MBG Bikin Siswa Rajin Sekolah, tapi Penerimanya Masih Ada Siswa Kaya

Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
Rabu, 21/10/2026 08:55 WIB
Foto: Sejumlah siswa di Jakarta mengikuti uji coba penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di Sekolah SMP Kemala Bhayangkari 3, Pasar Minggu, Jakarta, Kamis, (15/10/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menemukan program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi membantu mengurangi absensi siswa di sekolah, terutama anak-anak dari kelompok masyarakat termiskin.

Sayangnya, distribusi penerima program ini masih belum merata karena lebih banyak terkonsentrasi di perkotaan dan masih didominasi siswa dari keluarga kaya dibandingkan siswa miskin.

Temuan tersebut disampaikan Anggota DEN Mochammad Firman Hidayat berdasarkan studi yang dilakukan bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan sejumlah lembaga lainnya. Kajian itu menggunakan modul khusus dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang mulai dilaksanakan sejak September 2025 dan mencakup seluruh Indonesia.


Firman mengatakan, studi tersebut mengukur dampak MBG terhadap sejumlah indikator pendidikan dan kesejahteraan siswa, mulai dari absensi sekolah, semangat belajar, hingga rasa lapar selama mengikuti kegiatan belajar.

"Kalau kita lihat absensi siswa, penerima MBG itu jarang absen dibandingkan dengan nonpenerima MBG. Bahkan sebenarnya gap-nya cukup besar terutama di desil 1 yang paling miskin," ujar Firman saat memaparkan hasil kajian DEN di Istana Merdeka, Selasa malam (20/10/2026).

Menurutnya, siswa dari kelompok masyarakat termiskin yang tidak menerima MBG cenderung lebih sering absen. Sebaliknya, siswa yang menerima MBG relatif lebih jarang tidak masuk sekolah.

DEN juga menemukan bahwa penurunan absensi semakin besar seiring dengan meningkatnya intensitas penerimaan MBG di sekolah. Temuan ini menunjukkan potensi manfaat program terhadap kehadiran siswa, terutama bagi kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.

Kualitas Menu Pengaruhi Semangat Belajar

Selain absensi, kajian DEN menemukan bahwa penerimaan MBG berkaitan dengan peningkatan semangat belajar siswa. Namun, manfaat tersebut bergantung pada kualitas makanan yang disajikan.

Firman mengungkapkan, sebanyak 95% siswa penerima MBG menyatakan semangat belajar mereka lebih tinggi ketika kualitas menu yang diterima sangat baik.

Sebaliknya, ketika kualitas makanan dinilai buruk, persentase siswa yang melaporkan peningkatan semangat belajar turun cukup tajam.

"Artinya memang salah satu rekomendasi kami ke Bapak Presiden yang tadi kami sampaikan, perlu diperhatikan kualitas menu MBG, karena ini berkorelasi dengan rasa lapar dan semangat belajar anak di sekolah," kata Firman.

Temuan tersebut menempatkan kualitas makanan sebagai salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan program.

Penerima MBG Masih Didominasi Perkotaan dan Siswa Kaya

Namun, ada indikasi manfaat terhadap kehadiran dan semangat belajar, DEN juga menyoroti persoalan pemerataan distribusi penerima MBG.

Berdasarkan data per September, Firman mengatakan distribusi penerima MBG masih lebih terkonsentrasi di wilayah perkotaan dibandingkan perdesaan. Selain itu, jumlah siswa dari keluarga kaya yang menerima program tersebut masih lebih banyak dibandingkan siswa dari keluarga miskin.

"Nah, artinya perlu ada prioritas yang lebih baik terutama untuk daerah 3T, daerah perdesaan dan masyarakat miskin," ujarnya.

DEN, dari pernyataan Firman, menilai perlu ada perbaikan prioritas penyaluran agar kelompok masyarakat yang paling membutuhkan memperoleh akses lebih besar terhadap program tersebut.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: 11,35% Warga Tanpa Ijazah, Alarm untuk Pendidikan RI!