Internasional

Perang Trump Jadi Senjata Makan Tuan, Bikin AS Makin Menderita

tps, CNBC Indonesia
Kamis, 15/10/2026 08:40 WIB
Foto: Bendera Amerika Serikat berkibar di AS. (IMAGN IMAGES via Reuters Connect/Bob DeChiara)

Jakarta, CNBC Indonesia - Inflasi Amerika Serikat (AS) kembali memanas pada bulan September akibat lonjakan tajam pada harga bensin. Kondisi ini memberikan pukulan telak bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu pada 3 November mendatang, sekaligus membuka kembali peluang kenaikan suku bunga bank sentral (The Fed) pada akhir bulan ini.

Mengutip Reuters, Kamis (15/10/2026), laporan Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI) dari Departemen Tenaga Kerja AS pada hari Rabu menunjukkan bahwa IHK naik 0,6% pada bulan lalu, menyusul kenaikan 0,4% pada bulan Agustus. Secara tahunan (YoY), CPI melesat 3,7% pada bulan September, naik dari 3,4% pada bulan Agustus.

Lonjakan harga bensin sebesar 9,1% yang dipicu oleh perang AS-Israel dengan Iran menyumbang lebih dari setengah kenaikan bulanan IHK tersebut. Sementara itu, bahan bakar motor lainnya seperti diesel meroket 11,9% secara bulanan dan melompat 60,9% secara tahunan hingga menyentuh rekor tertinggi.


Laporan tersebut menambah deretan survei bulan ini yang menunjukkan memburuknya sentimen konsumen dan anjloknya tingkat persetujuan Trump di tengah kecemasan atas biaya hidup. Jajak pendapat Reuters/Ipsos mengungkap bahwa sekitar 78% warga Amerika menyalahkan kebijakan Trump, termasuk tarif dan konflik Timur Tengah, atas melambungnya harga-harga yang jauh melampaui kenaikan upah.

"Inflasi yang kita alami saat ini sebagian besar merupakan akibat dari kebijakan yang tidak menentu dari cabang eksekutif," kata Kepala Ekonom di Century Foundation, Kyle Moore.

"Lebih buruk lagi, perang tanpa arah di Iran terus mengganggu rantai pasokan global. Pemerintahan ini juga sama sekali tidak mau memoderasi laju pembangunan AI dan pusat data," paparnya.

Di sektor pangan, harga makanan secara keseluruhan tidak berubah setelah sempat naik 0,1% pada Juli dan Agustus. Harga di toko bahan makanan turun 0,1% secara bulanan seiring anjloknya harga daging sapi 1,0%, produk susu 0,9%, dan telur 1,3%. Namun, minuman non-alkohol melonjak 0,9% dan buah serta sayuran naik 0,5%, dengan harga pisang melesat 1,0% dan selada rebound 3,9%. Secara tahunan, harga bahan makanan naik 1,8%. Di sisi lain, rata-rata pendapatan per jam bagi seluruh karyawan turun 0,7% pada bulan September dari tahun lalu, setelah turun 0,3% pada bulan Agustus.

"Meskipun sebagian besar hilangnya daya beli disebabkan oleh meningkatnya biaya energi, tidak ada alasan untuk mengharapkan hal itu memudar dalam waktu dekat," ungkap Kepala Ekonom AS di AllianceBernstein, Eric Winograd.

"Bagian bawah dari ekonomi berbentuk K semakin tertinggal, seperti yang didengar oleh siapa saja yang pernah melihat iklan kampanye di TV beberapa minggu terakhir."

Seiring dengan meroketnya biaya hidup, Administrasi Jaminan Sosial AS mengumumkan penyesuaian biaya hidup sebesar 3,6% untuk tahun 2027 yang akan menguntungkan hampir 72 juta warga AS. Tunjangan pensiun rata-rata dilaporkan akan naik sebesar US$ 75 (Rp 1.342.500) per bulan.

Sementara itu, CPI Inti AS (di luar komponen makanan dan energi) naik 0,3% pada bulan September, menyamai kenaikan bulan Agustus, dan mencapai 2,6% secara tahunan (naik dari 2,4%). Angka CPI Inti ini ditopang oleh kenaikan biaya tempat tinggal (0,4%), sewa setara pemilik (0,3%), serta tarif maskapai penerbangan (1,2%). Konsumen juga harus membayar lebih mahal untuk layanan perawatan kebun, rekreasi, pendidikan, hingga rumah sakit dan dokter gigi, yang mendorong harga jasa secara keseluruhan naik 0,4%.

Harga barang inti juga naik 0,3%, didorong oleh meroketnya harga mobil dan truk bekas (0,7%), pakaian (0,3%), dan mainan (4,2%), meskipun harga obat resep tercatat lebih murah. Harga komputer dan periferal melompat 1,3% sebagai imbas investasi terkait kecerdasan buatan (AI), sementara perangkat lunak komputer rebound 0,4%.

Data yang memanas ini membuat pasar keuangan menaikkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 27-28 Oktober menjadi 37%, naik dari 22% sebelum rilis data CPI. Namun, mayoritas ekonom masih memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga bulan ini dan baru menaikkannya pada bulan Desember, setelah sebelumnya mengerek suku bunga 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00% pada bulan September.

Berdasarkan data CPI, estimasi ekonom untuk inflasi PCE Inti (yang menjadi acuan target 2% The Fed) akan berada di kisaran 0,3% hingga 0,4% secara bulanan, atau 3,1% secara tahunan.

"Yang menarik adalah bahwa pendorong utama inflasi adalah kebijakan sisi pasokan yang lebih baik ditangani oleh otoritas fiskal," tutur Kepala Ekonom di RSM, Joseph Brusuelas.

"Namun, hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat, yang membuat The Fed harus mengatasi pemulihan stabilitas harga," pungkas Brusuelas.


(tps/tps)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Inflasi AS Lebih Rendah, The Fed Punya Ruang Tahan Bunga