70% Petani di RI Berumur di Atas 45 Tahun, Ini Rencana Pemerintah

Martya Rizky, CNBC Indonesia
Jumat, 30/10/2026 15:55 WIB
Foto: Ilustrasi (Deny Napitupulu / Unsplash)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah tengah berupaya mengubah wajah sektor pertanian Indonesia agar lebih menarik bagi generasi muda. Data menunjukkan sekitar 70% petani Indonesia saat ini telah berusia di atas 45 tahun sehingga persoalan regenerasi menjadi tantangan yang harus segera diatasi.

Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Widiastuti, mengatakan pemerintah perlu membuat sektor pertanian lebih menarik bagi anak muda, bukan hanya sebagai pekerjaan tradisional, tetapi juga sebagai peluang usaha yang menjanjikan.

"Kondisi saat ini di mana 70% petani kita, petani Indonesia sudah berusia 45 tahun ke atas," kata Widiastuti dalam World Food Day CNBC Indonesia, Jumat (30/10/2026).


Menurutnya, ada tiga hal utama yang harus dibenahi agar generasi muda tertarik terjun ke sektor pertanian, yakni pemanfaatan teknologi modern, keuntungan ekonomi yang menjanjikan, serta prestise atau kebanggaan dalam menjalankan profesi sebagai petani.

Ia menilai, salah satu tantangan dalam menarik minat anak muda adalah citra pekerjaan petani yang selama ini identik dengan aktivitas fisik di sawah dan harus berhadapan langsung dengan lumpur maupun tanah.

"Ini ada tiga hal yang perlu untuk diterobos ya kalau menurut saya. Jadi yang satu adalah teknologi yang modern. Karena anak muda saat ini dia sudah di zamannya memang mengenal teknologi," ujarnya.

Selain teknologi, pemerintah juga harus memastikan sektor pertanian mampu memberikan keuntungan ekonomi yang menarik. Dengan demikian, anak muda dapat melihat pertanian sebagai bidang usaha yang memiliki prospek, bukan sekadar pekerjaan turun-temurun dari orang tua.

"Lalu yang kedua, keuntungan yang menjanjikan. Nah, dalam hal ini keuntungan yang menjanjikan itu bukan cuma sekedar diangan-angan, tapi keuntungan ekonomi ketika anak muda tersebut mau melakukan tugas sebagai petani, dia itu bisa menghitung gain yang memang didapat dan menarik," jelas dia.

Sementara itu, faktor ketiga adalah prestise. Menurut Widiastuti, profesi petani juga harus memiliki daya tarik dan kebanggaan tersendiri agar generasi muda tidak lagi memandang pertanian sebagai pekerjaan yang kurang menjanjikan.

"Lalu yang ketiga, jelas ya, anak sekarang itu prestise ya. Nah, itu harus, yang kita akan lakukan terobosan supaya bagaimana hal ini menarik dan tiga pilar itu tercapai," ungkapnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah mendorong transformasi teknologi pertanian berbasis digital. Dengan pemanfaatan teknologi, anak muda diharapkan dapat mengelola usaha pertanian melalui perangkat digital seperti telepon genggam (HP), maupun tablet.

Melalui teknologi tersebut, petani dapat merencanakan kebutuhan produksi berdasarkan kondisi dan luas lahan, mulai dari menentukan kebutuhan pupuk hingga pengaturan air.

"Sekarang dengan HP, dengan tab, itu bisa dilakukan bagaimana melakukan perencanaan satu pertanian dengan kondisi lahan, yang misalkan 1 hektare, berapa yang harus diberikan pupuk yang tepat, kemudian air yang tepat, dan tanpa dia mungkin harus berbasah-basah ya," tutur Widiastuti.

Selain digitalisasi, pemerintah juga ingin mendorong tumbuhnya kewirausahaan di kalangan generasi muda. Anak muda diharapkan tidak hanya menjadi pekerja di sektor pertanian, tetapi mampu mengembangkan inovasi dan kreativitas untuk mengelola lahan pertanian, termasuk lahan milik keluarga.

"Jadi generasi muda dengan tiga pilar yang memang harus diterobos, dia harus bisa mengembangkan inovasi dan kreativitas dia untuk menghidupkan lahannya dia, lahan ayahnya dari sisi pertanian," katanya.

Pemerintah juga menilai kemudahan akses terhadap lahan, pembiayaan, dan kepastian pasar menjadi faktor penting untuk mendukung anak muda mengembangkan usaha pertanian.

Menurut Widiastuti, digitalisasi juga dapat membuka akses pasar yang lebih luas sehingga produk pertanian tidak hanya bergantung pada pasar domestik.

"Ini menjadi satu terobosan yang menarik, karena dia bisa membuka pangsa pasar yang bisa diakses lebih global lagi," ucap dia.

Di samping itu, pendidikan, pelatihan, serta keberadaan penyuluh pertanian juga dinilai penting untuk mendukung proses regenerasi petani.

Widiastuti mengatakan, pemerintah turut mendorong penguatan peran penyuluh agar pendampingan dan pengembangan sektor pertanian dapat berjalan lebih terarah.

Ia menyinggung Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2025 terkait penyuluh pertanian, yang mengatur penarikan penyuluh ke pemerintah pusat untuk mendukung kemajuan sektor pertanian.

"Nah, kemarin Pak Menteri Koordinator Bidang Pangan, Pak Zulkifli Hasan sudah menyampaikan di tahun 2025 dengan adanya Inpres 3 tahun 2025 terkait penyuluh, di mana peran penyuluh sesuai dengan inisiator dari kementerian teknis untuk ditarik ke pusat. Nah, jadi supaya satu fokus untuk kemajuan pertanian," pungkasnya.


(hoi/hoi)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Wujudkan Food Security Lewat Agritech, RI Butuh Perbaikan Ini