Top! Kredivo Perluas Literasi Keuangan Hingga ke Ambon
Jakarta, CNBC Indonesia - Kredivo konsisten memperluas program edukasi finansial "Generasi Djempolan" ke berbagai kota di Indonesia. Untuk pertama kalinya program edukasi ini hadir di Ambon, Maluku.
Kehadiran program di Ambon menjadi bagian dari upaya Kredivo memperluas jangkauan program literasi keuangan di kawasan Indonesia Timur, setelah sebelumnya hadir di Kupang dan Makassar.
Pentingnya literasi keuangan tercermin dari Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo bersama Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI), yang mencatat 65,7% pengguna Kredivo tergolong well-literate secara finansial. Sementara itu, rata-rata Debt-to-Income Ratio di kisaran 10-19% dari total pendapatan atau tergolong sangat aman.
Capaian ini perlu terus diperkuat, khususnya bagi generasi muda yang baru mulai mengelola keuangan secara mandiri. Momentum kehadiran Generasi Djempolan di Ambon turut bertepatan dengan Bulan Inklusi Keuangan yang diperingati setiap Oktober.
Chief Marketing Officer Kredivo Indina Andamari, mengatakan, bagi Kredivo, meningkatnya inklusi keuangan perlu dibarengi literasi yang memadai, agar generasi muda tak hanya memiliki akses, tapi juga kemampuan mengelolanya secara bijak. Hal inilah yang melatarbelakangi hadirnya Generasi Djempolan sejak 2020.
"Selama enam tahun terakhir, kami percaya bahwa literasi keuangan adalah fondasi utama sebelum generasi muda mengakses layanan keuangan digital. Indonesia Timur adalah kawasan dengan potensi ekonomi digital yang terus tumbuh dan populasi muda yang besar, sehingga penting bagi kami untuk hadir dan memastikan momentum pertumbuhan ini dibarengi kesiapan literasi yang memadai," ungkap dia dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (9/10/2026).
"Kali ini, Generasi Djempolan hadir di Ambon untuk membekali generasi muda agar menjadi konsumen digital yang cerdas dan bertanggung jawab. Ke depan, Indonesia Timur juga menjadi wilayah yang kami fokuskan untuk perluasan edukasi literasi," tambah dia.
Pada tahun keenam pelaksanaannya, Generasi Djempolan yang menyasar mahasiswa Universitas Pattimura di Ambon ini mengangkat tema "Jago Atur Keuangan, Siap Hadapi Masa Depan". Program ini sebelumnya telah menyambangi ribuan generasi muda di Makassar, Pontianak, Manado, Kupang, Semarang, Solo, Jakarta, Palu, Banjarmasin, Batam, dan Bandung.
Program ini konsisten membawa tiga prinsip utama bagi generasi muda dalam mengelola keuangan. Di antaranya set priority atau kemampuan menentukan prioritas dan batasan pengeluaran sesuai kemampuan, value over price atau memahami nilai suatu pengeluaran alih-alih sekadar mengejar harga murah, dan best of both worlds atau menjadi tech-savvy sekaligus financially savvy.
Jumlah rekening buy now pay later (BNPL) secara nasional pun tercatat mencapai 33,55 juta akun per Juli 2026 atau tumbuh 33,54% secara tahunan. Sementara itu, temuan Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo mencatat 57% pengguna Kredivo merupakan generasi muda, dan mayoritas memanfaatkannya untuk membantu mengatur keuangan sehari-hari, 51,4% mengaku terbantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan 32,4% untuk kebutuhan mendesak.
Bila digunakan secara terencana, PayLater dapat membuka akses kredit pertama bagi generasi muda, membantu kelola cash flow, hingga membangun skor kredit.
Inisiatif perluasan edukasi literasi ini turut didukung oleh pertumbuhan pengguna Kredivo di Ambon dan kawasan Indonesia Timur. Tercatat, pertumbuhan pengguna aktif di Ambon bertumbuh hingga 4,5 kali lipat sejak 2022 sampai 2025 dengan mayoritas didominasi oleh kelompok usia produktif 26-35 tahun.
Tren ini menunjukkan besarnya potensi generasi muda Ambon sebagai bagian dari ekosistem keuangan digital yang terus berkembang di Indonesia Timur.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pattimura, Evelin Watumlawar, menilai kurangnya pemahaman pengelolaan keuangan sejak masa kuliah kerap berujung pada perencanaan finansial yang kurang matang, terlebih di tengah maraknya ajakan "YOLO" dan "FOMO". Kuncinya, kata Evelin, terletak pada responsible borrowing dan smart spending secara konsisten.
"Generasi muda hari ini punya akses keuangan digital paling luas sepanjang sejarah. Tapi akses tanpa kendali sama saja jebakan. Kuncinya bukan menahan diri dari hidup enak, tapi tahu batas aman untuk kantong sendiri, dan memastikan fintech dipakai untuk membantu, bukan justru membebani," terang dia.
Berikut hal yang bisa dilakukan mahasiswa agar tetap bijak dan tidak terjebak utang di tengah tren FOMO dan YOLO
-Perhatikan legalitas fintech, pinjam sesuai kebutuhan bukan keinginan
-Susun budget bulanan dan pantau cash flow secara rutin
-Terapkan mindful spending: kebutuhan atau sekadar keinginan
-Bijak menyikapi media sosial agar tak mudah terpengaruh tren
(dpu/dpu)