BUMN Tekstil Akuisisi Sritex Butuh Berapa Duit? Ini Jawaban Menperin
Jakarta, CNBC Indonesia - Dana yang dibutuhkan untuk mengakuisisi PT Sritex diprediksi bisa mencapai Rp100 triliun. Hal itu disampaikan Menteri Perindustrian (Menperin) M Sarmuji saat ditemui wartawan di kantornya, Rabu (14/10/2026). Hanya saja tidak dijelaskan lanjut, apakah dana tersebut sepenuhnya untuk mengakuisisi Sritex atau dana yang dibutuhkan pemerintah untuk mendirikan ekosistem BUMN Tekstil.
Jika mengulik catatan CNBC Indonesia pada Januari 2025, Tim Kurator perkara kepailitan PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL/ Sritex) mengungkapkan data total tagihan yang didaftarkan sebesar Rp 32.632.138.726.163. Nilai itu berdasarkan tagihan kreditur preveren, tagihan kreditur separatis, dan tagihan kreditur konkuren.
Sarmuji menambahkan, detail rencana akuisisi itu ada di tangan Danantara.
"Bisa tanyakan ke Danantara detailnya. Tapi Kementerian Perindustrian siap untuk mendukung, terutaa ekosistem pertekstiklannya ya," ucap Sarmuji.
"Kalau dana berapanya, Danantara yang tahu persis. Setahu saya sih Rp100 triliun lebih," kata Sarmuji.
Sebelumnya, Sarmuji juga telah mengungkapkan rencana pemerintah mengakuisisi raksasa tekstil yang dinyatakan pailit pada 21 Oktober 2024 silam itu.
Di mana, pemerintah memang berencana membentuk badan usaha milik negara (BUMN) khusus tekstil. Rencananya, BUMN tekstil itu akan mengambil alih PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex).
Sarmuji mengatakan, perusahaan pelat merah tersebut nantinya akan menjadi wadah untuk mengembangkan perusahaan tekstil yang sudah ada. Pemerintah ingin menggabungkan keunggulan masing-masing perusahaan agar industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional memiliki daya saing yang lebih kuat.
"Memang nanti ada beberapa perusahaan tekstil yang diakuisisi. Iya [termasuk Sritex], dan beberapa perusahaan nanti diakuisisi," ujar Sarmuji dikutip Rabu (14/10/26).
CEO Danantara Rosan Roeslani pun sebelumnya mengungkapkan, pemerintah berencana mendirikan perusahaan baru untuk mengembangkan perusahaan-perusahaan tekstil yang telah beroperasi di Indonesia. Perusahaan tersebut juga dirancang menjadi penggerak integrasi kawasan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional.
"Kita akan bikin perusahaan baru unutk bisa mengembangkan perusahaan-perusahaan yang sudah ada. Kita lihat bisa berpartner dengan yang sudah ada," ujar Rosan pada akhir September lalu.
Meski demikian, skema pendanaan dan pelaksanaan rencana tersebut masih perlu diperjelas. Pemerintah sebelumnya menyebut kebutuhan investasi untuk pembentukan BUMN Tekstil diperkirakan mencapai US$ 6 miliar atau setara sekitar Rp100 triliun.