Xi Jinping Kumpulkan Elite Partai Komunis, Tentukan Masa Depan China
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden China Xi Jinping membuka pertemuan penting para elite Partai Komunis China di Beijing pada Senin (26/10/2026). Pertemuan yang berlangsung tertutup ini menjadi sorotan karena dinilai dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan negara tersebut sekaligus peta kepemimpinan China ke depan.
Kantor berita Xinhua, sebagaimana diberitakan kembali oleh AFP, sekitar 300 anggota Komite Sentral Partai Komunis China menghadiri pertemuan yang dikenal sebagai sidang pleno kelima. Salah satu agenda utamanya adalah memperketat disiplin internal partai, termasuk menekan korupsi serta meningkatkan efektivitas dan loyalitas para pejabat.
Xi membuka sidang dengan menyampaikan rancangan keputusan Komite Sentral yang "menguraikan rencana strategis untuk memperkuat tata kelola mandiri Partai secara menyeluruh dan ketat".
Pertemuan tersebut digelar dengan pengamanan ketat dan berlangsung di balik pintu tertutup. Rincian pembahasan diperkirakan baru akan diketahui setelah sidang berakhir pada Kamis (29/10/2026).
Waktu pelaksanaan sidang ini menjadi penting karena berlangsung menjelang kongres besar Partai Komunis China tahun depan. Dalam kongres tersebut, Xi yang kini berusia 73 tahun hampir dipastikan mengamankan masa jabatan keempat yang bersejarah sekaligus mengawasi perombakan jajaran kepemimpinan.
Sidang pleno sebelumnya juga kerap menjadi momentum bagi Xi untuk semakin mengukuhkan kekuasaannya.
Selama 14 tahun terakhir, Xi menjalankan kampanye pemberantasan korupsi yang telah menyingkirkan ribuan pejabat, termasuk puluhan anggota Komite Sentral. Meski demikian, ia masih menghadapi persoalan dengan sejumlah kader yang dinilai tidak menjalankan instruksinya secara maksimal.
Menjelang sidang pleno, media pemerintah menerbitkan artikel yang merujuk pada pidato Xi pada Januari lalu. Dalam pidato itu, Xi mengkritik pejabat bermuka dua yang terlihat mematuhi arahan pemerintah pusat, tetapi secara diam-diam "menentang dari dalam", mengedepankan "individualisme", dan bersikap "oportunistis secara politik".
Sejumlah analis mengatakan kepada AFP bahwa Xi berupaya meningkatkan efektivitas dan loyalitas kader melalui pengawasan yang lebih ketat serta penerapan aturan tambahan.
Namun, gelombang penyingkiran pejabat dalam kampanye antikorupsi tersebut diperkirakan berdampak pada jumlah peserta sidang tahun ini. Kehadiran anggota Komite Sentral diprediksi menjadi yang terendah sejak kematian pemimpin China Mao Zedong pada 1976.
Saat ini, delapan kursi di Komite Sentral masih kosong. Sementara itu, 15 anggota lainnya sedang diselidiki dan berisiko digantikan.
Kampanye antikorupsi Xi juga menyasar militer. Lima dari tujuh anggota Komisi Militer Pusat (CMC), lembaga tertinggi partai yang mengendalikan angkatan bersenjata, telah disingkirkan dari jabatannya.
Asia Society Policy Institute mencatat dari 44 anggota militer yang ditunjuk masuk Komite Sentral pada 2022, hanya dua orang yang tidak disingkirkan atau menghilang dari publik.
Sidang pleno kali ini berpotensi menghasilkan penunjukan anggota baru untuk mengisi jajaran CMC. Namun, Partai Komunis China juga dapat menunda pengisian posisi tersebut hingga kongres tahun depan. Pilihan lainnya, Xi merombak struktur kendali partai atas militer China yang sangat besar.
Pertemuan ini berlangsung ketika ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut masih menghadapi sejumlah tekanan. Belanja domestik belum menunjukkan pemulihan yang kuat, sementara krisis berkepanjangan di sektor properti terus membebani perekonomian.
Hubungan politik dan ekonomi China dengan Amerika Serikat yang bergejolak turut menjadi tantangan bagi para pemimpin di Beijing.
Â
(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]