Menlu Singapura Buka Suara soal Gas RI Usai Bertemu Prabowo, Sebut Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Luar Negeri (Menlu) Singapura Vivian Balakrishnan memberikan pernyataan pers ke sejumlah wartawan Singapura di sela-sela kunjungannya ke Jakarta. Melalui transkrip wawancara yang dipublikasikan Kementerian Luar Negeri Singapura (MOFA), ia mengomentari pemangkasan ekspor gas yang dilakukan RI.
Kala itu ia mendapat pertanyaan dari jurnalis The Straits Times dan Channel News Asia (CNA). Ia tidak merinci langsung update dari kunjungannya secara rinci, termasuk pertemuan dengan Presiden RI Prabowo Subianto, meski menegaskan komitmen atas kontrak yang sudah dibuat.
"Saya ingin menekankan bahwa Indonesia, Malaysia, dan Brunei adalah negara-negara tetangga terdekat kami, dan akan selalu menjadi tetangga kami," ujarnya menjawab pertanyaan dari laman The Strait Times, dilihat CNBC Indonesia di website resmi MOFA, Kamis (29/10/2026).
"Kita akan selalu saling bergantung satu sama lain," tambahnya.
Ia menambahkan bagaimana dari pernyataan PM Singapura Lawrence Wong sampai menteri-menteri RI, ada komitmen bersama untuk menghormati dan menjaga kepastian kontrak. Hal itu, menurutnya, merupakan hal baik.
"Semua pihak memahami alasan tanda tangan dan kewajiban kontraktual harus dihormati," jelasnya ke wartawan CNA.
"Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan satu isu tertentu, tetapi juga menyangkut kredibilitas dan daya saing perekonomian kedua negara. Saya menyambut baik hal tersebut," tambahnya.
Ia juga meminta semua pihak memperhatikan tindakan, bukan hanya kata-kata.
"Berdasarkan pengalaman saya selama beberapa dekade, secara umum negara-negara di kawasan kita menjalankan hubungan berdasarkan kontrak," tambahnya.
"Kontrak memiliki arti penting dan prinsip penghormatan terhadap kontrak dijaga. Hal ini sangat penting," ujarnya lagi.
Terkait ketahanan energi Singapura ke depan, ia pun membeberkan bagaimana pemerintah sudah menyiapkan terminal gas alam cair (liquefied natural gas/LNG). Termasuk mendiversifikasi sumber pasokan.
"Dengan demikian, kami menghadapi situasi ini dari posisi yang kuat," tegasnya.
Satuan Tugas Bersama Kabut Asap
Sementara itu, ia juga menjawab kelanjutan Satuan Tugas Bersama RI-Singapura untuk menangani kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Tapi dikatakannya, ia belum bisa memberikan perincian mengenai komposisi dan susunan personel satuan tugas itu.
"Namun, kerangka acuan tugasnya mencakup penanganan persoalan ini, pertukaran informasi, serta memfasilitasi pekerjaan masing-masing otoritas di wilayah yurisdiksi mereka," ujarnya.
"Itulah unsur-unsur utamanya. Dengan adanya komitmen di tingkat senior dari kedua negara, kami akan memastikan hal ini diselesaikan dengan cepat, tepat waktu, dan efektif," jelasnya.
(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]