Program Andalan Prabowo Ini Bisa Bikin Industrialisasi RI Bangkit Lagi

Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
Kamis, 29/10/2026 12:37 WIB
Foto: Ilustrasi Nikel (Dok Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai kesuksesan hilirisasi di sektor pertambangan saat ini seharusnya bisa mendorong pertumbuhan industrialisasi di Tanah Air.

Direktur Jenderal (Dirjen) Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, hilirisasi seharusnya dapat mendorong Indonesia kembali mencapai era kejayaan industrialisasi.

Apalagi, lanjutnya, bila mengacu pada sejumlah negara maju, mereka telah melakukan dua hal penting, yaitu memanfaatkan bonus demografi dan melakukan industrialisasi. Menurutnya, tak ada negara maju yang tidak memanfaatkan dua hal ini.


"Nah, poin saya adalah yang pertama berkait dengan industrialisasi, mestinya hilirisasi ini juga dorong untuk menjadikan industrialisasi di negara kita," ungkap Tri dalam acara Coffee Morning CNBC Indonesia bertajuk "Hilirisasi Melaju, Industri Tambang Makin Kuat?", dikutip Kamis (29/10/2026).

"Kemudian yang kedua berkait bonus demografi, ini clear bahwa di negara kita akan mengalami bonus demografi sebetulnya mulai dari 2021 sampai 2040, di mana diperkirakan tahun 2030 usia produktif di negara kita itu hampir 70%. Apabila itu tidak didukung atau didukung industri yang kuat, di mana tenaga kerja akhirnya nanti menjadi pengangguran, maka itu akan bukan menjadi bonus demografi, lalu malah menjadi demografi itu akan menjadi beban sendiri bagi suatu negara," tuturnya.

"Jadi memang kalau misalnya kita mau mencapai industrialisasi, kalau kita balik ke cita-cita kita untuk menjadi negara yang bisa maju, memang langkah mestinya ini kita sepakati bersama, bahwa hilirisasi ini adalah langkah yang harus kita tempuh, karena negara maju itu melakukan industrialisasi," imbuhnya.

Tri menjelaskan, pentingnya hilirisasi karena bagaimana pun usia tambang cenderung pendek, jumlah cadangannya cenderung terbatas, sehingga harus benar-benar dimanfaatkan demi kemakmuran masyarakat Indonesia.

Dengan hilirisasi, maka pemanfaatan tambang bisa menjadi lebih optimal.

"Kita tahu bahwa tambang itu umurnya lebih pendek, kita tidak boleh menyia-nyiakan, dan itu harus kita lakukan bagaimana cara untuk kita mendapatkan hasil yang optimal dari industri tambang itu. Salah satunya adalah melalui hilirisasi," terang Tri.

Meski untuk komoditas nikel sudah menunjukkan kemajuan, namun dia mengakui masih ada tantangan untuk hilirisasi pada komoditas lain, seperti bauksit maupun timah.

"Memang kalau kita lihat, kalau 2 tahun industrialisasi, saya rasa sudah cukup berkembang dengan baik di sisi hilirisasi, meskipun ada beberapa produk yang belum sampai ke hilir. Jadi maksudnya kalau saya katakanlah dari teman-teman bauksit, misalnya belum sampai alumina, belum sampai aluminium, bahkan misalnya alumina belum sampai aluminium, aluminium belum sampai kepada produk akhir. Contoh juga misalnya industri timah. Industri timah ini 95% diekspor. Jadi dia hanya 5% di antaranya untuk konsumsi di dalam negeri," paparnya.

Dengan adanya hilirisasi, maka industri akan lebih berfokus pada produk hilir atau end product dari pertambangan, sehingga dampak ganda (multiplier effect) akan lebih dirasakan oleh masyarakat.

"Ini yang mesti kita mulai berpikir lagi, bagaimana cara industri ini menjadi lebih hilir sekali. Sampai kepada end product, di mana end product itu, sampai turunan yang lain, di mana dari end product ini, akan menghasilkan beberapa multiplier effect yang akan menambah kekuatan terhadap bonus demografi yang akan terjadi di kita di tahun 2030," tandasnya.

Seperti diketahui, salah satu program andalan Presiden Prabowo Subianto yaitu hilirisasi, baik di sektor pertambangan, pertanian, perkebunan, hingga perikanan dan kelautan.


(wia)
Saksikan video di bawah ini:

ESDM Usut Perusahaan Asing Pemilik Kebun Sawit Jalankan Usaha Tambang