MARKET DATA

Menperin Sarmuji Bantah RI Alami Deindustrialisasi

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
30 October 2026 19:34
Menperin M Sarmuji. (Dok.Kemenperin)
Foto: Dok.Kemenperin

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji membantah anggapan Indonesia tengah mengalami deindustrialisasi. Dia mengklaim sektor industri pengolahan nasional justru menunjukkan tren ekspansi, bahkan mampu tumbuh lebih tinggi dibandingkan perekonomian nasional.

Sarmuji mengungkapkan industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32% pada 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29%. Kondisi serupa juga terjadi sepanjang 2025, industri pengolahan tumbuh 5,3%, sementara ekonomi nasional tercatat tumbuh 5,11%.

"Sebenarnya, kinerja industri kita tidak seperti yang digambarkan oleh narasi-narasi di luar. Seolah-olah kita sedang mengalami deindustrialisasi yang sangat mengancam proses industri. Namun, data sebenarnya menunjukkan hal yang berbeda," katanya dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin 2026 di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Indikator lainnya yakni Industri pengolahan berkontribusi sebesar 38,98% terhadap realisasi investasi nasional. Sementara itu, ekspor industri pengolahan hingga Agustus 2026 mencapai US$159,55 miliar atau setara 82,40% dari total ekspor Indonesia.

Dari sisi ketenagakerjaan, sektor industri pengolahan menyerap sekitar 19,98 juta pekerja hingga Mei 2026. Adapun Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Oktober 2026 mencapai 53,77, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 51,9, dimana indeks di atas 50 menunjukkan aktivitas industri berada dalam fase ekspansi.

"Jadi, kita melihat bahwa industri kita saat ini tidak mengalami kontraksi, tetapi justru mengalami ekspansi," paparnya.

Meski demikian, pemerintah masih menghadapi pekerjaan rumah untuk mengoptimalkan kapasitas produksi industri nasional. Tingkat utilisasi industri pengolahan nonmigas pada Februari 2026 tercatat baru mencapai 66,13%. Pemerintah ingin meningkatkan angka tersebut hingga kisaran 80-85%.

Di luar persoalan kapasitas produksi, pemerintah juga ingin memastikan industrialisasi tidak berhenti pada pembangunan fasilitas pengolahan bahan mentah menjadi produk setengah jadi. Hilirisasi harus dilanjutkan hingga menghasilkan barang jadi sekaligus membangun industri pendukung yang mampu memasok kebutuhan manufaktur nasional.

Sarmuji menegaskan hilirisasi sumber daya alam seharusnya menjadi pintu masuk bagi proses industrialisasi yang lebih luas. Artinya, keberhasilan pengolahan sumber daya alam tidak cukup hanya dilihat dari nilai investasi, tetapi juga dari kemampuan menciptakan nilai tambah, penguasaan teknologi, penyerapan tenaga kerja, hingga terbentuknya rantai pasok di dalam negeri.

"Hilirisasi sumber daya alam kita itu adalah titik awal dari industrialisasi. Jadi hilirisasi, kata hilirisasi itu sebenarnya sebuah titik awal dari proses industrialisasi yang akan terus kita kembangkan," kata Sarmuji.

(fys/mij) [Gambas:Video CNBC]
Next Article BI Umumkan Kondisi Terbaru Perusahaan di Indonesia, Simak!


Most Popular
Features