Menkeu Warning Volatilitas Global Naik, RI Hadapi Ancaman Baru
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan peningkatan volatilitas dan ketidakpastian global menjadi risiko baru yang perlu diwaspadai Indonesia.
Kondisi ini dipicu perkembangan geopolitik yang semakin dinamis, yang berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia hingga pergerakan harga komoditas.
Suahasil mengatakan, perkembangan geopolitik, termasuk dinamika yang melibatkan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Rusia, telah meningkatkan ketidakpastian perdagangan global. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi perekonomian dunia, baik negara maju maupun negara berkembang.
"Prospek ekonomi global masih dibayangi perkembangan geopolitik. Kemarin NATO, Rusia juga muncul ceritanya. Berakibat indikator volatilitas meningkat," ujar Suahasil dalam pemaparan APBN KiTa, Jumat (9/10/2026).
Adapun, indikator volatilitas yang meningkat antara lain Indikator volatilitas pasar obligasi (VIX), indeks volatilitas pasar obligasi (MOVE) dan indeks volatilitas minyak (OVX).
Ia menjelaskan, proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan lebih rendah dibandingkan 2025. Perlambatan tersebut berpotensi berdampak terhadap permintaan dan harga komoditas dunia, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian pemerintah adalah harga minyak mentah Brent yang berada di level US$105 per barel. Kenaikan harga minyak dapat memberikan tekanan terhadap anggaran negara, baik dari sisi pendapatan maupun belanja, bergantung pada perkembangan harga energi dan dampaknya terhadap perekonomian domestik.
Di sisi lain, sejumlah komoditas unggulan Indonesia menunjukkan tren harga yang kurang menggembirakan. Suahasil menyebut harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) mengalami kecenderungan menurun selama beberapa bulan pada 2026.
Tren serupa juga terlihat pada harga nikel. Sementara itu, harga emas telah mengalami penurunan sejak Maret dan kembali menunjukkan tren melemah pada periode Juli-Agustus. Harga tembaga juga menghadapi perkembangan yang searah, sedangkan harga batu bara relatif berada pada level tertentu.
Pergerakan harga komoditas tersebut perlu dicermati karena dapat memengaruhi penerimaan negara, terutama dari sektor sumber daya alam dan perdagangan internasional.
Meski demikian, Suahasil menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat dalam menghadapi berbagai guncangan eksternal. Pertumbuhan ekonomi nasional masih menunjukkan kinerja positif, dengan pertumbuhan yang disebut berada di level 5,4%.
Pemerintah kini menantikan rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 dari Badan Pusat Statistik (BPS) untuk melihat lebih lanjut ketahanan ekonomi domestik di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
"Kita bersyukur RI resiliensi tinggi. Pertumbuhan masih baik 5,4%. Sekarang kita menunggu BPS pertumbuhan kuartal III," katanya.
Selain ketidakpastian geopolitik dan pelemahan sejumlah harga komoditas, pemerintah juga mewaspadai kenaikan harga minyak, suku bunga global yang bertahan tinggi lebih lama atau higher for longer, serta penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Suahasil menjelaskan, sejumlah bank sentral utama masih mempertahankan kebijakan moneter ketat. Situasi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil atau yield obligasi, sekaligus menjadi tantangan bagi perekonomian global dan pasar keuangan.
Penguatan dolar AS juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena dapat menambah tekanan terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia, melalui pergerakan nilai tukar dan kondisi pembiayaan di pasar keuangan.
Berbagai risiko tersebut perlu diantisipasi pemerintah agar tidak mengganggu stabilitas ekonomi maupun pelaksanaan APBN.
"Beberapa guncangan global, risiko ini harus kita kenali, tapi juga harus dimitigasi, kita respons," tegasnya.
(haa/haa)