Sinyal Kuat Calon Pekerja RI Mending "Cabut" ke LN, Ini Modal Wajibnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia berpeluang memperluas penempatan tenaga kerja ke luar negeri di tengah perubahan demografi yang dialami sejumlah negara. Jepang, Korea Selatan, hingga Singapura menghadapi stagnasi atau penurunan jumlah penduduk, sehingga kebutuhan tenaga kerja menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan Indonesia.
Menteri Perindustrian (Menperin) M Sarmuji mengatakan, Indonesia memiliki modal berupa jumlah penduduk usia produktif yang besar. Potensi tersebut perlu didukung pelatihan agar tenaga kerja Indonesia memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar internasional.
"Kita punya bonus demografi, punya tenaga kerja produktif yang banyak, yang kalau dilatih bisa mengisi lapangan kerja yang ada di luar negeri yang kebetulan banyak negara-negara maju ternyata pertumbuhan penduduknya stagnan, bahkan mengalami penurunan," ujar Sarmuji di Balai Diklat Industri Jakarta, Kamis (15/10/26).
Perubahan demografi di sejumlah negara maju menjadi salah satu faktor yang membuka peluang bagi tenaga kerja asing. Kondisi ini berbeda dengan Indonesia yang memiliki banyak penduduk usia produktif dan perlu memperluas kesempatan kerja bagi angkatan kerjanya.
"Sebut saja misalkan Jepang, mereka lagi gelisah pertumbuhan penduduknya minus, Korea Selatan juga begitu, Qatar begitu, Singapura juga mengalami fenomena yang sama," katanya.
Namun, besarnya jumlah penduduk usia produktif tidak serta-merta menjamin tenaga kerja Indonesia dapat mengisi lowongan di luar negeri. Kesiapan keterampilan menjadi faktor penting agar calon pekerja dapat memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan oleh perusahaan di negara tujuan.
Penguatan pendidikan vokasi dan pelatihan keterampilan menjadi bagian penting untuk mendukung peluang tersebut. Calon pekerja perlu dibekali kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri agar mampu bersaing di pasar kerja internasional.
"Salah satu solusinya adalah kita bisa mengirimkan tenaga kerja kita yang terampil untuk mengisi pos-pos yang sebenarnya juga dibutuhkan oleh negara lain," tutup Sarmuji.
Di sisi lain, perubahan karakter industri dalam negeri turut menjadi tantangan bagi penciptaan lapangan kerja. Penggunaan teknologi dalam proses produksi membuat sejumlah industri tidak lagi menyerap tenaga kerja sebanyak ketika masih mengandalkan pola padat karya.
"Memang industri kita tumbuh, industri pengolahan kita tumbuh dan menyerap tenaga kerja itu sampai 20 juta lebih tenaga kerja Indonesia, tapi makin lama karakter industri kita itu makin berubah," ujar Sarmuji.
Perubahan tersebut membuat Indonesia perlu mencari peluang tambahan untuk menyerap tenaga kerja. Penempatan pekerja terampil di luar negeri dapat menjadi salah satu alternatif, terutama apabila kebutuhan pasar internasional dapat dipertemukan dengan kompetensi tenaga kerja Indonesia.
"Kualitas pertumbuhan ekonomi kita terhadap tenaga kerja juga tidak sehebat dulu. Kalau dulu 1% pertumbuhan ekonomi bisa menyerap sekitar 400.000 tenaga kerja, hari ini mungkin bisa 300.000 itu sudah cukup bagus," katanya.
(dce)