Ancaman Houthi Menggila, AS Evakuasi Staf Pemerintah dari Arab Saudi
Jakarta, CNBC Indonesia - Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Arab Saudi secara resmi mengeluarkan peringatan keras pada hari Minggu terkait eskalasi ancaman keamanan dari kelompok Houthi asal Yaman. Peringatan ini muncul bertepatan dengan pembukaan kembali sebagian operasional bandara utama di ibu kota Riyadh pascaserangan rudal dan pesawat nirawak (drone) yang terjadi secara bertubi-tubi.
Mengutip Anadolu Agency, Minggu (25/10/2026), Departemen Luar Negeri AS dalam peringatan keamanan terbarunya telah memerintahkan para pegawai pemerintah non-darurat beserta keluarga mereka untuk segera meninggalkan Arab Saudi. Perintah evakuasi yang dipicu oleh meningkatnya risiko keselamatan ini berlaku efektif sejak tanggal 23 Oktober lalu, meskipun pengumuman publik perdananya baru disampaikan pada hari Rabu.
"Houthi yang didukung Iran telah terlibat dalam permusuhan terhadap Arab Saudi, termasuk serangan terhadap bandara sipil dan infrastruktur penting lainnya yang mengakibatkan jatuhnya korban sipil dan gangguan perjalanan yang parah," ungkap pihak kedutaan.
Kelompok Houthi, yang telah menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, dan wilayah sekitarnya sejak tahun 2014 silam, diketahui kembali melanjutkan pertempuran dengan pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi pada bulan Juli usai gencatan senjata tahun 2022 runtuh. Selain menyasar sektor penerbangan sipil, kelompok bersenjata ini juga secara agresif menargetkan berbagai fasilitas situs energi penting milik Arab Saudi.
"Permusuhan tersebut memiliki potensi untuk meningkat dengan cepat melampaui area terdekatnya," tegas peringatan misi AS tersebut.
Meskipun Bandara Internasional King Khalid di Riyadh telah kembali dibuka sebagian pada hari Minggu untuk penerbangan domestik dan beberapa layanan internasional yang dioperasikan oleh maskapai lokal, AS tetap mewanti-wanti warganya.
Kedutaan memperingatkan tentang kemungkinan adanya serangan lanjutan, penutupan wilayah udara, hingga pembatalan jadwal penerbangan, serta mendesak penerapan kehati-hatian tingkat ekstrem saat menggunakan bandara mana pun di seluruh penjuru kerajaan.
Buntut dari situasi yang semakin mencekam ini, seluruh personel pemerintah AS kini diwajibkan memiliki izin khusus untuk sekadar menggunakan fasilitas bandara di Arab Saudi. Di sisi lain, Houthi juga telah memperbarui ancaman mereka terhadap bandara Riyadh dengan memberi peringatan keras bahwa fasilitas vital tersebut tetap menjadi target militer yang sah terlepas dari pembukaan kembali secara parsial.
Sebagai catatan, bandara Riyadh sebelumnya terpaksa menangguhkan seluruh operasionalnya menyusul serangan brutal Houthi pada 10 Oktober lalu yang menewaskan 13 orang dan melukai ratusan korban lainnya. Ketegangan ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda, mengingat otoritas Arab Saudi kembali harus mencegat rudal dan kawanan drone tambahan pada hari Minggu seiring berlanjutnya pertempuran sengit dengan pemberontak Houthi.
(tps/luc)