MARKET DATA

Setoran Hulu Migas RI Ditarget Tembus 109% dari APBN, Ini Pendorongnya

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
20 October 2026 15:55
Sumur LLA-5 PHE ONWJ. (Dok. SKK Migas)
Foto: Sumur LLA-5 PHE ONWJ. (Dok. SKK Migas)

Jakarta, CNBC Indonesia - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memproyeksikan porsi penerimaan negara dari sektor hulu minyak dan gas bumi hingga akhir tahun 2026 dapat menyentuh level 109% dari target APBN 2026 sebesar Rp 113,06 triliun.

Capaian itu utamanya didorong oleh kenaikan harga minyak mentah global di tengah dinamika geopolitik dunia serta optimasi strategi komersialisasi.

Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas Desti Melanti menyebutkan bahwa realisasi penerimaan negara hingga saat ini sudah menyentuh kisaran 80%. Dia memaparkan bahwa lonjakan Indonesian Crude Price (ICP) yang sempat menyentuh US$ 106 per barel dari asumsi APBN US$ 75 per barel menjadi pemicu utama kenaikan setoran tersebut.

"Dalam dinamika geopolitik yang berkembang saat ini, bahwa ICP secara global yang memberikan dampak terhadap peningkatan penerimaan negara tentunya akan berkontribusi cukup signifikan, di mana tahun 2026 ini insyaAllah kami berhasil mencetak 109% lebih tinggi daripada target APBN yang telah ditetapkan," ujar Desti dalam Konferensi Pers Forum Ekonomi Hulu Migas (FOREK Hulu Migas) 2026, Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional menjadi pendorong utama yang mampu menutup celah keterbatasan volume lifting minyak nasional. Asumsi harga minyak mentah dalam APBN 2026 sebesar US$ 75 per barel mengalami kenaikan tajam hingga diperkirakan bertahan pada kisaran US$ 95 hingga US$ 98 per barel sampai penutupan tahun.

"Ya kalau dari sisi penerimaan negara, karena kan kalau bagi hasil kan terbentuk awalnya kan dari harga dan lifting. Pada saat harga naik walaupun lifting tidak naik signifikan, itu tetap mampu menaikkan target penerimaan negara," kata Desti di sela acara.

Selain faktor tren harga minyak global yang berada di luar kendali domestik, pendorong lainnya berasal dari percepatan skema komersialisasi lifting. Pihaknya bersama para kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) memanfaatkan momentum tingginya harga pasar untuk memaksimalkan penyerapan serta penyaluran hasil produksi hulu migas.

"Situasi ini kan sesuatu yang memang tidak bisa kita kontrol untuk harga ya. Yang bisa kita optimalkan adalah skema komersialisasi untuk percepatan lifting," tutur Desti.

Penerapan skema komersialisasi dan peningkatan tata kelola dinilai menjadi kunci keberhasilan hulu migas dalam menyumbang penerimaan negara di atas target. Menurutnya, tanpa adanya strategi pengelolaan yang strategis bersama pemangku kebijakan, lonjakan harga minyak tidak akan bisa terkonversi secara maksimal menjadi pendapatan negara.

"Namun demikian, tanpa upaya dan strategi komersialisasi yang dilakukan oleh SKK Migas dan kontraktor-kontraktor kerja sama dan para pemangku kebijakan, target penerimaan negara tentunya sulit untuk dapat terealisasi," tandasnya.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Video: Pemerintah Siapkan 8 Program Utama yang Jadi Fokus APBN 2027


Most Popular
Features