Warga RI Siaga, Cari Kerja di Industri Makin Sulit-Ini Saran Menperin

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Kamis, 15/10/2026 15:45 WIB
Foto: Menteri Perindustrian (Menperin), M. Sarmuji menyampaikan pemaparan dalam SMK Go Global di Balai Diklat Industri Jakarta, Kamis (15/10/26). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pertumbuhan industri di Indonesia tidak otomatis menghasilkan penyerapan tenaga kerja sebesar masa lalu. Perubahan karakter industri, terutama melalui penggunaan teknologi, menjadi tantangan baru bagi pemerintah dalam memperluas kesempatan kerja.

Industri pengolahan selama ini menjadi salah satu sektor penting dalam menyerap tenaga kerja nasional. Namun, kebutuhan tenaga kerja dapat berubah ketika perusahaan mulai mengandalkan teknologi dan mengurangi ketergantungan terhadap pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual.

"Memang industri kita tumbuh, industri pengolahan kita tumbuh dan menyerap tenaga kerja itu sampai 20 juta lebih tenaga kerja Indonesia, tapi makin lama karakter industri kita itu makin berubah," ujar Menteri Perindustrian M Sarmuji di Balai Diklat Industri Jakarta, Kamis (15/10/26).


Perubahan tersebut membuat hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja perlu mendapat perhatian. Kenaikan aktivitas ekonomi tidak selalu diikuti peningkatan jumlah pekerja dalam skala yang sama seperti sebelumnya.

"Yang dulu sangat padat karya sekarang sudah memasukkan teknologi yang sangat mungkin untuk penyerapan tenaga kerjanya menjadi lebih rendah dibandingkan sebelumnya," katanya.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri ketika pemerintah berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekaligus menekan persoalan pengangguran. Perubahan kebutuhan industri menuntut tenaga kerja memiliki kompetensi yang lebih sesuai dengan perkembangan teknologi dan proses produksi.

"Kualitas pertumbuhan ekonomi kita terhadap tenaga kerja juga tidak sehebat dulu. Kalau dulu 1% pertumbuhan ekonomi bisa menyerap sekitar 400.000 tenaga kerja, hari ini mungkin bisa 300.000 itu sudah cukup bagus," ujar Sarmuji.

Penurunan daya serap tenaga kerja tersebut menunjukkan pentingnya mencari sumber kesempatan kerja tambahan di luar pola penyerapan industri yang selama ini berkembang. Peningkatan keterampilan menjadi salah satu bekal agar tenaga kerja Indonesia bisa mengisi berbagai posisi yang tersedia di pasar kerja.

Program vokasi dan pelatihan perlu diarahkan agar menghasilkan pekerja dengan kompetensi yang relevan. Kerja sama antarkementerian juga dapat membantu mempertemukan fasilitas pelatihan dengan kebutuhan perusahaan di dalam maupun luar negeri.

"Apa solusinya bagi Indonesia kalau ternyata karakter industri kita berubah terhadap penyerapan tenaga kerja kita, terjadi perubahan kualitas pertumbuhan ekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja? Salah satu solusinya adalah kita bisa mengirimkan tenaga kerja kita yang terampil untuk mengisi pos-pos yang sebenarnya juga dibutuhkan oleh negara lain," tutup Sarmuji.


(dce)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Menperin Soroti Harga Bahan Baku, Daya Saing Industri Tertekan