Ekonomi Vietnam Bisa Tumbuh 9%, Kenapa Indonesia Malah Tertinggal?

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Senin, 19/10/2026 16:10 WIB
Foto: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Simposium Sumbangan Ekonomi Pancasila, Ekonomi Islam, dan Ekonomi Konvensional: Menuju Pembangunan Indonesia yang Berkeadilan Sosial, di Jakarta, Selasa (8/09). (Dok Kemenko Perekonomian)

Jakarta, CNBC Indonesia - Vietnam mampu membukukan pertumbuhan ekonomi 9,95% pada kuartal ketiga 2026. Menteri Koordinator Bidang perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan sejumlah faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi negara tetangga Indonesia itu bisa tinggi.

Faktor pertama adalah, Vietnam telah mengantongi sejumlah perjanjian perdagangan bebas dengan sejumlah negara seperti, Eropa dan Amerika Serikat.

"Sehingga bea masuk rata-rata Vietnam itu ke seluruh dunia nol persen, sedangkan Indonesia 10 sampai 15 persen," ungka Airlangga di Bappenas, Jakarta pada Senin (19/10/2026).


Faktor kedua adalah Vietnam mendorong ekspor berbasis elektronik yang sangat dibutuhkan di era digital saat ini. Airlangga mengatakan, ekspor elektronik Vietnam mencapai hampir 40%.

Kemudian, Vietnam juga memiliki 1,8 juta kawasan ekonomi khusus yang bisa menarik investasi asing masuk untuk menggerakkan ekonomi dalam negeri.

Airlangga mengaku, sebenarnya Indonesia memiliki kesempatan dalam pengembangan industri elektronik, namun dikesampingkan karena dianggap bukan merupakan industri padat karya.

"Kita pernah menggeser yang namanya industri elektronik, karena industri elektronik itu robotik dan kita merasa bahwa kalau industri itu tidak padat karya, maka dia tidak punya hak untuk hidup di republik," ujar Airlangga.

Indonesia, kata Airlangga, juga sebetulnya memiliki momentum dalam mencapai akselerasi industri, melalui sektor penerbangan dengan pembuatan pesawat CN 235. Hanya saja, banyak upaya menggagalkan Indonesia.

"Bahkan kita hampir lepas landas pada tahun 90-an. Cuman kalau kita mau lepas landas, banyak negara tidak suka. Mereka ingin supaya Indonesia tetap di landasan. Salah satu contoh kita bicara mengenai industri Dirgantara," ungkap Menko ekonomi.

"Nah, pada waktu kita kembangkan CN235, itu terobosan. Dan masalah turboprop dan jet engine, tidak persoalan karena turboprop dan jet engine juga relatif maju bersama. Dan pada saat kita mau mendorong ke 100 penumpang, dunia kaget. Dan waktu itu IMF mengatakan Indonesia enggak boleh punya industri pesawat terbang karena ini industri yang apa? dekat dengan masyarakat," sambungnya.

Saat ini, industri Indonesia tengah berkembang menuju era digitalisasi. Bagi Airlangga, era dimulainya adaptasi digitalisasi menjadi kesempatan besar.

Alasan pertama karena semua negara pada saat sekarang itu menghadapi revolusi industri dan transformasi secara bersama-sama.Di sisi lain, pangsa pasar Indonesia sangat besar untuk adaptasi penggunaan teknologi.

"Digitalisasi ini scoping-nya sangat luas. Dan ini adalah kesempatan karena semua negara pada saat sekarang itu menghadapi revolusi industri dan transformasi secara bersama-sama. Jadi tidak ada tentu yang negara yang maju saat sekarang seperti China maupun Amerika terutama terkait dengan ke depannya AI, artificial intelligence dan quantum computing," ucapnya.


(arj/arj)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Genjot Cuan BUMN Konstruksi, Adhi Karya Perkuat Efisiensi - ESG