Prabowo Bakal Resmikan Pabrik Baterai EV Ketiga RI, Ini Pemiliknya
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden RI Prabowo Subianto dikabarkan bakal segera meresmikan pabrik baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) terbaru. Ini merupakan pabrik baterai EV ketiga yang akan beroperasi di Indonesia.
Pabrik ini sejatinya dikelola PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB). Ini merupakan perusahaan patungan antara Indonesia Battery Corporation (IBC) dengan CBL, anak usaha perusahaan asal Tiongkok Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL).
Menteri Koordinator bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan persiapan pabrik itu sudah dilaporkan kepada Presiden Prabowo. Pabrik ini sebelumnya telah menjalani peletakan batu pertama (groundbreaking) pada 29 Juni 2025 lalu.
"Dalam waktu dekat akan diresmikan karena pabriknya sudah mulai produksi," kata Bahlil, usai Rapat Terbatas di Istana Negara, Kamis (29/10/2026).
Bahlil menyebut dengan beroperasinya pabrik CATIB ini maka menambah jumlah pabrik baterai EV yang beroperasi di Indonesia. Sebelumnya telah beroperasi pabrik milik PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power di Karawang, dan REPT Battero Indonesia di Kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, pada Kamis (8/10/2026).
"Dengan demikian, maka sudah ada tiga pabrik baterai mobil kita yang ada di Indonesia. Satu yang punya Hyundai, yang awal 10 Giga, kemudian satunya juga yang kemarin diresmikan di Halmahera ini yang dilakukan oleh investor dari Tiongkok. Yang ketiga CATL, kerja sama dengan Antam yang akan diresmikan oleh Bapak Presiden," kata Bahlil.
Adanya pabrik baru ini akan membuat ekosistem produksi baterai EV semakin terintegrasi mulai dari bidang pertambangan, peleburan (smelter), HPAL, produksi prekursor, katoda, hingga sel baterai (battery cell). Menurut Bahlil tidak banyak negara yang memiliki produksi baterai listrik dari hulu hingga hilir.
"Mungkin tidak banyak negara yang memiliki ini. Nah, ini bagian daripada ikhtiar untuk melakukan hilirisasi, ya," kata Bahlil.
Pabrik Sudah Beroperasi
Sebelumnya, Indonesia Battery Corporation (IBC) sempat mengungkapkan pabrik baterai kendaraan listrik di Karawang milik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat, sudah mulai beroperasi sejak Juli 2026.
PT CATIB merupakan perusahaan patungan antara IBC dan CBL, anak usaha produsen baterai terbesar asal Tiongkok, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL).
Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif mengatakan, fasilitas produksi di Karawang tersebut menghasilkan baterai kendaraan listrik, serta sistem penyimpanan energi (Battery Energy Storage System/BESS).
"Sekarang kondisinya sudah seperti ini, jadi sudah memang sudah beroperasi sejak bulan Juli. Produknya sebagian untuk kendaraan listrik dan sebagian lagi untuk BESS, Battery Energy Storage System," jelasnya dalam kegiatan Sosialisasi MediaMind 2026, di Energy Building, Jakarta, Senin (14/9/2026).
Aditya memaparkan bahwa pabrik tersebut memiliki kapasitas yang direncanakan untuk diperluas hingga mencapai setidaknya 15 Giga Watt jam (GWh). Saat ini tahap pertama sudah dibangun dengan kapasitas 6,9 GWh.
Total investasi untuk pengembangan pabrik baterai hingga kapasitas 15 GWh tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$ 1,2 miliar, setara Rp 21,19 triliun (asumsi kurs Rp 17.662 per US$).
Adapun, kapasitas 15 GWh itu setara dengan kebutuhan daya untuk sekitar 250.000 kendaraan listrik.
Pembangunan pabrik yang berada di kawasan Artha Industrial Hill (ALH) & Karawang New Industry City (NICC), Karawang, Jawa Barat, ini dimulai pada 29 Juni 2025. Prabowo meresmikan peletakan batu pertama saat itu.
Dengan beroperasinya pabrik pada Juli 2026 ini, maka artinya pembangunan pabrik ini "hanya" membutuhkan waktu sekitar 13 bulan.
Ini merupakan pabrik baterai kendaraan listrik kedua setelah pabrik milik PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power di Karawang beroperasi dan diresmikan pada Juli 2024 lalu.
Pabrik baterai terintegrasi CATIB di Karawang tersebut dibangun dalam wilayah yang mencakup pabrik sel sepanjang 1 km serta fasilitas pengemasan di sebelahnya. Dalam proses produksinya, bahan baku baterai diolah menjadi sel sebelum dilakukan pengemasan di fasilitas terkait.
"Jadi yang panjang ini adalah sel, panjangnya 1 km dari ujung sampai ke ujung. Masukan dari pabrik ini adalah bahan baku baterai kemudian diolah, dibentuk menjadi sel, kemudian dilakukan pengemasan di fasilitas terkait," ujarnya.
Dalam menunjang operasional pabrik, IBC telah menjalankan program alih pengetahuan dengan mengirimkan 600 pegawai untuk mengikuti pelatihan di Tiongkok.
Selain itu, sebagai komitmen terhadap aspek lingkungan, IBC berencana memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 18 MWp pada tahun 2027.
Di samping proyek Karawang, IBC bersama CATL juga mengembangkan proyek bahan baku baterai di Halmahera dengan nilai investasi US$ 600 juta atau setara Rp 10,59 triliun.
(pgr/pgr)