Amran Sidak ke Matraman, Bongkar Rumah Diduga Tempat Oplos Beras SPHP

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Rabu, 28/10/2026 12:15 WIB
Foto: Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman saat menyidak jalan Kayu Manis 10, Jakarta Timur, Rabu (28/10/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman menyidak sebuah kediaman yang diduga menjadi tempat pengoplosan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) menjadi beras premium di kawasan Kayu Manis, Matraman, Jakarta Timur, Rabu (28/10/2026).

Amran tiba di lokasi sekitar pukul 11.12 WIB. Setibanya di depan rumah tersebut, ia langsung meminta gerbang dibuka untuk melihat langsung aktivitas dan barang bukti yang ditemukan di dalamnya.

Di lokasi, terlihat sejumlah karung beras putih menumpuk. Ditemukan juga karung beras SPHP tampak telah dibongkar, sementara kemasan beras berserakan di lantai.


Amran kemudian memeriksa beras yang berada di lokasi bersama aparat kepolisian. Ia juga melihat sejumlah karung beras yang dibawa menggunakan truk. Beras tersebut diduga telah dikemas ulang untuk dipasarkan sebagai beras premium.

"Ini dia oplos, ya," kata Amran saat memeriksa lokasi.

Amran mengatakan, beras SPHP yang seharusnya dijual dengan harga Rp12.500 per kilogram (kg) diduga diubah kemasannya dan dipasarkan sebagai beras premium dengan harga Rp17.000 per kg.

"SPHP yang disubsidi pemerintah. Harusnya harganya ini Rp12.500 (per kg), dijual Rp17.000 (per kg), dioplos," ujarnya.

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman saat menyidak jalan Kayu Manis 10, Jakarta Timur, Rabu (28/10/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman saat menyidak jalan Kayu Manis 10, Jakarta Timur, Rabu (28/10/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Amran menyebut laporan awal yang diterimanya menunjukkan temuan beras mencapai 600 ton. Ia menduga jumlah beras yang telah dioplos dalam jaringan tersebut bisa mencapai ribuan ton.

"Ini laporannya tadi saya terima 600 ton. Tapi ini yang sekarang. Berarti sudah ribuan ton ini," ucap Amran.

Ia juga mengungkapkan beras SPHP tersebut diduga berasal dari gudang Bulog di kawasan Kelapa Gading. Meski demikian, Amran menegaskan keterlibatan pihak lain, termasuk pegawai Bulog, masih harus didalami oleh kepolisian.

"Ya dari gudang yang di Kelapa Gading. Ini untuk sementara. Tapi tidak menutup kemungkinan ada terjadi di tempat lain," ujarnya.

Amran meminta kepolisian mengusut kasus tersebut hingga ke jaringan yang lebih luas. Ia menegaskan pihak yang terbukti terlibat harus ditindak tegas, termasuk apabila ditemukan keterlibatan pegawai instansi pemerintah.

Ia menilai praktik pengoplosan tersebut merugikan masyarakat karena beras SPHP merupakan beras bersubsidi yang ditujukan untuk menjaga keterjangkauan harga pangan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Menurut Amran, kepolisian telah mengamankan pelaku. Namun, ia meminta proses penyelidikan terus dilanjutkan untuk mengungkap seluruh pihak yang terlibat, termasuk jalur distribusi beras yang diduga telah dipasarkan sebagai beras premium.

"Sudah ditangkap. Sudah ditangkap. Tetapi kita kalau ini bisa dibongkar sampai akar-akarnya," tegasnya.


(wur/wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bulog Serap Telur Rp 30 Miliar