50% Bensin RI dari Luar Negeri, Begini Strategi Bahlil Kurangi Impor

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Selasa, 13/10/2026 14:20 WIB
Foto: Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia saat tiba di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa lebih dari 50% kebutuhan bensin nasional saat ini masih ketergantungan pada impor luar negeri. Untuk menekan ketergantungan tersebut, pemerintah menyiapkan strategi melalui optimasi lifting minyak bumi serta penerapan mandatori campuran etanol E50 yang dimulai bertahap pada tahun 2027 mendatang.

Bahlil yang juga menjabat sebagai Menteri ESDM memaparkan bahwa total konsumsi bensin nasional saat ini mencapai 40 juta kiloliter per tahun. Sementara itu, kemampuan produksi bensin kilang dalam negeri baru berkisar 18-19 juta kiloliter per tahun, sehingga lebih dari 21 juta kiloliter sisanya harus didatangkan dari luar negeri.

"Untuk bensin, kita konsumsi kita 40 juta kiloliter. Produksi kita dalam negeri tidak lebih dari 18 sampai 19 juta, selebihnya kita masih impor," ujar Bahlil dalam acara Rakernas Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI), di Jakarta, Senin (12/10/2026).


Dalam mengatasi ketergantungan tersebut, Bahlil menegaskan pentingnya mengoptimalkan seluruh potensi sumber energi dalam negeri, baik dari peningkatan lifting minyak maupun bahan bakar nabati. Pemerintah sendiri berencana mendorong kebijakan campuran bioetanol 50% (E50) ke BBM jenis bensin secara bertahap.

"Bagaimana itu caranya membuat clear? Kita mau dorong etanol. Kita mau dorong sampai dengan E50, belajar daripada solar yang B50," imbuhnya.

Program mandatori etanol yang wajib diterapkan mulai 2027 itu bakal memanfaatkan bahan baku lokal dari tebu, singkong, dan jagung. Kebijakan tersebut juga dirancang untuk membuka pasar bagi hasil pertanian masyarakat sekaligus membangun kawasan pertumbuhan ekonomi baru di daerah.

Pemerintah optimistis strategi bioetanol ini dapat mengekor keberhasilan program B50 pada BBM jenis solar. Dari total konsumsi solar nasional sebesar 39 juta kiloliter, Indonesia saat ini sudah bebas dari impor solar berkat pencampuran 50% Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis CPO sawit.

Bahlil menambahkan bahwa pengembangan etanol menjadi pilihan paling rasional di tengah tingginya harga minyak mentah dan gejolak geopolitik dunia. Langkah serupa juga telah terbukti sukses diterapkan di negara lain seperti Brasil yang sudah mencapai E100 serta Amerika Serikat (AS).

"Dan dengan harga minyak dunia yang tinggi seperti sekarang, etanol itu energi alternatif yang harganya jauh lebih bisa dijangkau," tandasnya.

Siapkan Lahan 2 Juta Hektare

Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto pada Rabu malam (16/9/2026) melakukan rapat terbatas bersama sejumlah Menteri Kabinet terkait dengan implementasi program campuran bahan bakar nabati bioetanol 20% atau E20.

Program itu ditargetkan akan diimplementasikan pada 2028 mendatang.

"Ratas dipimpin Bapak Presiden langsung kita membahas agar 2 tahun mendatang kita sudah bisa produksi paling kurang E20," kata Menko Pangan Zulkifli Hasan, usai rapat.

Dari rapat itu, menurut Zulhas mengatakan, Presiden meminta Menteri Pertanian Andi Amran menyiapkan rencana penyediaan lahan untuk memproduksi bahan baku bioetanol. Sedangkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara diminta untuk menyiapkan industri pengolahan.

"Danantara nanti industrinya ya, mengonversi Etanol itu yang paling memungkinkan ternyata dari tebu, ya. Menyiapkan lahannya lebih kurang 2 juta hektar. Ada yang dari luar Jawa, ada yang dari Jawa, ada dari Sumatra, akan siapkan," kata Zulhas.

"Dalam 2 tahun kita harus bekerja keras melihat perkembangan dunia sekarang, kita harus mampu untuk menghasilkan E20. Itu, kira-kira itu intinya tadi," tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Zulhas pun tidak menampik bahwa penyediaan lahan untuk bahan baku etanol kerap menjadi kendala. Namun setelah dibahas dalam rapat bisa di diputuskan bahwa ada alokasi lahan yang bisa disediakan seluas 2 juta hektare di Kalimantan, Sumatra, Papua, dan Jawa untuk tanaman tebu.

"Untuk tahap pertama tadi itu 2 juta hektare, bottleneck-nya lahan, ya. Tapi setelah dipetakan, ditugaskan kepada BUMN dan Pak Mentan tadi dipetakan, kemungkinan kita akan dapat 2 juta itu," tuturnya.

Lebih lanjut, menurutnya kebijakan ini tidak hanya berhenti di E20, melainkan campuran etanol dalam bensin akan ditingkatkan hingga komposisi 50% atau (E50).

"E20 dalam negeri semuanya. Bertahap kita akan menuju E50 seperti B50, tapi yang pertama ini E20. Jangka panjang akan menuju E50," tuturnya.


(pgr/pgr)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Prabowo Rombak Kabinet, Sugiono - Bahlil Diangkat Jadi Menko