Tiap 1000 Penduduk RI, Baru yang Punya Mobil 99 Orang, Anda Termasuk?
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri otomotif Indonesia berupaya keluar dari jebakan penjualan di bawah 1 juta unit per tahun. Peningkatan daya beli masyarakat dan kebijakan yang mampu mendorong permintaan menjadi faktor penting untuk mengembalikan pasar otomotif ke level tersebut.
Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto menempatkan pertumbuhan permintaan sebagai kunci perkembangan industri. Pasar yang lebih besar akan membuka peluang bagi produsen untuk meningkatkan investasi, memperluas produksi, hingga menghadirkan lebih banyak model kendaraan di Indonesia.
"Kalau saya bisa, Gaikindo ini bisa meningkatkan angka itu menjadi 1 juta, 1,1 juta, 1,2 juta, wah masuk itu semua investasi baru. Baik produsen merek yang lama akan menambah investasinya maupun yang baru akan masuk," ujar Jongkie kepada CNBC Indonesia, Senin (26/9/26).
Pasar otomotif domestik memiliki basis konsumen yang besar, tetapi tingkat kepemilikan mobil masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara tetangga. Kondisi ini menyisakan ruang pertumbuhan bagi industri, terutama jika harga kendaraan semakin sesuai dengan kemampuan masyarakat.
Jongkie memaparkan, jumlah kendaraan yang dimiliki masyarakat Indonesia masih jauh di bawah Malaysia dan Thailand. Perbandingan tersebut memperlihatkan besarnya potensi pasar yang belum tergarap.
"Statistik mengatakan di Indonesia itu hanya 99 mobil per 1.000 orang. Di Malaysia itu 475, sedangkan di Thailand sekitar 275 mobil," katanya.
Perluasan pasar tidak hanya bergantung pada penambahan model kendaraan. Kemampuan konsumen untuk membeli mobil juga menentukan seberapa jauh industri dapat meningkatkan penjualan, termasuk melalui pilihan kendaraan dengan teknologi elektrifikasi yang lebih beragam.
Jongkie menilai, perubahan kecil dalam tingkat kepemilikan mobil nasional pun dapat menghasilkan tambahan permintaan dalam jumlah besar. Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 280 juta orang, kenaikan rasio kepemilikan kendaraan memiliki dampak signifikan terhadap kebutuhan produksi.
"Kalau andai kata itu bisa meningkat satu saja jadi 100 mobil per 1.000 orang, itu hitungannya berapa saya mesti atau saya jual mobil tambahan? 280.000. Karena rakyat kami kan 280 juta," ujar Jongkie.
Dampak pertumbuhan otomotif juga menjangkau sektor lain di luar pabrik perakitan kendaraan. Ekosistem industri ini mencakup perusahaan komponen, pembiayaan, asuransi, dealer, tenaga penjualan, hingga bengkel yang bergantung pada aktivitas pasar kendaraan.
Besarnya ekosistem tersebut membuat peningkatan penjualan berpotensi menciptakan efek berantai terhadap lapangan kerja. Pertumbuhan pasar domestik menjadi penting untuk menjaga aktivitas industri sekaligus memperluas kesempatan kerja.
"Industri otomotif ini sangat kompleks dalam arti kata luas sekali. Dan yang terlibat di dalam usaha atau bisnis otomotif itu kira-kira total ada 1,5 juta orang," kata Jongkie.
Gaikindo memperkirakan penjualan mobil nasional sepanjang 2026 dapat mencapai 850.000 unit. Target tersebut menjadi pijakan sebelum industri mengejar angka yang lebih tinggi, dengan tetap memperhitungkan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi.
"Makin banyak penjualan otomotif, makin banyak pula lowongan lapangan kerja yang bisa kita ciptakan," ujarnya.
(hoi/hoi) [Gambas:Video CNBC]