CLOSE AD
MARKET DATA

Kadin Bongkar Data, Bisnis Ini Paling Tertekan karena Efek Karhutla

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
22 October 2026 12:50
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Inonesia (KADIN), Anindya Novyan Bakrie saat menyampaikan konferensi pers terkait Business Pulse Q3 di kantor Kadin Indonesia, Jakarta, Kamis (22/10/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Foto: Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Inonesia (KADIN), Anindya Novyan Bakrie saat menyampaikan konferensi pers terkait Business Pulse Q3 di kantor Kadin Indonesia, Jakarta, Kamis (22/10/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengungkap dampak bencana alam terhadap dunia usaha di Tanah Air. Sektor konstruksi menjadi salah satu yang paling rentan, dengan 58,2% pelaku usaha mengaku kurang siap atau tidak siap menghadapi bencana alam dan cuaca ekstrem.

Direktur Insights Kadin Indonesia Institute Fakhrul Fulvian mengatakan, hasil survei Kadin Business Pulse Kuartal III-2026 menunjukkan 57,9% pelaku usaha terdampak bencana alam atau gangguan lingkungan dalam 12 bulan terakhir. Dampak yang paling banyak dirasakan adalah kenaikan biaya operasional, penurunan penjualan, hingga gangguan transportasi dan logistik.

"Dari total responden kita, 57,9% itu dari anggota Kadin menyatakan bahwa usaha mereka terdampak," ujar Fakhrul dalam konferensi pers di Kantor Kadin Indonesia, Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Berdasarkan data yang dihimpunnya, kenaikan biaya operasional menjadi dampak utama yang dilaporkan 13,5% responden, disusul penurunan penjualan atau permintaan sebesar 11,8% dan gangguan transportasi serta logistik sebesar 10,8%.

Dari sisi kesiapan, hanya 43,7% pelaku usaha yang menyatakan siap menghadapi bencana. Sebaliknya, 44,5% mengaku kurang siap atau tidak siap. Sektor konstruksi mencatat tingkat kesiapan yang relatif rendah. Sebanyak 58,2% responden sektor ini menyatakan kurang siap atau tidak siap menghadapi bencana, sementara hanya 30,2% yang menyatakan siap.

Foto yang dirilis Kementerian Kehutanan pada minggu (18/10), Kementerian Kehutanan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan di sejumlah hotspot. (Dok Kemenhut)Foto yang dirilis Kementerian Kehutanan pada minggu (18/10), Kementerian Kehutanan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan di sejumlah hotspot. (Dok Kemenhut) Foto: (Dok Kemenhut)

Fakhrul menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, mengingat kegiatan konstruksi sangat bergantung pada cuaca dan aktivitas di luar ruangan. Selain konstruksi, industri pengolahan juga termasuk sektor yang perlu diperhatikan terkait kesiapan menghadapi bencana.

Di sisi lain, karhutla atau kebakaran hutan dan lahan menjadi gangguan yang paling banyak dilaporkan pelaku usaha, dengan porsi 13% responden. Dampaknya juga dirasakan sektor properti. Sebanyak 21,4% responden real estate melaporkan karhutla atau kabut asap sebagai salah satu jenis bencana yang memengaruhi usaha mereka.

"Karhutla ini mempengaruhi keputusan orang untuk membeli rumah atau membangun bangunan," ucapnya.

Tekanan tersebut berpotensi menjadi tantangan tambahan bagi dunia usaha ketika minat investasi belum pulih. Fakhrul menyampaikan, proporsi pelaku usaha yang berencana berinvestasi dalam enam bulan ke depan turun menjadi 32,4% pada kuartal III-2026, dari 34,4% pada kuartal sebelumnya. Angka itu tercatat menurun selama tiga kuartal berturut-turut.

Ia mengatakan tekanan bisnis memang mulai mereda, tetapi pelaku usaha belum beralih ke sikap optimistis dan cenderung menunggu perkembangan kondisi ke depan.

"Tekanan mereda, tapi pelaku usaha banyaknya berubahnya nggak ke optimis. Dari tadinya bisnis dilihat agak berat, itu berubah menjadi wait and see," ujar dia.

Kadin Indonesia Institute pun merekomendasikan penguatan ketahanan usaha terhadap bencana, termasuk melalui sistem peringatan dini, perlindungan infrastruktur dan jalur logistik, serta dukungan pembiayaan bagi usaha terdampak. Langkah tersebut dinilai penting di tengah perkiraan risiko El Nino yang masih berlanjut hingga awal 2027.

(wur) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Menko Airlangga Ungkap Risiko Ekonomi di Daerah Terdampak Bencana


Most Popular
Features