Krisis! Kabinet Trump Saling Sikut Jelang Pemilu Sela AS
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kini hanya memiliki waktu dua minggu untuk menyelamatkan mayoritas Partai Republik di Kongres dan melawan ekspektasi kekalahan telak dalam pemilihan paruh waktu (pemilu sela). Namun di sekelilingnya, para ajudan dan sekutu justru tengah bersiap menghadapi krisis dan kekacauan besar jika ia gagal.
Mengutip CNN, Rabu (21/10/2026), para pejabat pemerintahan semakin yakin bahwa kerugian besar Partai Republik akan memicu perombakan personel besar-besaran di seluruh elemen pemerintahan. Trump diyakini akan memburu ajudan untuk disalahkan, sementara puluhan lainnya tengah mempertimbangkan untuk meninggalkan kursi kepresidenan pada titik terendahnya.
Kekhawatiran ini telah mengubah Gedung Putih, yang dulunya membanggakan kekompakan, menjadi pusat pertikaian dan kebocoran rahasia di lingkaran internal Trump. Beberapa pejabat pemerintahan, penasihat, dan sekutu dekat orang nomor satu AS itu bahkan menggambarkan adanya campuran beracun antara perebutan kekuasaan dan aksi saling tuding dalam hari-hari kritis menjelang bulan November.
"Ini lebih brutal daripada situasi lain di zaman modern di Gedung Putih," kata salah satu sekutu Trump. "Anda tidak bisa memercayai siapa pun di sini."
Pertarungan luar biasa dalam jajaran administrasi ini bahkan telah meledak ke ranah publik beberapa kali dalam dua minggu terakhir. Trump baru saja memecat Kimberly Guilfoyle, duta besarnya untuk Yunani sekaligus mantan tunangan putranya, usai terungkap bahwa ia meminta uang senilai US$ 100.000 (Rp 1,8 miliar) dari seorang donatur GOP untuk melunasi kartu kreditnya.
Sang presiden juga telah memerintahkan penasihat Gedung Putih untuk menyelidiki perselisihan antara dua sekutu dekatnya, Alina Habba Mildon dan Ric Grenell, terkait dugaan salah alokasi dana jutaan dolar yang seharusnya diperuntukkan bagi Kennedy Center. Puncaknya, Trump memecat sekretaris pers barunya, Katie Zacharia, hanya dalam waktu lima hari setelah rentetan kesalahan langkah yang memicu reaksi negatif.
Di tengah rentetan krisis tersebut, beberapa ajudan terdekat Trump seperti kepala staf Susie Wiles, serta penasihat politik luar James Blair dan Chris LaCivita, juga harus menghadapi liputan negatif yang memicu pertanyaan tentang posisi mereka. Para pembela mereka meyakini bahwa cerita-cerita itu digerakkan oleh saingan yang ingin menjilat Trump.
"Pisau yang diarahkan kepada James atau Chris sebenarnya ditujukan untuk Susie," ungkap salah satu sumber yang mengetahui dinamika tersebut.
Rentetan insiden ini memicu upaya bersaing di seluruh lingkaran Trump untuk mencari tahu siapa yang membocorkan informasi. Terdapat spekulasi luas mengenai siapa yang akan menjadi tumbal jika hasil pemilu sela berujung buruk.
"Jika kita kehilangan DPR dan Senat, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi," papar seorang penasihat Trump. "Semua orang adalah sasaran yang sah."
Namun, Juru Bicara Gedung Putih Davis Ingle langsung menepis spekulasi mengenai dinamika internal pemerintahan tersebut.
"Presiden Trump sangat fokus untuk mempertahankan mayoritas Partai Republik di Kongres pada November ini, itulah sebabnya ia berkeliling negeri untuk menyoroti kemenangan bersejarah yang telah diberikan pemerintahannya bagi rakyat Amerika," tegas Ingle.
Nasib Menteri dan Pejabat Kunci
Di sisi lain, sosok Susie Wiles juga menghadapi pengawasan tajam dan rumor pengunduran diri setelah dirinya tidak hadir saat Trump menawarkan pekerjaan sekretaris pers kepada Zacharia. Terlebih lagi, ia baru saja melewati pertempuran berbulan-bulan dengan kanker dan masa jabatannya kini mendekati batas dua tahun, sebuah titik di mana banyak ajudan top Gedung Putih biasanya memilih mundur.
Meski begitu, Trump baru-baru ini menegaskan bahwa tidak ada peluang bagi dirinya untuk mengganti Wiles.
"Dia tidak akan pergi ke manapun," ucap seorang pejabat senior administrasi.
Hasil pemilu sela ini juga diperkirakan akan sangat menentukan nasib para menteri kabinet. Banyak yang berspekulasi mereka akan meninggalkan jabatan daripada harus menghadapi investigasi dari Partai Demokrat yang baru berkuasa. Menteri Pertahanan Pete Hegseth, yang diperkirakan akan menjadi target awal kongres, telah lama berjuang melawan spekulasi bahwa ia mungkin berakhir di kursi panas.
Selain itu, Menteri Energi Chris Wright, yang ditugaskan mengelola dampak ekonomi dari perang dengan Iran, dispekulasikan mungkin memilih keluar untuk mengejar pekerjaan di sektor energi. Meski demikian, Juru Bicara Pentagon Sean Parnell dan perwakilan Departemen Energi langsung membantah rumor kepergian para pejabat tersebut.
Di tempat lain, sekutu Jay Bhattacharya, kepala Institut Kesehatan Nasional (NIH), menyatakan ketakutan bahwa ia berisiko tinggi dipecat usai bentrok dengan kepala anggaran Gedung Putih Russ Vought terkait kontrol pengeluaran hibah agensinya.
Ekspektasi Suram Pemilu Sela
Meskipun Trump belum memberikan indikasi terbuka mengenai perubahan personel pascapemilu, banyak ajudan dan penasihatnya tetap merasa suram dengan peluang mereka. Mereka percaya bahwa mayoritas Partai Republik di DPR kemungkinan besar telah hilang, sehingga misi saat ini difokuskan pada upaya membatasi skala kerugian tersebut.
Sementara itu, meskipun tim kampanye masih yakin bisa mempertahankan Senat, ada kekhawatiran luas bahwa kombinasi reaksi negatif pemilih terhadap pemerintah dan beberapa kampanye Senat yang buruk telah membuat upaya itu jauh lebih sulit dari biasanya. Tantangan ini bahkan diakui sendiri oleh Trump secara tertutup.
Jika Partai Republik benar-benar menderita kerugian besar pada 3 November mendatang, para sumber meyakini bahwa Trump pasti akan menemukan seseorang untuk disalahkan.
"Presiden selalu kalah, apapun alasannya, dalam pemilu sela," keluh Trump pada hari Selasa.
"Jika saya bisa mendapatkan pemilih saya, Republikan MAGA, apa pun sebutannya, jika mereka keluar untuk memilih, kita akan menang telak," pungkasnya.
(tps)