Internasional

Harta Keluarga Kaya Asia Terancam "Berantakan", Ini Penyebabnya

tfa, CNBC Indonesia
Selasa, 20/10/2026 20:30 WIB
Foto: Hunters Race via Unsplash

Jakarta, CNBC Indonesia - Peralihan kekayaan dari generasi pertama kepada penerusnya menjadi tantangan besar bagi keluarga kaya di Asia. Laporan terbaru Julius Baer mengungkapkan, ketidaksiapan suksesi dan perbedaan pandangan antar generasi dapat mengancam keutuhan keluarga sekaligus menghambat penjualan bisnis.

Laporan Julius Baer Family Barometer yang dikutip The Straits Times pada Selasa (20/10/2026) mengungkapkan rendahnya kesiapan keluarga pemilik bisnis menghadapi peralihan kekayaan. Hanya 3,5% profesional pengelola kekayaan yang menangani klien di Asia menilai sebagian besar keluarga yang mereka dampingi benar-benar siap menjual perusahaan atau mengalihkan aset. Secara global, angka tersebut bahkan lebih rendah, yakni hanya 2,3%.

Perbedaan ekspektasi mengenai valuasi bisnis menjadi salah satu penyebab utama konflik keluarga yang dapat menggagalkan rencana penjualan. Perselisihan mengenai masa depan perusahaan, keterikatan emosional pendiri, pembagian warisan, hingga waktu yang tepat untuk mundur juga menjadi hambatan.


Masalah lain muncul dari minimnya keterlibatan generasi penerus dalam menentukan masa depan bisnis dan kekayaan keluarga. Hanya 8,4% responden di Asia melaporkan bahwa generasi penerus memiliki hak suara setara dalam perencanaan tersebut. Sebagian hanya dimintai pendapat, dilibatkan dalam diskusi terbatas, atau bahkan tidak dilibatkan sama sekali.

Laporan itu didasarkan pada survei terhadap lebih dari 700 penasihat keluarga superkaya di berbagai negara. Temuannya mencerminkan penilaian para profesional yang mendampingi keluarga tersebut, bukan survei langsung terhadap para pemilik kekayaan.

Setelah bisnis dijual, lebih dari 75% penasihat keluarga kaya di Asia memilih pembentukan single family office, yakni lembaga yang mengelola kekayaan satu keluarga secara terpusat. Alternatif lainnya adalah membentuk entitas investasi keluarga atau merintis bisnis baru.

"Kecuali jika Anda memiliki family office berskala besar dengan sumber daya yang melimpah, akan sulit untuk membentuk tim khusus bagi setiap kelas aset, sekaligus mengelola fungsi non-investasi seperti urusan hukum, operasional, dan perencanaan warisan," ujar Christos Anagnostopoulos, Kepala Solusi dan Penasihat Family Office Julius Baer untuk Asia.

Karena itu, kata Anagnostopoulos, keluarga umumnya tetap membutuhkan tenaga ahli eksternal untuk menangani fungsi tertentu.

Sebagian pendiri bisnis di Asia juga memilih membagi kekayaan setelah penjualan perusahaan. Sebagian aset dikelola secara profesional untuk menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang, sementara sisanya digunakan untuk membiayai usaha baru dan investasi langsung.

Menurut Anagnostopoulos, pendekatan ini memungkinkan keluarga memprofesionalkan pengelolaan kekayaan tanpa kehilangan semangat kewirausahaan yang menjadi fondasi bisnis mereka.

Kepala wilayah Asia Julius Baer, Jimmy Lee, menilai keluarga perlu membicarakan suksesi jauh sebelum penjualan bisnis menjadi pilihan.

"Melibatkan generasi penerus sejak dini dan menyepakati tujuan jangka panjang keluarga dapat membantu menjaga kekayaan sekaligus semangat kewirausahaan yang membangun kekayaan tersebut," kata Lee.

Secara global, 80% responden menyebut kurangnya keselarasan di dalam keluarga sebagai hambatan dalam penjualan atau pengalihan bisnis. Temuan ini menunjukkan bahwa kesiapan finansial saja tidak cukup: kesepakatan mengenai kepemilikan, tata kelola, pembagian aset, dan arah investasi juga diperlukan agar perpindahan kekayaan antargenerasi tidak memicu konflik berkepanjangan.


(tfa/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Begini Cara Pebisnis Siapkan Generasi Penerusnya