MARKET DATA

Amran Ungkap Mafia Pangan Masih Bergentayangan, Berikan Bukti Ini

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
12 October 2026 14:25
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menandatangani Surat Edaran bersama tentang pengelolaan sarana dan prasarana, serta ketenagaan penyuluhan pertanian dalam rangka swasembada pangan berkelanjutan di Jakarta,
Foto: Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menandatangani Surat Edaran bersama tentang pengelolaan sarana dan prasarana, serta ketenagaan penyuluhan pertanian dalam rangka swasembada pangan berkelanjutan di Jakarta, Senin (12/10/2026). (CNBC Indonesia/Robertus Andrianto Serin)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyoroti anomali harga pangan yang membuat peternak merugi, tetapi konsumen tetap harus membeli dengan harga tinggi. Kondisi ini dinilai mengindikasikan adanya persoalan serius dalam rantai distribusi pangan, termasuk dugaan permainan harga oleh mafia pangan.

Amran mengungkapkan anomali tersebut terlihat pada sejumlah komoditas yang menjadi perhatian, yakni telur ayam, daging ayam ras, dan beras.

Amran membeberkan temuannya di tingkat produsen, harga sejumlah komoditas justru berada di bawah harga pokok produksi (HPP), sementara harga di tingkat konsumen tetap tinggi

Amran menduga terdapat pihak perantara atau *middleman* yang memainkan harga sehingga keuntungan tidak dinikmati peternak, sementara masyarakat tetap terbebani oleh mahalnya harga pangan.

"Itu yang paling menonjol, tiga ini menonjol. Tapi lucu di harga di produsen di bawah HPP pemerintah. Jadi Karena harga rendah Peternaknya demo. Tapi dalam waktu bersamaan, konsumen juga berteriak. Artinya ada middleman. Ada mafia," tegas Amran kepada awak media di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta pada Senin (12/10/2026).

Ia mencontohkan harga ayam yang berada di kisaran Rp20.000-Rp21.000 per kilogram di tingkat produsen. Namun, harga yang dibayarkan konsumen dapat mencapai Rp40.000-Rp45.000 per kilogram.

Kesenjangan harga yang lebar tersebut menjadi sorotan pemerintah karena menunjukkan adanya persoalan yang perlu ditelusuri dalam rantai perdagangan, mulai dari produsen hingga konsumen akhir.

Anomali ini, menueut Amran, juga menyebabkan inflasi tinggi karena harga di tingkat konsumen yang terlampau tinggi karena selisih harga yang sangat lebar dengan harga produksi.

Selain ayam dan telur, Amran juga menyoroti persoalan beras. Ia mempertanyakan alasan tingginya harga ketika kondisi stok beras pemerintah justru melimpah.

Amran membandingkan kondisi saat ini dengan situasi sebelumnya, ketika keterbatasan stok kerap disebut sebagai penyebab persoalan beras. Kini, kapasitas gudang yang disebut sekitar 3 juta ton telah terlampaui oleh stok yang mencapai 4,5 juta ton.

Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya menjadi dasar untuk mengevaluasi kembali faktor-faktor yang memengaruhi harga beras di pasar.

Amran juga mengungkap dugaan penyimpangan terkait beras fortifikasi, yakni beras yang diperkaya zat gizi seperti vitamin B12 dan ditujukan untuk membantu pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Ia mengeklaim menemukan beras yang seharusnya dijual dengan harga terjangkau justru dipasarkan dengan harga jauh lebih tinggi.

Misalnya saja fortifikasi Adalah beras yang diberikan Vitamin B12 Itu untuk fakir miskin Tapi dijual Rp56.000. Itu palsu penipuan, kenapa beras biasa harganya Rp13.500 tapi dijual Rp56.000.

Hal ini disebut Amran merugikan negara hingga Rp89 triliun pada 2026 dan dirinya berjanji akan menuntaskan persoalan ini.

"Untungnya berapa Rp40.000 lebih per kilo dan kerugian rakyat Penipuan dilakukan terhadap rakyat Rp89 triliun untuk tahun ini. Ini kita harus bereskan dan itu perintah Bapak Presiden, Pak Mentan jangan beri ruang mafia bermain di tengah rakyat kecil," tegas Amran.

Pemerintah, kata Amran, tidak ingin persoalan tersebut terus berulang. Ia menegaskan perlunya penindakan terhadap pihak-pihak yang terbukti melakukan manipulasi harga dan merugikan masyarakat.

Amran menyebut pihaknya telah menyurati Kapolri untuk mendorong kolaborasi dalam memberantas dugaan praktik mafia pangan.

"Udah kami sangat yakin beliau (Menter Dalam Negeri Tito Karnavian). Makanya kami sudah menyurat Pak Kapolri dan Pak Mendagri kolaborasi. Ini harus diberesin. Ini menyesengsarakan rakyat kecil," pungkasnya.

(ras/wur) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Amran Surati Kapolri-Menteri Tito Gegara Modus Penipuan Fakir Miskin


Most Popular
Features