Pengusaha Baja Teriak Gas Industri Terbatas, Was-Was Hadapi Masa Sulit

Raudha Acheretta, CNBC Indonesia
Rabu, 14/10/2026 15:45 WIB
Foto: (Kiri-kanan) Vice Chairman The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA), Ismail Mandry, Chairman The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA), Willgo Zainar, dan Dirjen Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Setia Diarta saat ditemui di Jakarta, Rabu (14/10/2026). (CNBC Indonesia/Raudha Acheretta)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasokan gas industri kembali menjadi sorotan. Pengusaha menyebut, pasokan gas terbatas membuat kinerja industri baja nasional jadi terbatas.

Hal itu diungkapkan Vice Chairman IISIA Ismail Mandry usai bertemu Menteri Perindustrian (Menperin) M Sarmuji di kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Rabu (14/10/2026). Hadir dalam audiensi tersebut, Chairman IISIA Willgo Zainar dan Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Setia Diarta.

"Mengenai HGBT, yaitu harga gas, sekarang kami mendapat kuota tapi hanya bisa kita gunakan 60% saja, kemudian dibatasi dengan kuota-kuota lainnya," ungkap Ismail.


"Sehingga tidak bisa kita gunakan gas itu sebagai energi menggerakkan industri baja secara penuh. Dan ini akan menyulitkan kami pada waktu-waktu mendatang," tambahnya.

Saat ditanya kenapa hanya bisa menggunakan 60% kuota, Ismail menyarankan menanyakan langsung kepada PGN.

"Itu yang kami alami, kalau ditanya kenapa, tentu tanya ke PGN. Katanya gasnya kurang dan seterusnya dan seterusnya," ucap Ismail.

Sementara, sambung dia, saat ini dunia mengalami kelebihan pasokan baja. IISIA mencatat, setidaknya ada kelebihan pasokan atau excess over produksi baja dunia hingga mencapai sekitar 640 juta ton. Dari angka itu, China ditaksir bekontribusi 120-an juta ton.

Di sisi lain, negara-negara seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa disebut tengah membatasi masuknya baja dari China. Kondisi ini tentu akan menjadikan Indonesia sebagai sasaran untuk pasar kelebihan pasokan baja dunia.

Sementara, utilisasi pabrik di Indonesia saat ini baru berkisar 43-57%.

IISIA pun meminta pemerintah melakukan pembatasan impor. Kecuali memang jika baja atau produk bajanya tidak bisa diproduksi di Indonesia, keran impor baru boleh dibuka.

"Bisa kalian bayangkan China bisa produksi 1,2 miliar ton. Kita cuma 18 juta. Tadi pak Chairman sudah menyampaikan bahwa masuknya 102 juta ton mau lepas ke mana? Sementara negara lain sudah proteksi. Kalau kita memberi kelonggaran, tutup semua industri kita. 18 juta ton, mereka 1,2 miliar ton," tukas Ismail.

Sementara, Chairman IISIA Willgo Zainar mengatakan, utilisasi industri baja nasional masih bisa ditingkatkan.

"Kami tadi laporkan bahwa utilisasi industri baja kita ini masih rendah, kisaran 43-57%. Ini bisa ditingkatkan lagi," kata Willgo kepada wartawan, usai audiensi.

"Tentunya kami berharap industri kita bisa berdaya saing. Saat ini gempuran baja impor itu luar biasa. Tidak terbatas pada produk China, tapi juga produk-produk negara lainnya," ujarnya.

Menperin Tak Mau Cuma Proteksi

Usai audiensi, Menteri Perindustrian (Menperin) M Sarmuji mengungkapkan isu bahan baku dan daya saing jadi topik yang dibahas dalam pertemuan dengan dua asosiasi pengusaha hari ini, yakni dengan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman. Dan dengan Chairman IISIA Willgo Zainar dan Vice Chairman IISIA Ismail Mandry.

"Kalau tentang industri baja, isunya daya saing. Gempuran baja dari luar negeri luar biasa, harganya lebih murah. Tentu harus ada proteksi untuk industri strategi seperti baja," kata Sarmuji.

"Tapi proteksi saja tak cukup. Isu selanjutnya adalah apakah daya saing industri kita bisa tingkatkan. Sehabat apa pun kita memproteksi, tentu ada jangka waktunya. Sekuat apa sih kita," tukasnya.

Karena itu, ujarnya, harus ada peningkatan daya saing industri.

"Kalau diimbangi dengan peningkatan daya saing, tentu industri kita akan lebih resilience ke depan," ucapnya.

"Proteksi pasti pembatasan, tarif maupun nontarif. Tapi kita mau lebih dari itu, tidak hanya proteksi. Tapi juga peningkatan daya saing. Kita akan sama-sama akan cari formula, kita akan ketemu lagi merumuskan peningkatan daya saing industri baja," tegas Sarmuji.

Menteri Perindustrian (Menperin), M Sarmuji saat ditemui di Jakarta, Rabu (14/10/2026). Foto: (CNBC Indonesia/Raudha Acheretta)


(dce/dce)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Gangguan Gas Industri Bikin Daya Saing RI Turun & Investor Lari