MARKET DATA
Internasional

Ternyata Ini Alasan Kim Jong Un Sering Dikabarkan Meninggal Dunia

Redaksi,  CNBC Indonesia
31 October 2026 07:30
FILE PHOTO: North Korean leader Kim Jong Un speaks during an enlarged meeting of the ruling Workers' Party's Central Military Commission in North Korea, July 9, 2026, in this picture released by North Korea's official Korean Central News Agency.   KC
Foto: via REUTERS/KCNA

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, baru-baru ini muncul di media pemerintah setempat dengan kondisi tubuh yang tampak bugar. Kemunculannya seolah mematahkan rumor liar baru-baru ini yang menyebut dirinya tewas akibat stroke dan pendarahan otak.

Foto-foto terbaru yang dirilis surat kabar resmi pemerintah Rodong Sinmun memperlihatkan diktator berusia 42 tahun tersebut tengah meninjau pameran produk pakaian dan alas kaki. Kim tak datang sendiri, ia didampingi putrinya, Kim Ju Ae, serta jajaran pejabat tinggi rezim Pyongyang.

Kemunculan foto-foto ini mendadak viral hanya beberapa jam setelah seorang aktivis China yang bermukim di AS melontarkan klaim tanpa bukti. Sang aktivis menyebut Kim sempat dilarikan ke sebuah rumah sakit di Beijing dalam kondisi koma hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Bagi para pengamat dan intelijen asing, munculnya kabar burung seperti ini sejatinya sudah menjadi "makanan sehari-hari". Korea Utara yang terkenal sebagai negara paling tertutup di dunia kerap menjadi ladang subur bagi beredarnya spekulasi dan kabar hoaks.

Klaim tewasnya Kim kali ini dicetuskan oleh Wanjun Xie, sosok yang mengklaim diri sebagai Ketua Partai Demokratik China, sebuah organisasi terlarang di bawah rezim Beijing. Xie sebelumnya juga dikenal kerap menyebarkan isu liar tak terverifikasi, salah satunya meramal kematian Presiden China Xi Jinping.

Dalam narasinya, Xie menuding Kim mengalami pendarahan otak parah dan terpaksa dievakuasi ke Beijing akibat minimnya fasilitas medis di Pyongyang. Ia bahkan mengklaim jenazah Kim telah diselundupkan kembali ke Korea Utara secara diam-diam demi menutupi berita duka tersebut dari publik.

Isu Liar Digugurkan Bukti Lapangan

Namun, visual yang dirilis Pyongyang berbicara lain. Kim terlihat aktif mengamati barang-barang pameran sembari berdiskusi dengan rombongan pejabatnya.

Meski tidak ada indikator waktu pasti kapan foto tersebut diambil, para analis menilai ada serangkaian kejanggalan pada klaim tersebut.

Jika kesehatan Kim benar-benar kolaps secara mendadak, perbatasan Korea Utara dipastikan bakal bergejolak.

China biasanya akan memperketat pengerahan militer di area perbatasan untuk mengantisipasi potensi krisis pengungsi. Tak hanya itu, aktivitas diplomatik di kedutaan Korea Utara juga bakal melonjak drastis, dikutip dari BBC, Sabtu (31/10/2026).

Kenyataannya, sinyal-sinyal darurat tersebut sama sekali tidak terdeteksi. Badan Intelijen Korea Selatan (NIS) melalui kantor berita Yonhap menegaskan tidak ada pergerakan atau indikasi aneh yang mendukung laporan kematian Kim.

Kejadian ini mengingatkan publik pada insiden serupa pada 2020 lalu. Kala itu, seorang pembangkang tingkat tinggi Korea Utara mengklaim "99% yakin" Kim Jong Un telah tewas pasca-operasi jantung. Tak lama setelah klaim tersebut ramai diberitakan, Kim mendadak muncul di hadapan publik dan menggugurkan seluruh spekulasi.

Mengapa Rumor Kematian Kim Selalu Laris Manis?

Alasan utama rumor kesehatan Kim selalu menyedot perhatian dunia adalah ketidakpastian skenario suksesi kepemimpinan.

Meski Korea Utara telah dikuasai oleh dinasti Kim selama tiga generasi, peta transisi kekuasaan pasca Kim Jong Un jauh lebih remang-remang dibandingkan era para pendahulunya.

Dulu, pendiri negara Kim Il Sung menghabiskan waktu puluhan tahun untuk menyiapkan putranya, Kim Jong Il, sebagai penerus resmi. Tak heran jika transisi kekuasaan pada 1994 berjalan sangat mulus.

Sebaliknya, proses naiknya Kim Jong Un berlangsung amat singkat dan riskan. Setelah Kim Jong Il terserang stroke pada 2008, Kim Jong Un yang masih sangat muda mendadak didorong naik ke puncak hirarki militer hingga akhirnya memegang tampuk kekuasaan pada 2011. Ia bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk melakukan pembersihan (purging) politik demi mengamankan kursinya.

Kini, intelijen Korea Selatan menduga Kim tengah menyiapkan putrinya, Kim Ju Ae, sebagai calon penguasa masa depan seiring makin seringnya sang putri mendampingi agenda militer dan kenegaraan. Namun, usia Ju Ae yang diperkirakan baru 13 tahun serta kultur patriarki Korea Utara yang belum pernah dipimpin wanita berpotensi memicu perebutan kekuasaan jika krisis terjadi secara mendadak.

Faktor pendorong kedua dari derasnya rumor ini adalah gaya hidup Kim sendiri.

Kim dikenal mengalami obesitas dan perokok berat. NIS berulang kali memperingatkan bahwa pola hidup tersebut menempatkannya pada risiko tinggi penyakit kardiovaskular, yakni masalah kesehatan yang memang menjadi riwayat penyakit keluarga Kim.

Jika terjadi hal buruk pada Kim, dampaknya sangat masif bagi stabilitas geopolitik kawasan. Gejolak kepemimpinan di Pyongyang akan langsung memicu kekhawatiran global terkait kendali atas senjata nuklir, potensi agresi kelompok garis keras militer, hingga krisis pengungsi skala besar di perbatasan China.

Namun, karena Korea Utara tetap menjadi 'lubang hitam' informasi yang sulit ditembus intelijen asing sekalipun, isu-isu liar mengenai kesehatan sang diktator dipastikan bakal terus berulang di masa depan.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Kim Jong Un Dirumorkan Meninggal Dunia Akibat Pendarahan Otak


Most Popular
Features