MARKET DATA

Kadin Bidik Investasi Rp 2.300 T Saat Ekonomi RI Dibayangi Tekanan

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
13 October 2026 19:55
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Inonesia (KADIN), Anindya Novyan Bakrie menyampaikan pemaparan saat melakukan pertemuan Pengusaha KADIN Pusat dan Daerah Seluruh Indonesia bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (31/7/
Foto: Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Inonesia (KADIN), Anindya Novyan Bakrie menyampaikan pemaparan saat melakukan pertemuan Pengusaha KADIN Pusat dan Daerah Seluruh Indonesia bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (31/7/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Arus keluar dana asing dari pasar modal Indonesia menjadi salah satu tantangan yang membayangi perekonomian nasional. Di tengah tekanan tersebut, dunia usaha masih dihadapkan pada target investasi yang terus meningkat, dari Rp2.000 triliun pada 2026 menjadi Rp2.300 triliun pada 2027.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie mengungkapkan, dana asing yang keluar dari pasar modal Indonesia sepanjang tahun ini mencapai sekitar Rp80 triliun. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa pelaku usaha perlu lebih berhati-hati dalam membaca prospek ekonomi, terutama ketika pasar keuangan tengah menghadapi tekanan.

Anindya juga menyoroti penurunan kinerja pasar modal yang disebut mencapai 31%. Jika ditambah dengan dampak perubahan nilai tukar, penurunannya diperkirakan mendekati 40%.

"Jadi memang kita di Kadin bisa dibilang mesti memilih, apakah mau ke kiri atau ke kanan. Soalnya di satu sisi, data memperlihatkan tahun ini sudah ada Rp80 triliun dana asing keluar dari pasar modal. Saat ini pasar modal turun 31%, kalau ditambah nilai tukar tadi yang naik 7% lagi, penurunannya jadi 38% atau hampir 40%," ujar Anindya dalam Rapat Koordinasi Nasional Bidang Investasi, Hilirisasi, Energi, dan Lingkungan Hidup Kadin di Jakarta, Selasa (13/10/2026).

Tekanan ekonomi dan pasar keuangan bukan satu-satunya tantangan yang perlu diperhitungkan. Indonesia juga menghadapi risiko bencana alam, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi serta menimbulkan dampak sosial.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6% pada 2027. Target ini berjalan beriringan dengan ambisi meningkatkan realisasi investasi menjadi Rp2.300 triliun pada tahun depan, lebih tinggi dibandingkan target Rp2.000 triliun pada 2026.

Anindya menilai, perubahan kondisi ekonomi juga dapat menggeser peta persaingan di dunia usaha. Ia mengacu pada pengalaman krisis ekonomi 1997-1998 yang menunjukkan bahwa masa sulit dapat memicu perubahan besar dalam struktur bisnis dan persaingan.

"Setiap ada krisis itu selalu ada change of guards, pergantian pemain. Pasti itu," kata Anindya.

Bagi dunia usaha, tantangannya adalah membaca perubahan tersebut sekaligus menentukan peluang yang masih bisa dikembangkan. Peluang investasi tetap perlu dibidik, tetapi keputusan bisnis tidak bisa hanya didasarkan pada optimisme terhadap target pertumbuhan ekonomi. Perhitungan risiko tetap diperlukan agar rencana investasi dapat berjalan secara realistis.

"Namun, tidak bisa kita optimistis serta-merta hanya karena ingin kelihatan hebat. Tentu kita mesti hati-hati dalam menentukan pilihan," ujar Anindya.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article UU Ketenagakerjaan Masuk Rezim Baru, Pengusaha Minta Ikut Dilindungi


Most Popular
Features