Polusi ozon, kebakaran, panas ekstrem, dan kekeringan melemahkan kemampuan Amazon menyerap CO2, memperburuk risiko perubahan iklim.
Kawasan hutan hujan Amazon yang telah digunduli terlihat terbakar selama musim kemarau di Autazes, negara bagian Amazonas, Brasil, Senin (12/10/2026). Kondisi ini diperparah oleh polusi ozon dari kebakaran, suhu ekstrem, dan kekeringan yang semakin mengurangi kemampuan hutan menyerap karbon dioksida (CO2). Dua penelitian terbaru menunjukkan, penurunan daya serap karbon hutan tropis tersebut berpotensi memperburuk perubahan iklim. (REUTERS/Bruno Kelly)
Dilansir Inside Climate News, Rabu (14/10/2026), hutan Amazon dan hutan lainnya menyerap lebih dari seperempat emisi CO2 akibat aktivitas manusia setiap tahun, atau lebih dari 11 miliar ton metrik. Namun, semakin luas kawasan hutan yang melepaskan lebih banyak CO2 daripada yang diserap, terutama saat terjadi kekeringan dan gelombang panas. (REUTERS/Bruno Kelly)
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Communications Earth & Environment menemukan bahwa asap kebakaran hutan, pembakaran lahan pertanian, dan pembukaan hutan memicu pembentukan ozon yang merusak daun, termasuk di wilayah yang jauh dari sumber api. (REUTERS/Bruno Kelly)
Dampak kebakaran pun menjadi berlipat karena selain melepaskan CO2 secara langsung, kebakaran juga mengurangi kemampuan pohon yang tersisa menyerap karbon. Penurunan penyerapan tersebut setara dengan sekitar 24% dari karbon yang dilepaskan kebakaran. (REUTERS/Bruno Kelly)
Sementara itu, penelitian dalam jurnal Earth's Future menemukan bahwa panas ekstrem dan kekeringan yang melanda Amazon serta hutan tropis lainnya selama El Niño pada 2023 dan 2024 berpotensi terjadi hampir setiap tahun dalam 20 hingga 30 tahun mendatang. Kondisi ini dapat memangkas penyerapan CO2 sekaligus mengganggu siklus kelembapan antara hutan dan atmosfer. (REUTERS/Bruno Kelly)
Penelitian tersebut mencatat seluruh hutan tropis mengalami suhu yang tidak biasa tingginya selama rata-rata 18 bulan yang beririsan dengan El Niño, sementara 80% kawasan hutan lebih kering dari rata-rata. Amazon menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak. Setelah dua tahun mengalami kekeringan, permukaan air di pelabuhan Manaus, Brasil, turun ke level terendah dalam lebih dari satu abad pencatatan. (REUTERS/Bruno Kelly)
Johanna Van Passel dari Ghent University, Belgia, memperingatkan panas ekstrem berulang dapat memicu penurunan curah hujan berkepanjangan. Saat hutan mengalami tekanan, kemampuannya mendukung pembentukan hujan berkurang sehingga hutan di sekitarnya ikut terdampak. Bahkan jika emisi karbon manusia dihilangkan atau dinetralkan pada 2075, risiko panas ekstrem dan kekeringan di wilayah tropis pada akhir abad ini diperkirakan enam kali lebih besar dibandingkan 25 tahun terakhir. (REUTERS/Bruno Kelly)
Dalam skenario emisi tinggi, kondisi ekstrem seperti pada 2023 dan 2024 diproyeksikan terjadi setiap tahun di sebagian besar wilayah tropis pada 2040-an, dengan atau tanpa El Niño. Kebakaran lahan pertanian yang tidak terkendali juga melepaskan nitrogen oksida yang bereaksi dengan molekul organik membentuk ozon. Meski kerusakan akibat ozon menurun pada 1997-2024 seiring peningkatan CO2, dampak kebakaran, kekeringan, dan suhu tinggi tetap lebih besar. (REUTERS/Bruno Kelly)
Peneliti Flossie Brown dari ETH Zurich, Swiss, menyebut kekeringan ekstrem sebagai salah satu ancaman terbesar bagi Amazon yang berkembang dalam lingkungan lembap. Untuk mengurangi kerusakan, ia menekankan perlunya pengelolaan pembakaran lahan pertanian yang lebih baik, penggunaan metode selain membakar, serta upaya memperlambat deforestasi dan degradasi hutan. (REUTERS/Bruno Kelly)