Sebut Barat "Penjajah", Putin Janjikan Ini ke Para Pemimpin Afrika
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut negaranya sebagai mitra terbaik bagi kawasan Afrika. Ia secara blak-blakan menuduh negara-negara Barat sebagai penjajah yang mengeksploitasi sumber daya dan menggunakan jerat utang untuk menahan laju pembangunan benua tersebut.
Mengutip Reuters, Kamis (29/10/2026), pernyataan tersebut disampaikan Putin pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Rusia-Afrika ketiga di Moskow. Acara yang berlangsung selama dua hari ini dihadiri oleh delegasi dari 48 negara, termasuk 22 pemimpin Afrika secara langsung.
Putin dijadwalkan akan mengadakan pembicaraan empat mata dengan banyak pemimpin Afrika tersebut. Mereka akan membahas berbagai isu strategis, mulai dari urusan perdagangan, keamanan, senjata, hingga pasokan biji-bijian.
Rusia tercatat telah memasok 13 juta metrik ton produk pertanian ke Afrika dalam sembilan bulan pertama tahun ini. Selain itu, Putin menyebutkan bahwa ada sekitar 40.000 warga Afrika yang kini sedang menempuh pendidikan di berbagai universitas di Rusia.
"Afrika semakin menegaskan dirinya sebagai salah satu pemain kunci dalam ekonomi dan politik global," ujar Putin.
Putin menyebut kemunculan dunia multipolar ini menghadapi perlawanan dari negara-negara yang belum siap menerima kenyataan tersebut. Ia juga menyoroti upaya aktif negara Barat untuk menjerat kembali Afrika ke dalam belenggu utang dengan syarat pembiayaan yang mencekik.
"Mereka yang terbiasa berpikir dalam kerangka masa lalu kolonial mereka dan memperkaya diri mereka sendiri secara luar biasa."Â
Sebagai gantinya, Putin berjanji akan membagikan pengetahuan Rusia, termasuk di bidang digital, serta melokalkan produksi di Afrika. Langkah ini diklaim tak sekadar membeli bahan mentah, melainkan menciptakan lapangan kerja dan menghasilkan pendapatan pajak bagi negara setempat.
"Saya juga ingin emperjuangkan agar Afrika memiliki pengaruh yang lebih besar di tubuh IMF dan Bank Dunia. Rusia untuk memulai proyek infrastruktur bersama serta memasok lebih banyak pupuk ke lebih banyak negara Afrika," ungkapnya.
Langkah strategis ini merupakan bagian dari dorongan terpadu untuk memperluas pengaruh politik, ekonomi, dan militer Rusia di kawasan Afrika. Upaya merayu negara di Selatan Global ini juga menjadi strategi Moskow untuk mengimbangi tekanan dari Barat terkait perang di Ukraina.
Pemerintah Barat menuduh pasukan paramiliter Rusia, seperti Korps Afrika, telah menopang junta militer di negara seperti Mali untuk menyingkirkan pengaruh Prancis. Namun, Moskow dengan tegas menolak seluruh tuduhan yang diarahkan kepada mereka tersebut.
Perdana Menteri Burkina Faso, Rimtalba Jean Emmanuel Ouedraogo, justru memuji kerja sama negaranya dengan Rusia yang dinilai transparan dan tidak berusaha menghapus budaya lokal.
"Ini benar-benar berbeda dari apa yang kita miliki dengan Prancis yang imperialis," paparnya kepada stasiun televisi pemerintah Rusia, RT.
(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]