MARKET DATA

Miris Nasib Nelayan RI, Harta di Laut Dicuri-Tak Bisa Makan Tanpa Ini

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
12 October 2026 17:50
Pemerintah resmi membentuk Satgas Pemberantasan Pengeluaran Benih Bening Lobster (Satgas P2BBL) di Auditorium KKP, Jakarta, Senin (12/10/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Foto: Pemerintah resmi membentuk Satgas Pemberantasan Pengeluaran Benih Bening Lobster (Satgas P2BBL) di Auditorium KKP, Jakarta, Senin (12/10/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menyoroti lemahnya kesejahteraan nelayan Indonesia di tengah besarnya potensi sumber daya laut nasional. Dia menyebut pencurian sumber daya laut menyebabkan kerugian negara hampir Rp200 triliun per tahun.

"Kata Pak Treng (Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono) kita dicuri per tahun hampir Rp200 triliun, karena nelayan kita lemah," ujar Zulkifli dalam peluncuran Satuan Tugas Pemberantasan Pengeluaran Benih Bening Lobster (Satgas P2BBL) di Jakarta, Senin (12/10/2026).

Menurut Zulhas, kondisi ekonomi nelayan yang masih terbatas dapat menghambat kemampuan mereka dalam memanfaatkan sekaligus menjaga kekayaan laut Indonesia. Padahal, nelayan menjadi salah satu kelompok masyarakat yang berada di garis depan dalam menjaga wilayah perairan nasional.

Dia memaparkan, nilai tukar nelayan (NTN) Indonesia pada 2025 masih berada di level 103,9. Angka tersebut menunjukkan indeks harga yang diterima nelayan masih sedikit lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang mereka bayarkan untuk kebutuhan produksi dan konsumsi.

"Nilai tukar nelayan tahun 2025 103,9, 103.. Ah ini, ini nggak bisa makan kalau nggak ada bantuan beras. Dia nggak bisa sekolahkan anaknya kalau tidak dibantu bantuan tunai. 103. Berarti nelayan itu masuk kategori desil 1. Artinya ini termasuk sangat miskin," katanya.

Adapun data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan NTN sempat mencapai 104,69 pada 2021 dan naik menjadi 106,45 pada 2022. Namun, indeks tersebut turun menjadi 105,40 pada 2023 dan 101,76 pada 2024, sebelum kembali meningkat ke 103,86 pada 2025.

Zulhas menilai kondisi kesejahteraan nelayan tidak bisa terus dibiarkan. Menurutnya, nelayan Indonesia berisiko kalah bersaing dengan nelayan dari negara lain, seperti China, Vietnam, Thailand, dan Jepang, yang dinilai memiliki kemampuan ekonomi lebih kuat.

Dia juga mengingatkan lemahnya posisi nelayan domestik dapat berdampak terhadap pengelolaan sumber daya laut Indonesia. Ketika nelayan dalam negeri tidak mampu bersaing, pemanfaatan kekayaan perairan nasional berisiko lebih banyak dinikmati pihak asing.

Untuk memperbaiki kondisi tersebut, Presiden Prabowo Subianto telah menugaskan Menteri Kelautan dan Perikanan (MenKP) Sakti Wahyu Trenggono melakukan terobosan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan. Pemerintah menargetkan NTN naik menjadi minimal 120 pada 2027.

"Pak Menteri Kelautan ditargetkan oleh Bapak Presiden tahun ini dan tahun depan untuk melakukan suatu terobosan besar-besaran, agar nilai tukar (NTN) ini bisa meningkat dari 103 minimal tahun depan sudah bisa 120. Ada kampung nelayan dan lain-lain," terang dia.

Pemerintah berharap peningkatan kesejahteraan nelayan dapat berjalan beriringan dengan penguatan pengawasan laut dan pemberantasan praktik ilegal, termasuk penyelundupan benih bening lobster.

Dengan demikian, potensi sumber daya laut Indonesia diharapkan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat dan negara.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Zulhas Targetkan Hidup Nelayan Berubah Total di Tahun Depan


Most Popular
Features