Proyek Hilirisasi Rp180 T Diresmikan Prabowo, Luhut Sampai Terharu

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Jumat, 09/10/2026 10:25 WIB
Foto: Groundbreaking 11 Ekosistem Hilirisasi Nikel serta Ekspor Perdana Baterai EV, 8 Oktober 2026. (Tangkapan layar youtube Setres RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengaku tersentuh menyaksikan kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah, Maluku Utara, yang dulu diragukan kini berhasil mengekspor sel baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) perdana.

Keberhasilan itu ditandai dengan peresmian komersialisasi ekosistem baterai EV beserta proyek hilirisasi dengan nilai US$10,2 miliar atau Rp180 triliun oleh Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (8/10/2026).

Luhut mengenang awal proses pembangunan Kawasan IWIP yang diwarnai keterbatasan infrastruktur dan keterisolasian wilayah. Ia menilai keberadaan kawasan industri ini terbukti mampu mentransformasi ekonomi daerah sekaligus mengangkat kesejahteraan warga lokal.


"Delapan tahun lalu saat awal proses pembangunannya, Teluk Weda di Halmahera Tengah adalah daerah yang aksesnya terbatas, infrastrukturnya minim, dan tingkat kesejahteraan warga lokalnya memprihatinkan. Waktu kami mendorong program hilirisasi di sini pun, banyak yang skeptis dan menganggapnya mustahil tercapai," ujar Luhut dalam unggahannya di Instagram @luhut.pandjaitan, dikutip Jumat (9/10/2026).

Dia mengungkapkan tansformasi kawasan industri tersebut berdampak langsung pada penyerapan lebih dari 100 ribu tenaga kerja. Dari jumlah tersebut, sebanyak 68 ribu lebih putra dan putri daerah Maluku Utara telah menjalani pendidikan dan sertifikasi untuk menjadi operator mesin berat hingga teknisi spesialis.

"Namun hari ini, keraguan itu dijawab oleh Presiden Prabowo dengan meresmikan komersialisasi ekosistem baterai kendaraan listrik di Kawasan Industri Weda Bay (IWIP). Satu hal yang membuat saya tersentuh adalah perubahan signifikan yang terjadi pada kualitas sumber daya manusia di Maluku Utara," imbuhnya.

Pengembangan ekosistem baterai terintegrasi dari hulu ke hilir ini ditandai dengan realisasi investasi senilai US$ 580 juta pada fasilitas manufaktur sel baterai PT REPT Battero berkapasitas 8 GWh per tahun, yang berpotensi mencatatkan omset hingga US$ 1 miliar per tahun. Selain itu, ekspansi kawasan akan dilanjutkan melalui 11 Proyek Strategis Baru senilai Rp 160 triliun yang berpotensi membuka 13.950 lapangan kerja baru.

"Ada kebanggaan tersendiri saat melihat hasil karya anak-anak Halmahera dibawa menuju ke pasar internasional, hal ini saya kira semakin mempertegas komitmen Indonesia untuk menjadi pemain kunci dalam rantai pasok kendaraan listrik dunia," tutur Luhut.

Momen ekspor perdana sel baterai tersebut berjalan sejajar dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) sejumlah fasilitas baru, mencakup smelter aluminium, pabrik komponen baterai, hingga manufaktur alat berat dan EV dump truck. Pembangunan ekonomi ini juga diimbangi dengan program kontribusi sosial berupa penyediaan infrastruktur desa dan akses air bersih untuk warga sekitar.


(pgr/pgr)
Saksikan video di bawah ini:

Video: September 2026, Pendapatan Negara Rp2.341 T & Defisit 1,24% PDB