Armada Milisi China Siap Siaga Usai Kapal Ikannya Diusir Taiwan
Jakarta, CNBC Indonesia - Penjaga Pantai Taiwan mengungkapkan, China tengah menggabungkan armada kapal milisi dengan kapal penjaga pantainya untuk memperluas persiapan medan tempur di sekitar Taiwan hingga ke Pasifik Barat. Operasi agresif tersebut secara langsung turut memberikan tekanan besar bagi keamanan Jepang dan Filipina.
Mengutip Reuters, Sabtu (24/10/2026), peringatan ini muncul sebagai respons atas laporan eksklusif terkait penampakan perdana perahu milisi China di lepas pantai Pasifik Taiwan pada pertengahan Agustus. Penjaga Pantai Taiwan mengeklaim telah langsung mengerahkan kapal patroli untuk mengusir kapal tersebut yang diketahui beroperasi berdampingan dengan kapal penjaga pantai dan kapal penelitian milik China.
Otoritas setempat mengonfirmasi, kapal penangkap ikan yang diduga kuat sebagai armada milisi itu diidentifikasi bernama Minfudingyu 07902. Kapal tersebut nekat mendekat hingga jarak sekitar 2,7 mil laut tepat di luar perairan terlarang Taiwan pada 16 Agustus lalu.
China tercatat telah secara masif meningkatkan aktivitas semacam ini sejak bulan Juni di area perairan ekonomi yang tumpang tindih dengan Taiwan, Jepang, dan Filipina. Eskalasi ini terjadi tak lama setelah Tokyo dan Manila mengumumkan rencana pembicaraan tentang penetapan batas maritim di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) mereka, yakni batas 200 mil laut dari pantai yang memberi hak kepada suatu negara untuk mengeksploitasi dan mengelola sumber daya alam.
"Operasi zona abu-abu yang kompleks seperti itu tidak hanya meningkatkan beban pengawasan dan respons maritim pada Taiwan, Jepang, dan Filipina," papar Penjaga Pantai Taiwan dalam laporannya.
"Tetapi juga dapat menciptakan tekanan keamanan regional dan memengaruhi tatanan maritim internasional yang ada."
Hingga kini, Kementerian Pertahanan China, Kementerian Pertahanan dan Luar Negeri Filipina, serta Penjaga Pantai Jepang enggan memberikan komentar langsung.
Penjaga Pantai Taiwan menjelaskan, aktivitas terkoordinasi kelompok kapal itu adalah bagian dari pola operasi "zona abu-abu" China yang jauh lebih luas. Taktik licik ini menggunakan kedok penegakan hukum, penelitian ilmiah, dan status sipil untuk memperluas pengaruh Beijing di laut sambil menjaga ketegangan tetap berada di bawah ambang batas konflik terbuka.
Pihak berwenang Taiwan menilai operasi terpadu China tersebut bertujuan untuk membantu persiapan medan tempur.
Pantai timur Taiwan merupakan rute lalu lintas dan pasokan maritim yang sangat penting, sehingga manuver China yang terus berlanjut dipastikan akan semakin meningkatkan tekanan keamanan. Para pejabat di Taipei meyakini China sedang berlatih keras untuk kemungkinan blokade maritim menggunakan aset militer, paramiliter, dan sipil yang saling tumpang tindih.
China yang mengeklaim Taiwan yang diperintah secara demokratis sebagai wilayahnya sendiri tidak pernah mengesampingkan penggunaan kekuatan militer, sebuah klaim yang ditolak mentah-mentah oleh pemerintah Taiwan yang menyebutkan hanya rakyatnya yang berhak menentukan masa depan mereka. Beijing juga berulang kali berdalih, operasi mereka di lepas pantai timur Taiwan adalah sah dan legal karena berada di perairan China.
Menyikapi ancaman berbahaya ini, Penjaga Pantai Taiwan langsung memasukkan Minfudingyu 07902 ke dalam daftar pantauan prioritas karena menunjukkan karakteristik nyata aktivitas milisi maritim China.
Keberadaan milisi maritim China sendiri telah ada sejak era 1950-an, di mana mereka menggunakan kapal penangkap ikan dengan awak terlatih yang didukung penuh oleh negara untuk beroperasi di perairan sengketa Laut China Selatan demi menegaskan klaim Beijing.
Sebagai catatan, laporan pengawasan mengenai insiden pengepungan ini ditinjau langsung oleh Apex Aviation Taiwan. Mereka menggunakan tangkapan layar radar, citra inframerah, dan data sistem identifikasi otomatis dari penerbangan pengintaian udara untuk mendokumentasikan secara rinci keberadaan kelompok kapal tersebut.
(tps/tps)