Timur Tengah Panas, Toyota Sebut Geng Negara Ini Jadi Masa Depan

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Rabu, 14/10/2026 18:55 WIB
Foto: (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik di Timur Tengah menjadi tantangan bagi ekspor kendaraan produksi Indonesia. Meski permintaan dari kawasan tersebut melemah, industri otomotif nasional masih mampu mencari peluang di pasar lain sehingga kinerja ekspor Toyota tetap mencatat pertumbuhan.

Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Nandi Julyanto mengatakan, penurunan permintaan dari Timur Tengah belum membuat kinerja ekspor perusahaan ikut terpuruk. Pasar lain, terutama negara-negara berkembang, menjadi penopang di tengah ketidakpastian global.

"Di Timur Tengah akan menurun karena situasinya seperti itu. Tetapi negara lain naik, sehingga total ekspor kita malah naik 2,5%, meskipun total ekspor Indonesia secara keseluruhan turun 10%," kata Nandi dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di BSD, Rabu (14/10/26).


Perbedaan kondisi antarpasar membuat perusahaan otomotif perlu mengandalkan lebih dari satu kawasan untuk menjaga penjualan. Ketergantungan pada pasar tertentu berisiko membatasi ruang gerak ketika terjadi konflik geopolitik atau perubahan permintaan secara mendadak.

Toyota juga mulai memperhatikan negara-negara berkembang yang memiliki kebutuhan kendaraan sesuai dengan produk yang diproduksi di Indonesia. Kawasan tersebut dinilai berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru bagi ekspor otomotif dalam jangka panjang.

"Kalau kita bicara future market, negara-negara Global South ini sangat penting. Hampir semua melihatnya sebagai pasar masa depan. Siapa yang paling cepat masuk, dia yang akan mendapatkan peluang," ujar Nandi.

Kawasan Global South, sebelumnya disebut sebagai negara berkembang, yang menjadi perhatian mencakup Afrika, Asia Selatan, dan Amerika Latin. Karakteristik pasar di wilayah tersebut memberikan peluang bagi kendaraan yang memiliki harga kompetitif, mudah dirawat, serta mampu memenuhi kebutuhan mobilitas keluarga.

"Secara spesifik kita tidak hanya mengincar satu negara. Kita selalu melihat Global South, yaitu Afrika, Asia Selatan, kemudian Amerika Latin. Itu potensi karena kendaraan kita cocok dengan kebutuhan di sana," ujarnya.

Strategi memperluas pasar menjadi penting ketika kondisi perdagangan internasional masih dibayangi ketidakpastian. Selain mempertahankan pasar yang sudah ada, Toyota perlu memperkuat penetrasi ke negara-negara yang permintaannya masih berpotensi tumbuh.

"Timur Tengah memang sedang turun, tetapi Global South ini future market. Bukan hanya mobil yang bisa kita kembangkan di sana, melainkan juga suku cadang. Potensinya masih banyak," ujarnya.


(dce)
Saksikan video di bawah ini:

Pelaku Industri, DPR, & Bankir 'Ngumpul' Bahas Nasib Sektor Otomotif