Internasional

Perang Saudara Makin Brutal, 3 Negara Bagian Blackout

tfa, CNBC Indonesia
Selasa, 27/10/2026 14:35 WIB
Foto: Reruntuhan sisa kebakaran di pasar Alneam akibat serangan pesawat nirawak (drone) di sebuah pasar di wilayah sengketa Abyei, yang terletak di sepanjang perbatasan antara Sudan Selatan dan Sudan, 20 Oktober 2026. (via REUTERS/Obtained by Reuters)

Jakarta, CNBC Indonesia -Serangan drone kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) menghantam lima pembangkit listrik di Sudan pada Senin (26/10/2026), menyebabkan pemadaman listrik di sebagian besar wilayah di tiga negara bagian.

Di tengah perang berkepanjangan dan krisis kelaparan, pemadaman tersebut mengancam pemenuhan kebutuhan dasar warga, mulai dari pasokan air hingga penyimpanan obat-obatan yang membutuhkan suhu dingin.

Mengutip AFP, seorang pejabat pemerintah Sudan mengatakan drone RSF menyerang dua pembangkit listrik di negara bagian Al-Jazira, dua di Gedaref, dan satu di White Nile.


"Serangan itu mengakibatkan pemadaman listrik di sebagian besar wilayah di ketiga negara bagian tersebut," kata pejabat yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Ketiga negara bagian itu berada di bawah kendali tentara Sudan, yang sejak April 2023 berperang melawan RSF, bekas sekutunya. Konflik tersebut telah menghancurkan infrastruktur dan memperburuk kondisi kehidupan masyarakat.

Dampak pemadaman langsung dirasakan warga. Babiker Youssef, penduduk Al-Fao di negara bagian Gedaref, mengatakan listrik di wilayahnya padam sejak pukul 02.00 waktu setempat.

"Putra saya menderita diabetes, insulinnya harus disimpan di dalam lemari pendingin," ujarnya. Ia khawatir obat tersebut rusak akibat pemadaman listrik.

Youssef mengatakan dirinya tidak mengetahui kapan pasokan listrik akan kembali normal. "Kami tidak tahu kapan listrik akan kembali menyala," katanya.

Pemadaman berkepanjangan berisiko mengganggu penyimpanan obat-obatan, operasional layanan kesehatan, pasokan air, serta pemenuhan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berulang kali memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur kelistrikan dapat mengancam layanan kesehatan dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Sudan sendiri tengah menghadapi salah satu krisis kelaparan terbesar di dunia. Hampir 20 juta orang dilaporkan mengalami kelaparan ekstrem, sementara konflik yang berlangsung sejak 2023 terus memperburuk krisis kemanusiaan.

Gangguan listrik berkepanjangan bukan hal baru di Sudan. Serangan drone terhadap pembangkit listrik dan bendungan pembangkit listrik tenaga air sebelumnya juga berulang kali mengganggu pasokan energi, menambah beban masyarakat yang telah terdampak perang dan krisis kemanusiaan.

Media lokal di Al-Jazira juga melaporkan bahwa pasokan listrik di wilayah tersebut telah terputus sejak pukul 02.00 waktu setempat. Hingga laporan tersebut disampaikan, belum ada kepastian mengenai waktu pemulihan pasokan listrik di wilayah terdampak.


(tfa/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Serangan Houthi Ganggu Penerbangan Riyadh, 4.071 Penerbangan Batal