Ekspor Hilirisasi RI Diramal Tembus US$50 M, Aluminium Bisa Melesat

Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
Rabu, 21/10/2026 08:15 WIB
Foto: Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Septian Hario Seto saat memberi pemaparan dalam dalam diskusi panel MINDialogue "Hilirisasi dan Industrialisasi Strategi Kunci Menuju Indonesia Emas 2045" di Soehanna Hall, SCBC, Jakarta, Kamis (9/1/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memperkirakan nilai ekspor produk hilirisasi Indonesia yang mencakup nikel, aluminium, serta komponen baterai lithium mencapai US$50 miliar pada 2026. Nilai tersebut meningkat hampir 45% dibandingkan ekspor pada 2024 yang tercatat sekitar US$34,5 miliar.

Anggota DEN Septian Hario Seto mengatakan, perkembangan hilirisasi Indonesia kini tidak hanya bertumpu pada nikel. Hilirisasi aluminium dan komponen baterai lithium juga tumbuh pesat dan berpotensi menjadi sumber tambahan devisa bagi Indonesia.

"Hitungan dari Dewan Ekonomi Nasional, sampai dengan akhir tahun ini hilirisasi nikel, hilirisasi aluminium, dan hilirisasi komponen-komponen lithium baterai itu nilainya akan mencapai sekitar US$50 miliar atau naik hampir sekitar 45% dibandingkan ekspor kita pada tahun 2024," ujar Seto di Istana Merdeka, Selasa malam (21/10/2026).


Seto menjelaskan, proyeksi tersebut merupakan bagian dari kajian terbaru DEN mengenai perkembangan hilirisasi yang turut disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, peningkatan ekspor produk hilirisasi menjadi perkembangan positif selama dua tahun pemerintahan Prabowo. Selain memperkuat industri dalam negeri, peningkatan tersebut berpotensi menambah pasokan devisa Indonesia.

Salah satu sektor yang mencatat pertumbuhan signifikan adalah hilirisasi aluminium. DEN memperkirakan nilai ekspor produk aluminium pada 2026 mencapai US$7 miliar hingga US$7,2 miliar.

Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan nilai ekspor pada 2024 yang sekitar US$3,5 miliar.

Seto menambahkan, prospek ekspor aluminium masih terbuka untuk meningkat lebih jauh seiring dengan penambahan investasi pada fasilitas peleburan atau smelter aluminium baru di Indonesia.

"Ke depannya kita perkirakan untuk aluminium ini ekspornya bisa melebihi sekitar US$10 miliar seiring dengan penambahan investasi dari smelter-smelter aluminium yang baru di Indonesia," katanya.

Selain aluminium, DEN juga menyoroti perkembangan industri komponen baterai lithium. Indonesia kini telah menjadi salah satu produsen komponen baterai, termasuk anoda dan katoda, serta memiliki fasilitas pemurnian lithium atau lithium refinery.

Menurut Seto, perkembangan ini menunjukkan bahwa industrialisasi dapat dilakukan meskipun Indonesia tidak memiliki sumber daya lithium secara domestik.

"Artinya Indonesia sudah bisa melakukan industrialisasi dari sumber daya alam yang kita tidak miliki di Indonesia. Tapi industrialisasi ini merupakan bagian dari ekosistem tadi yang lebih lengkap," ujarnya.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Bank Dunia Naikkan Proyeksi Ekonomi Asia Timur & Pasifik Jadi 4,5%