Penjualan Mobil Eropa di RI Makin Seret, Ini Reaksi Bos Toyota

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Jumat, 16/10/2026 11:30 WIB
Foto: Suasana pengunjung GIIAS 2019 di Ice BSD, Tangerang, Banten. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Persaingan pasar otomotif Indonesia tak hanya diwarnai perebutan volume penjualan, tetapi juga perbedaan strategi bisnis masing-masing merek. Di tengah dominasi merek-merek Jepang dan meningkatnya persaingan dari China, sejumlah merek mobil Eropa masih mencatatkan penjualan yang sangat kecil di pasar domestik.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Audi yang berasal dari Jerman hanya membukukan penjualan dua unit pada September 2026, disusul Volvo Cars dan Scania yang berasal dari Swedia masing-masing menjual 5 serta 6 unit, baik dari sisi distribusi mobil dari pabrik ke dealer atau wholesales maupun penjualan dari dealer ke konsumen atau retail sales.

Angka ini jauh di bawah merek dengan volume penjualan besar seperti Toyota, yang mampu menjual puluhan ribu unit dalam sebulan. Bos Toyota menilai, kecilnya volume penjualan merek-merek Eropa bukan fenomena baru di pasar otomotif Indonesia. Karakter bisnis merek tersebut memiliki perbedaan dibandingkan produsen yang mengincar pasar massal.


"Dari dulu Eropa juga penjualannya tidak besar, tetapi untungnya besar," kata Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Nandi Julyanto kepada CNBC Indonesia dikutip Jumat (16/10/2026).

Merek-merek Eropa selama ini banyak bermain di segmen premium dengan harga kendaraan yang relatif tinggi. Strategi tersebut membuat pendekatan bisnisnya berbeda dari merek yang mengandalkan penjualan dalam jumlah besar untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Suasana pengunjung GIIAS 2019 di Ice BSD, Tangerang, Banten. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Suasana pengunjung GIIAS 2019 di Ice BSD, Tangerang, Banten. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

"Eropa itu dari dulu kan high-end semua," ujar Nandi.

Di tengah perbedaan strategi tersebut, persaingan tetap menjadi bagian dari dinamika industri otomotif. Bagi produsen, kondisi pasar bukan hanya ditentukan oleh kemampuan menjual kendaraan, tetapi juga oleh lingkungan bisnis yang memungkinkan setiap pemain menjalankan strategi masing-masing.

"Kalau kita melihat kompetisi itu selalu positif. Kita melihatnya secara positif. Yang kita mau itu kompetisi yang fair, jadi kebijakannya juga harus fair," kata Nandi.

Persaingan yang sehat menjadi penting ketika industri otomotif Indonesia menghadapi perubahan peta persaingan, termasuk kehadiran pemain baru dan perubahan kebijakan yang memengaruhi keputusan investasi. Kepastian berusaha menjadi salah satu faktor yang menentukan keberlanjutan industri otomotif dalam jangka panjang.

"Yang paling berbahaya sebenarnya adalah ketika investor yang sudah ada di suatu negara keluar. Kalau sudah keluar, mereka tidak akan pernah kembali. Itu yang menjadi perhatian kita," ujar Nandi.


(fys/wur)
Saksikan video di bawah ini:

Pelaku Industri, DPR, & Bankir 'Ngumpul' Bahas Nasib Sektor Otomotif