Spanyol Berkabung 3 Hari Usai Tabrakan Kereta Cepat Tewaskan 68 Orang
Jakarta, CNBC Indonesia - Spanyol menetapkan tiga hari berkabung nasional setelah tabrakan dua kereta cepat menewaskan 68 orang dan melukai puluhan lainnya. Kecelakaan yang terjadi pada Rabu (28/10/2026) ini menjadi insiden tabrakan kereta cepat kedua di negara tersebut sepanjang tahun ini, sementara keluarga korban masih berjuang mencari kabar mengenai nasib kerabat mereka.
Kecelakaan melibatkan kereta milik operator negara, Renfe, dan kereta yang dioperasikan perusahaan swasta Iryo. Keduanya melaju searah pada jalur yang menghubungkan Madrid dengan wilayah Andalusia di Spanyol selatan. Setelah kereta Iryo berhenti, kereta lainnya menghantam bagian belakangnya hingga beberapa gerbong keluar dari rel di dekat Kota Urda.
Pejabat setempat menyebutkan sebanyak 107 orang lainnya harus mendapatkan perawatan medis di rumah sakit. Dari jumlah tersebut, 15 orang berada dalam kondisi serius.
Tragedi ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai keamanan jaringan kereta api Spanyol. Menteri Transportasi sebelumnya menyebut adanya "kesalahan" serta "keadaan yang tidak dapat dijelaskan" yang diduga berkaitan dengan kecelakaan tersebut.
Tim penyelamat bekerja sepanjang malam untuk mencari kemungkinan korban lain di antara puing-puing kereta. Menurut laporan AFP, petugas menggunakan alat berat dan derek untuk mengangkat potongan logam yang hancur akibat benturan.
Pemimpin pemerintahan regional Castilla-La Mancha, Emiliano García-Page, mengatakan pada Rabu bahwa jumlah korban tewas berpotensi bertambah. Pasalnya, petugas belum dapat menjangkau bagian bawah gerbong yang mengalami kerusakan.
"Bagian bawah gerbong-gerbong itu masih belum dapat dijangkau," ujarnya.
Untuk membantu proses identifikasi korban, Guardia Civil membuka empat pos layanan di Madrid, Toledo, Córdoba, dan Seville. Keluarga korban dapat menyerahkan sampel DNA guna membantu mengenali jenazah. Sejumlah lokasi donor darah juga didirikan di wilayah Castilla-La Mancha dan Madrid.
Sebuah sekolah di Desa Urda, yang berjarak sekitar 130 kilometer di selatan Madrid, sementara digunakan sebagai tempat bagi keluarga untuk mencari informasi mengenai kerabat mereka. Tim Palang Merah turut memberikan pendampingan kepada keluarga yang datang, beberapa di antaranya terlihat menangis.
Psikolog Palang Merah, Carmen Garcia, mengatakan masa-masa mendatang akan menjadi periode yang berat bagi keluarga korban. Ia memperkirakan proses pendampingan membutuhkan waktu panjang karena setiap orang menghadapi kehilangan dengan cara berbeda.
"Waktu yang panjang dan berat menanti kami, karena setiap orang akan menghadapinya dengan caranya masing-masing," kata Garcia, dilansir The Guardian.
"Ada orang-orang yang masih syok dan belum bisa menerima apa yang terjadi, ada yang marah, sedih, maupun cemas. Proses berduka akan menjadi rumit," lanjutnya.
Kecelakaan terbaru ini terjadi setelah tragedi serupa pada Januari lalu. Saat itu, tabrakan antara kereta Renfe dan Iryo di jalur yang sama, dekat Kota Adamuz di Andalusia, menewaskan 46 orang dan melukai puluhan lainnya.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez menilai dua kecelakaan kereta cepat dalam satu tahun merupakan kejadian yang tidak dapat diterima.
"Tidak dapat diterima bagi negara seperti Spanyol untuk mengalami dua kecelakaan kereta cepat dalam tahun yang sama, seperti yang telah terjadi," kata Sánchez.
Ia menegaskan penyebab kecelakaan terbaru masih dalam penyelidikan. Jika ditemukan kegagalan sistem keselamatan atau kelalaian, pemerintah akan menindaklanjuti kekurangan tersebut dengan tingkat keseriusan tertinggi.
Salah satu korban yang identitasnya telah diumumkan adalah José Manuel Chacón, seorang anggota Guardia Civil berusia 31 tahun. Lembaga penegak hukum nasional Spanyol menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga, teman, dan rekan kerja korban.
Media Spanyol juga melaporkan bahwa sejumlah orang masih dinyatakan hilang. Di antara mereka terdapat mantan menteri dari Partai Rakyat serta beberapa warga negara asing yang diduga sedang berlibur di Spanyol.
Pemimpin oposisi dari Partai Rakyat, Alberto Núñez Feijóo, mendesak agar penyelidikan segera dilakukan. Ia juga meminta peninjauan menyeluruh dan independen terhadap seluruh jaringan kereta api di Spanyol.
"Spanyol berhak mengetahui apa yang sedang terjadi dengan infrastrukturnya," kata Feijóo kepada wartawan.
(luc/luc)