Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, Wilayah Prancis Blackout
Jakarta, CNBC Indonesia - Badai Austen yang bergerak menuju Prancis menyebabkan sekitar 161.000 rumah kehilangan aliran listrik hingga Jumat (23/10/2026) dini hari. Hal itu diumumkan langsung oleh operator jaringan listrik Prancis, Enedis.
Dalam keterangannya, Enedis menyebut wilayah Brittany menjadi daerah yang paling terdampak, dengan 128.000 rumah tangga mengalami pemadaman listrik. Sebanyak 19.000 rumah tangga terdampak di Pays de la Loire dan 14.000 lainnya di Normandia.
Enedis mengatakan lebih dari 2.000 pegawainya telah disiagakan untuk menangani gangguan yang ditimbulkan badai.
"Lebih dari 2.000 pegawai siap diterjunkan segera setelah kondisi memungkinkan," demikian pernyataan perusahaan tersebut, dilansir Anadolu Agency.
Menjelang kedatangan badai, sebanyak 23 departemen di wilayah barat laut Prancis ditetapkan dalam status siaga oranye akibat angin kencang. Status ini menandakan adanya potensi cuaca berbahaya yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat.
Dampak badai juga terasa pada transportasi. Menurut laporan stasiun televisi BFMTV, layanan feri yang menghubungkan Prancis dengan Inggris masih tertahan di pelabuhan pada Jumat pagi akibat angin kencang dan gelombang laut tinggi.
Perjalanan kereta api di sejumlah wilayah yang terdampak juga mengalami gangguan serius. Layanan diperkirakan tetap terganggu setidaknya hingga tengah hari, menurut laporan tersebut.
Sementara itu, di departemen Finistere, pusat penanganan krisis di kantor prefektur telah diaktifkan menyusul kencangnya angin yang melanda wilayah tersebut.
Hingga tengah malam, petugas setempat dilaporkan telah melakukan 105 operasi, terutama untuk membersihkan jalan yang terhalang. Petugas pemadam kebakaran juga dikerahkan untuk menangani 45 kejadian terkait dampak badai.
Di sisi lain, Prancis juga tengah bersiap menghadapi gelombang kerusuhan baru. Hal ini terjadi usai Presiden Emmanuel Macron mengumumkan rencana melarang demonstrasi.
Ia mengatakan protes yang terjadi tidak sah. Langkah ini diambil setelah aksi protes yang berujung kerusuhan dan penjarahan mengguncang sejumlah wilayah pada akhir pekan lalu.
Sejumlah kota mulai memperketat pengamanan menjelang akhir pekan. Otoritas Marseille dan Lyon telah melarang demonstrasi yang direncanakan pada Sabtu, sementara serikat mahasiswa UNEF dan gerakan Rompi Kuning dilaporkan merencanakan aksi.
Di Paris, pemilik toko mulai memasang papan pelindung pada etalase, sedangkan perusahaan barang mewah Hermès meningkatkan keamanan gerainya.
Ketegangan itu menyusul kerusuhan pada 17 Oktober yang menjadi salah satu gejolak perkotaan terburuk di Prancis dalam beberapa tahun terakhir. Dua orang telah ditangkap terkait pembakaran balai kota Limoges. Meski malam ketiga pemberlakuan jam malam lokal berlalu tanpa insiden besar di wilayah terdampak, aparat tetap bersiap menghadapi potensi bentrokan baru.
Di balik kerusuhan, terdapat kemarahan publik yang dipicu tekanan biaya hidup, kenaikan biaya energi, dan kekhawatiran terhadap memburuknya layanan publik. Situasi tersebut turut memperuncing pertarungan politik di Prancis, dengan pemerintah menuding kelompok kiri radikal sebagai pihak yang mengobarkan kekacauan, sementara gelombang protes juga melibatkan serikat pekerja dan kelompok mahasiswa.
Dampak ketidakpastian turut terasa di pasar keuangan. Premi risiko utang pemerintah Prancis dibandingkan obligasi Jerman dilaporkan mencapai level tertinggi dalam 15 tahun pada Kamis, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah Prancis bertenor 10 tahun menyentuh 5,14%, level tertinggi sejak Juli 2002.
(luc/luc)