat kabar tersebut bukan sekadar persoalan internal perusahaan media, melainkan juga mencerminkan kondisi masyarakat Rusia.

"Ini bukan hanya kisah pribadi kami, melainkan kisah sebuah negara dan masyarakat yang sedang diakhiri dengan cara yang persis sama," ujarnya.

Sebelum perang Ukraina pecah, Novaya Gazeta terbit beberapa kali dalam sepekan. Namun, media tersebut kemudian mengurangi aktivitas penerbitan di dalam negeri. Meski demikian, versi daringnya masih dapat diakses, sekalipun terdapat sejumlah putusan pengadilan yang membatasi operasionalnya.

Tekanan terhadap redaksi juga terus berlanjut dalam beberapa bulan terakhir. Rumah Sokolov digeledah aparat, sementara salah satu jurnalisnya, Oleg Roldugin, ditangkap pada awal tahun ini.

Sokolov mengatakan kondisi kebebasan sipil di Rusia semakin memburuk, hingga pembelaan terhadap hak asasi manusia pun dianggap sebagai tindakan kriminal.

"Hak asasi manusia dan kebebasan telah dihapuskan, sementara pembelaannya disamakan dengan kejahatan," katanya.

"Keyakinan telah dianggap sebagai pengkhianatan terhadap negara."

Ia menilai penutupan Novaya Gazeta menjadi bukti lain dari kondisi tersebut. Selama bertahun-tahun, surat kabar itu berusaha mengungkap persoalan yang kini mereka hadapi sendiri.

"Pembunuhan Novaya Gazeta adalah satu lagi bukti. Selama bertahun-tahun kami menulis secara tepat tentang hal ini, selama kami masih mampu. Terima kasih kepada semua orang yang telah mendengarkan kami. Dan edisi terakhir akan tetap terbit," ujar Sokolov.

 

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pers Melawan! Dilarang Meliput, 3 Media AS Gugat Trump ke Pengadilan


Most Popular
Features