Belum Tentu Belanja, Orang RI Tetap Jalan-Jalan ke Mal, Kenapa?

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Kamis, 15/10/2026 11:55 WIB
Foto: CNBC Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia - Arus pengunjung di pusat perbelanjaan di Jakarta masih ramai pada kuartal III-2026. Namun, ramainya pengunjung belum tentu sejalan dengan peningkatan transaksi.

Hal ini memunculkan kembali pertanyaan mengenai fenomena Rojali atau rombongan jarang beli yang sempat ramai dibicarakan tahun lalu.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi industri ritel karena jumlah pengunjung bukan satu-satunya indikator untuk mengukur kinerja bisnis. Masyarakat masih mendatangi mal untuk makan, mencari hiburan, berekreasi, hingga bersosialisasi, tetapi keputusan untuk berbelanja semakin dipengaruhi kebutuhan dan kemampuan keuangan.


Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menilai kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan sejauh ini relatif stabil. Kebiasaan masyarakat menjadikan mal sebagai tempat berkumpul turut menjaga aktivitas di pusat perbelanjaan, bahkan ketika kondisi bisnis ritel sedang menghadapi tekanan.

"Sampai dengan saat ini rata-rata tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan relatif stabil karena ada kecenderungan masyarakat Indonesia tetap berkunjung ke pusat perbelanjaan dalam segala situasi dan kondisi," kata Alphonzus kepada CNBC Indonesia, Kamis (15/10/26).

Di sisi lain, ada perbedaan antara tujuan masyarakat datang ke mal dan keputusan mereka mengeluarkan uang. Pengunjung bisa tetap menikmati fasilitas pusat perbelanjaan tanpa harus membeli barang, sehingga tingkat keramaian tidak otomatis mencerminkan kuatnya permintaan konsumen.

Alphonzus menjelaskan, mal kini juga memiliki fungsi sosial yang membuat masyarakat tetap datang meskipun tidak selalu berniat berbelanja. Perubahan fungsi tersebut ikut menjelaskan mengapa jumlah pengunjung bisa bertahan ketika transaksi ritel tidak mengalami peningkatan yang sama.

"Selain saat ini fungsi pusat perbelanjaan bukan lagi hanya sekadar sebagai tempat berbelanja, masyarakat Indonesia juga memiliki budaya suka berkumpul," ujarnya.

Tekanan terhadap transaksi juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi yang memengaruhi keputusan belanja rumah tangga. Ketika masyarakat menghadapi berbagai tekanan, pengeluaran cenderung lebih selektif dan kebutuhan yang tidak mendesak dapat ditunda.

Selain itu, industri ritel tengah melewati periode low season setelah Ramadan dan Idulfitri, yang biasanya menjadi momentum puncak penjualan. Situasi tersebut membuat perbandingan antara keramaian mal dan realisasi belanja perlu dilihat dengan mempertimbangkan siklus musiman industri.

"Khusus tahun ini periode low season mendapat tambahan tekanan sehubungan dengan periode yang relatif lebih panjang daripada sebelumnya akibat Ramadan dan Idulfitri tiba lebih awal, yaitu di triwulan pertama tahun 2026 ini," kata Alphonzus.


(hoi/hoi)
Saksikan video di bawah ini:

Netflix Bakal Phk 5% Karyawan