Tumbuh Pesat, Industri Baru RI Ini Bisa Hasilkan Rp55,8 T di 2026
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia memiliki industri baru yang pertumbuhannya begitu cepat. Industri ini adalah penghasil bahan baku baterai, berupa komponen-komponen baterai lithium.
Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mencatat, bahwa meskipun terhitung baru terjadi lonjakan yang signifikan atas ekspor batu bara baterai untuk kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) itu.
"Ekspor naik dari US$92 juta pada 2024 menjadi US$887 juta pada 2025, dan diproyeksikan mencapai US$3,1 miliar (Rp55,8 triliun/kurs Rp18/000 per US$) pada 2026," terang Anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN, Septian Hario Seto dalam data yang disampaikan ke CNBC Indonesia, Kamis (22/10/2026).
DEN mengungkapkan, bahwa hasil hilirisasi bahan baku baterai di Indonesia merupakan industri baru yang tumbuh paling cepat. Produk ekspornya pun beragam mulai dari baterai litium selain nikel seperti, litium hidroksida dan karbonat, prekursor, material anoda, katoda LFP, foil tembaga, dan sel baterai.
Pasar tujuan tersebar bahan baku komponen baterai itu diantaranya Amerika Serikat (AS) yang menyerap 39%, terutama anoda dan katoda LFP. China menyerap 38%, terutama litium. Korea Selatan menyerap 16%, terutama prekursor.
"Ekspor sel baterai mencapai sekitar US$600 juta sampai dengan Agustus 2026, sebagian besar ke Korea Selatan. Sampai dengan akhir tahun, diperkirakan nilainya akan melebihi US$ 900 juta dolar, atau naik lebih dari 50% dibandingkan tahun 2024," tegas Seto.
Menurut Seto, kemampuan Indonesia untuk memproduksi lithium hidroksida/carbonate serta anoda baterai menunjukkan industrialisasi di Indonesia juga mampu mengolah sumber daya alam yang sejatinya tidak diproduksi di Indonesia, seperti spodumene/lithium concentrate dan graphite yang merupakan bahan baku utama dua produk di atas.
(pgr/pgr)