Internasional

Perang Makin Panas, Iran Siapkan 'Bapak Segala Bom'

tfa, CNBC Indonesia
Kamis, 22/10/2026 07:30 WIB
Iran Ancam AS, Klaim Siap Tenggelamkan Kapal Perang AS. Foto: CNBC Indonesia TV

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran mengklaim tengah menyiapkan senjata baru yang dijuluki sebagai "bapak dari segala bom", di tengah ancaman Amerika Serikat (AS) menggunakan bom konvensional raksasa untuk menyerang fasilitas strategis Teheran. Garda Revolusi Iran juga menyebut persediaan rudal negara itu meningkat signifikan setelah perang dengan Israel pada Juni 2025.

"Kami sedang dalam tahap persiapan untuk meluncurkan 'bapak dari segala bom'. Ini adalah sesuatu yang baru bagi pihak musuh," kata juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Hossein Mohebi, Rabu (21/10/2026), sebagaimana dikutip kantor berita Iran, Young Journalists Club. Ia tidak mengungkapkan jenis, kemampuan, maupun waktu peluncuran senjata tersebut.


Pernyataan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan penggunaan bom GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB), yang dijuluki "ibu dari segala bom". Bom konvensional non-nuklir tersebut memiliki bobot sekitar 9.800 kilogram dan pertama kali digunakan militer AS pada April 2017 untuk menyerang kompleks terowongan kelompok ISIS di Afghanistan.

Mohebi juga mengklaim persediaan rudal Iran meningkat 1,5 kali lipat setelah perang 12 hari melawan Israel pada Juni 2025. Menurut dia, kemampuan rudal Iran ikut berkembang, mulai dari jangkauan hingga daya hancur dan akurasi serangan. Namun, ia tidak menyertakan angka persediaan maupun data teknis untuk mendukung klaim tersebut.

"Kualitas rudal-rudal tersebut telah meningkat secara signifikan; jangkauan, daya hancur, serta akurasinya dalam mengenai sasaran juga telah bertambah," ujar Mohebi, seperti dikutip Anadolu Agency (AA). Ia menambahkan bahwa Iran sedang mengubah doktrin pertahanannya untuk membangun kemampuan pencegahan yang lebih kuat dan berkelanjutan.

"Jika ada negara yang menyerang kami, kami tidak hanya akan membalas, tetapi juga melancarkan serangan ofensif," kata Mohebi. Ia menyebut Iran akan semakin mengandalkan strategi perang asimetris, yakni menggunakan metode dan kemampuan berbeda untuk menghadapi lawan yang memiliki keunggulan militer konvensional.

Konflik terbaru antara Iran di satu pihak dan Amerika Serikat (AS) serta Israel di pihak lain pecah pada 28 Februari. Teheran kemudian membalas dengan melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Israel dan target militer AS di sejumlah negara Arab. Eskalasi ini memperbesar ketegangan di Timur Tengah, terutama karena melibatkan jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi salah satu urat nadi pasokan energi dunia.

Upaya diplomatik Washington dan Teheran juga menghadapi hambatan. Kedua pihak sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada Juni dan melanjutkan negosiasi, tetapi pembicaraan akhirnya gagal akibat perbedaan pandangan mengenai kebebasan navigasi dan keamanan di Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi global.


(tfa/tfa)
Saksikan video di bawah ini:

Wapres AS, JD Vance Tolak Beri Dukungan ke Netanyahu di Pemilu Israel