Trenggono Tegaskan RI Cuma Impor Ikan Salmon, Ini Alasannya
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono menegaskan Indonesia sudah tidak mengimpor ikan karena jumlah produksinya cukup untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Trenggono mengatakan hampir semua komoditas perikanan tidak lagi diimpor Indonesia.
Hanya ikan salmon yang masih boleh impor karena tidak bisa diproduksi di Indonesia karena kondisi iklim.
"Kalau di sektor perikanan, hanya salmon saja yang masih impor, karena itu kan satu jenis ikan alternatif yang tidak bisa ditumbuhkan di Indonesia yang daerahnya panas ya, karena hidupnya di daerah dingin," kata Trenggono dalam Agri Food Forum 2026, Senin (19/10/2026).
Trenggono melanjutkan kebutuhan ikan di dalam negeri sudah sangat cukup yakni mencapai 13 juta ton. Bahkan, komoditas ikan di Indonesia juga berhasil diekspor dengan nilainya mencapai US$6,5 miliar per tahun.
"Jenis ikan Indonesia sendiri, kalau dari dalam negeri 13 juta ton cukup ya. Bahkan ekspor kita di sektor perikanan kira-kira sekarang sudah menuju ke US$ 6,5 miliar, di mana kontribusi yang paling besar itu dari udang dan tuna cakalang, jadi artinya kita surplus sebetulnya," terang Trenggono.
Selain udang dan tuna cakalang, Trenggono menyebut ada beberapa jenis ikan lainnya yang menjadi unggulan Indonesia yakni cumi, sotong, rajungan, kepiting, dan rumput laut.
"Selain udang dan tuna cakalang, ada juga cumi, sotong, kemudian rajungan, kepiting, dan rumput laut yang menjadi komoditas ikan unggulan kita," ujar Trenggono.
Namun, masih ada beberapa ikan yang dinilai unggulan, tetapi belum dapat diekspor karena produksinya masih rendah.
"Beberapa sektor perikanan seperti tilapia, kita belum kuat karena memang produksi kita masih rendah, ini yang akan kita majukan untuk kemudian kita bisa kuat di situ," jelas Trenggono.
Trenggono kembali menegaskan bahwa Indonesia tak lagi mengimpor tuna. Namun, ia menjelaskan bahwa nilai ekspor tuna Indonesia sudah mencapai US$ 1 miliar.
"Tuna tidak ada yang impor, tapi tuna kita di ekspor kita 1 miliar, malah tangkapan kita itu intervensi sampai ke lautan Hindia untuk tuna biru, karena ada tiga jenis tuna, yakni tuna mata besar, tuna sirip kuning, dan tuna sirip biru, ini kita sangat kuat, jadi saya jamin tidak ada impor tuna, kecuali kalau misalnya kita ekspor bahan baku tuna terus kemudian diolah restoran balik lagi, itu mungkin saja, tapi hampir tidak ada lah," ungkapnya.
Begitu juga impor udang, di mana pihaknya mengaku telah menutup keran impor udang karena kondisi produksi di dalam negeri sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan.
"Kalau udang iya, kemarin bahan bakunya ada impor, tapi sudah saya stop, karena kita produksi udang dan kita sangat kuat. Jadi beberapa pelaku saya di processing udang, dia impor udang dari luar, saya setop, karena kita harus membela produsen kita, itu adalah para pembudidaya yang jumlahnya jutaan," tegasnya.
(chd/wur)