CLOSE AD
MARKET DATA

Kabar Baik! Arab Akan Kirim 30 Juta Barel Minyak ke RI

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia
27 October 2026 19:30
Pemandangan dari drone kapal tanker minyak HELGA yang berlabuh di salah satu terminal minyak lepas pantai selatan Irak dekat Basra, saat bersiap memuat minyak mentah, 24 April 2026. REUTERS/Mohammed Aty/File Photo
Foto: REUTERS/Mohammed Aty

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Arab dikabarkan akan mengirimkan 30 juta barel minyak ke Indonesia.

Hal ini diungkapkan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto setelah dirinya mendampingi Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bertemu dengan Duta Besar Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) bersama Presiden Direktur Mubadala di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (27/10/2026).

"Saya mohon maaf agak sedikit terlambat karena tadi menerima, mendampingi Pak Menteri, menerima Duta Besar Abu Dhabi bersama Presiden Direktur Mubadala yang juga melaporkan salah satunya untuk FID dari proyek gas di Andaman, di Aceh, dan juga melaporkan bahwa Duta Besar Abu Dhabi menyampaikan bahwa Pemerintahan Arab segera akan mengirim minyaknya ke Indonesia sampai dengan 30 juta barel, tanpa biaya, tanpa working capital, termasuk free kapalnya. Ini suatu kabar yang bagus juga buat kita," tutur Djoko saat pidato pada acara seremoni selesainya keseluruhan kegiatan FEED proyek LNG Abadi Inpex Masela Ltd di Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Seperti diketahui, Indonesia masih mengimpor minyak mentah. Dari kebutuhan sekitar 1 juta barel per hari (bph), produksi minyak mentah dari lapangan di dalam negeri masih di bawah 600.000 bph. Artinya, Indonesia masih mengimpor minyak sekitar 500.000 bph.

Namun, sejak tensi geopolitik di Timur Tengah memanas sejak akhir Februari 2026 yang berimbas pada penutupan Selat Hormuz, berdampak pada berkurangnya pasokan minyak mentah RI sekitar 20%-25%.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pun sempat menjelaskan bahwa impor minyak mentah Indonesia berasal dari berbagai negara. Adapun, pasokan minyak mentah yang diimpor antara lain berasal dari Afrika, Angola, kawasan Timur Tengah, Amerika Serikat, Brasil, Australia, serta sejumlah negara lainnya.

"Berapa total yang kita impor dari Middle East untuk crude? Itu totalnya 20 sampai 25 persen. Dari total kebutuhan nasional kita, kita impor crude dari Middle East itu 20 sampai 25 persen," kata Bahlil dalam acara Podcast Bukan Abuleke, Rabu (11/3/2026).

Bahlil mengungkapkan pemerintah berencana mengalihkan sebagian pasokan impor minyak mentah ke sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Angola, beberapa negara di Afrika, serta kawasan Amerika Latin.

"Di mana itu? Yaitu di Amerika, di Angola, apalagi di beberapa negara di Afrika itu, Amerika Latin, di Afrika itu, sebagian punya Pertamina. Jadi itu yang kita geser. Jadi sekalipun Selat Hormuz ditutup, untuk kita punya 20 sampai 25% itu sudah kita alihkan ke negara lain," ujarnya.

Keliling ke India-China

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pun menyebut akan melakukan kunjungan kerja ke China dan India dalam waktu dekat ini untuk mencari tambahan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM), termasuk untuk jenis Pertalite (RON 90).

Hal ini diungkap Bahlil dalam konferensi pers di kantor Kementerian ESDM pada Senin (26/10/2026).

"Saya akan berangkat ke beberapa negara, termasuk India dan China untuk mendapatkan kepastian pasokan BBM ke depan," kata Bahlil.

Langkah diplomatik ini diambil sebagai upaya pemerintah untuk menjamin pasokan energi dalam negeri tetap aman di tengah dinamika pasar global.

Bahlil juga meminta masyarakat agar tidak khawatir mengenai ketersediaan BBM nasional. Ia menegaskan bahwa stok BBM dalam negeri saat ini masih dalam batas yang sangat aman menurut standar regional.

"Saya jamin bahwa cadangan BBM kita dalam standar minimum nasional dan harga untuk BBM subsidi (Pertalite) tidak akan naik," terang Bahlil.

Selain itu, pemerintah juga berupaya mengamankan kontrak jangka panjang untuk menjaga ketersediaan pasokan energi nasional, termasuk LPG saat ketidakpastian geopolitik masih tinggi dan mempengaruhi rantai pasok energi.

"Saya juga perintahkan untuk mencari kontrak panjang agar pasokan BBM di dalam negeri aman," tegas Bahlil.

(wia) [Gambas:Video CNBC]
Next Article RI Patok Lifting Minyak 612.500 Barel di 2027, Waspada Gangguan Ini


Most Popular
Features