Pengusaha Bongkar Alasan Mobil Hybrid-REEV Layak Dapat Insentif
Jakarta, CNBC Indonesia - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mendorong pemerintah memperluas insentif kendaraan listrik, tidak hanya untuk mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV), tetapi juga mobil hybrid, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), dan range extender electric vehicle (REEV). Langkah ini dinilai penting untuk mempercepat elektrifikasi kendaraan sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto menilai mobil hybrid memiliki sejumlah keunggulan yang layak dipertimbangkan dalam penyusunan kebijakan insentif. Salah satunya berkaitan dengan konsumsi bahan bakar yang lebih hemat dibandingkan mobil konvensional.
"Yang pertama, mobil hybrid ini sudah hemat bahan bakar. Karena mesin ICE-nya itu jarang jalan atau mesin bensinnya jarang hidup," ujar Jongkie kepada CNBC Indonesia, Senin (26/9/26).
Selain konsumsi bahan bakar, tingkat emisi menjadi pertimbangan berikutnya. Penggunaan motor listrik dalam sistem penggerak hybrid memungkinkan mesin bensin tidak selalu bekerja, sehingga konsumsi bahan bakar dan emisi dapat ditekan dalam kondisi berkendara tertentu.
"Kalau mesin bensinnya jarang jalan, jarang hidup, otomatis polusinya juga rendah," katanya.
Ketersediaan infrastruktur pengisian daya juga menjadi tantangan dalam pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Pembangunan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) belum merata di seluruh wilayah, sementara penggunaan mobil tidak hanya terkonsentrasi di Jakarta dan kota-kota besar.
"Yang ketiga, mobil hybrid, plug-in hybrid, REEV tidak memerlukan charging station, SPKLU yang terus terang saja masih kurang jumlahnya di Indonesia ini. Jadi, kita jangan hanya melihat Jakarta, kita harus melihatnya secara keseluruhan, Indonesia," ujar Jongkie.
Faktor harga juga menjadi pertimbangan penting bagi konsumen. Kapasitas baterai mobil listrik murni umumnya lebih besar dibandingkan kendaraan hybrid, sedangkan baterai yang lebih kecil pada sebagian kendaraan elektrifikasi dapat membantu menekan biaya produksi kendaraan.
"Mobil-mobil ini harganya lebih terjangkau dibanding BEV, full BEV. Karena baterai mobil BEV itu kapasitasnya besar. Nah, ini kan yang paling mahal dari sebuah mobil listrik itu baterainya," kata Jongkie.
Selain konsumen, keberlangsungan industri komponen dalam negeri turut menjadi pertimbangan. Kendaraan hybrid masih menggunakan sejumlah komponen yang lazim ditemukan pada mobil bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE), sehingga rantai pasok komponen yang sudah berkembang di Indonesia tetap memiliki pasar.
"Mobil-mobil hybrid, plug-in hybrid, REEV ini masih memakai komponen mobil ICE. Contoh, knalpot, exhaust system dia masih pakai, filter dia masih pakai, radiator dia masih pakai," ujarnya.
Meski demikian, Gaikindo tidak mengusulkan agar seluruh jenis kendaraan elektrifikasi mendapatkan perlakuan yang sama. Skema insentif perlu disesuaikan dengan karakteristik teknologi, kemampuan fiskal pemerintah, serta kebutuhan pendapatan pemerintah daerah.
"Kami mengatakan tidak perlu sebanyak atau sebesar BEV, tapi kalau boleh dan kalau bisa ini juga diberikan insentif," kata Jongkie.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) M Sarmuji mengusulkan insentif nonfiskal tersebut untuk mendorong penggunaan kendaraan berteknologi elektrifikasi di Indonesia. Pemilik mobil hybrid, plug-in hybrid, dan Range Extended Electric Vehicle (REEV) berpeluang menikmati fasilitas bebas ganjil genap hingga parkir khusus.
"Kalau full battery selama ini sudah ada insentif yang memadai, baik berkaitan dengan administrasi maupun ganjil genap. Sementara yang plug-in hybrid dan REEV itu akan dirumuskan (penambahan) insentifnya," katanya.
Dia menilai, perluasan insentif dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat, sekaligus mendukung upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional. Penggunaan kendaraan dengan kombinasi teknologi mesin konvensional dan penggerak listrik dinilai dapat membantu menekan konsumsi BBM.
"Menurut saya ini sesuatu yang sangat strategis karena dengan memproduksi dan kemudian memasarkan secara lebih masif dua jenis kendaraan itu, akan berdampak pada penghematan BBM kita, khususnya BBM bersubsidi. Di samping juga pasti akan berakibat pada menurunnya emisi," tutur dia.
(fys/wur)