Internasional

Gawat! Negara Eropa Ini 'Diserang' Asing, 750 Ribu Warga Jadi Korban

tps, CNBC Indonesia
Jumat, 30/10/2026 06:10 WIB
Foto: Bendera Moldova (AP/Andreea Alexandru)

Jakarta, CNBC Indonesia - Moldova baru saja memanggil Dewan Keamanan Nasional untuk menggelar pertemuan khusus usai sistem informasi pemerintahannya kebobolan. Serangan siber skala besar ini secara membabi buta membidik jutaan data pribadi milik warganya.

Mengutip Manila Times, Kamis (29/10/2026), serangan siber tersebut terjadi antara tanggal 19 hingga 23 Oktober lalu. Insiden peretasan ini dikonfirmasi langsung oleh Badan Pemerintahan Elektronik Moldova (AGE).

Sekitar satu juta nomor identitas pribadi menjadi target dalam upaya ekstraksi data ilegal ini. Pihak AGE mengungkapkan bahwa sekitar 750.000 kumpulan data telah berhasil digasak oleh peretas. Sebagai catatan, total populasi negara Moldova saat ini hanya berkisar di angka 2,4 juta jiwa.


Pihak kepresidenan menyatakan bahwa Presiden Maia Sandu telah mengadakan pertemuan Dewan Keamanan Nasional untuk beberapa hari mendatang. Langkah ini diambil guna menilai dampak kerusakan dari serangan dan menentukan langkah tanggapan yang tepat.

Perdana Menteri Moldova Vasile Tofan pada hari Rabu (28/10/2026) sebelumnya juga telah menyinggung insiden tersebut dalam sebuah rapat pemerintah. Ia mencurigai adanya campur tangan pihak luar dalam kasus ini.

"Ada indikasi kampanye yang lebih luas yang melibatkan aktor negara asing," ucap Tofan.

Kendati demikian, ia tidak merinci negara mana saja yang dicurigai sebagai dalang di balik serangan siber tersebut. Ia hanya menegaskan bahwa proses investigasi sedang berjalan secara menyeluruh.

"Pihak berwenang terkait sedang menyelidiki, termasuk keterlibatan mereka dalam insiden baru-baru ini," tegasnya.

Sebagai buntut insiden ini, Tofan secara resmi telah memecat Direktur AGE, Nicoleta Colomeet. Ia meminta institusi tersebut untuk memberikan penekanan yang jauh lebih besar pada keamanan layanan digital ke depannya.

Sementara itu, pihak AGE merinci bahwa data yang berhasil dicuri meliputi nama, tanggal lahir, status asuransi, hingga informasi kesehatan. Informasi keuangan krusial seperti nomor rekening bank internasional (IBAN) juga ikut bocor.

"Risiko utamanya adalah penggunaan data dalam upaya penipuan dan manipulasi daring."


(tps/tps)
Saksikan video di bawah ini:

Video:Beras Subsidi Diduga Dioplos, Kerugian Negara Diestimasi Rp 89 T