Internasional

Perkenalkan "The New Sick Man from Europe": Prancis

sef, CNBC Indonesia
Kamis, 08/10/2026 15:00 WIB
Foto: Aksi protes pelajar Prancis selama beberapa hari terakhir yang disertai kerusuhan besar turut memicu perselisihan sengit di kancah politik, Selasa (6/10/2026). (REUTERS/Yves Herman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Prancis kini dapat julukan baru. Sejumlah laman menjulukinya "The New Sick Man from Europe".

Nilai tukar euro anjlok ke level terendah dalam 17 bulan terhadap dolar karena investor melepas mata uang tunggal tersebut, terutama akibat masalah utang Prancis yang sulit diatasi. Risiko utang negara, yang sebelumnya dianggap hanya terjadi di negara pinggiran Zona Euro, kini perlahan bergeser ke pusat serikat moneter tersebut dan mencapai Prancis yang dikenal sebagai pilar utama dalam keseluruhan proyek Eropa.

Imbal hasil obligasi jangka panjang Prancis melonjak ke tingkat tertinggi dalam hampir seperempat abad sementara kebuntuan politik mengenai cara pemerintah menangani tumpukan utang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pemerintah berupaya mendorong pemangkasan belanja, namun menjelang pemilihan presiden, para politisi oposisi yang bersaing menggantikan Presiden Emmanuel Macron enggan menyetujui langkah penghematan.


Lalu, Apa yang Sebenarnya Terjadi? Fakta Apa Saja yang Membuat Prancis Disebut "The New Sick Man from Europe".

Sebenarnya ada beberapa hal yang terjadi di negara itu. Berikut rangkuman CNBC Indonesia mengutip sejumlah sumber, Kamis (8/10/2026).

Kegagalan Fiskal

Kondisi keuangan Prancis sedang kacau. Defisit anggaran publik negara itu mencapai 5,1% dari PDB pada tahun 2025 sementara rasio utang terhadap PDB menyentuh angka 115%.

Kedua angka tersebut jauh melampaui batas yang ditetapkan UE. Angka-angka ini biasanya hanya terlihat pada masa perang atau setidaknya saat terjadi resesi hebat.

Secara rinci, Prancis telah mengakumulasi utang publik lebih dari €3,5 triliun (Rp70 kuadriliun). Beban utang ini pun semakin berat seiring melonjaknya imbal hasil obligasi negara tersebut, yang terjadi secara drastis selama setahun terakhir.

Sebenarnya, Perdana Menteri (PM) Prancis Sebastien Lecornu berupaya mendorong pemangkasan belanja publik senilai €54 miliar dalam anggaran tahun 2027. Namun pemerintah minoritasnya menghadapi perlawanan sengit di parlemen.

Sementara itu, tidak ada satu pun kandidat utama dalam pemilihan presiden tahun depan yang menawarkan usulan kredibel untuk mengatasi masalah utang tersebut. Ini termasuk Marine Le Pen dari Partai National Rally yang berhaluan kanan maupun Jean-Luc Melanchon dari Partai Sosialis.

Le Pen mengusulkan "aturan emas" untuk membatasi defisit Prancis diputuskan melalui pemungutan suara publik lewat referendum, langkah yang kemungkinan besar akan berujung pada kegagalan aturan tersebut. Sedangkan Melanchon menyerukan pembatalan sekitar seperlima utang publik Prancis sembari meningkatkan belanja publik.

Di saat yang sama, Paris telah berkomitmen untuk meningkatkan belanja pertahanan hingga miliaran euro dalam beberapa tahun mendatang. Pembaruan besar-besaran terhadap anggaran pertahanan negara, yang mengesahkan tambahan dana sebesar €36 miliar untuk periode 2026-2030, telah disetujui oleh para anggota parlemen pada bulan Juni.

"Prancis harus bersiap menghadapi krisis yang terjadi secara bersamaan, berkepanjangan, dan berintensitas tinggi, termasuk di wilayahnya sendiri," ujar Menteri Pertahanan Catherine Vautrin mengutip RT.

Pasar Obligasi

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Prancis (OAT) tenor 10 tahun kini telah naik ke kisaran 4,87%, bahkan sempat menyentuh angka 5% pada akhir September. Ini menjadi level tertinggi sejak tahun 2002.

Selisih imbal hasil (spread) antara OAT tenor 10 tahun dan obligasi pemerintah Jerman (Bunds) tenor 10 tahun melebar sebesar 50 basis poin pada bulan September menjadi 128 basis poin. Hal ini menjadi tingkat tertinggi dalam 14 tahun terakhir.

Saat ini, biaya pinjaman Prancis lebih tinggi dibandingkan Yunani dan Italia, negara-negara yang dulunya dianggap sebagai anggota Zona Euro yang paling mengkhawatirkan. Credit default swap (CDS), instrumen keuangan yang berfungsi seperti asuransi terhadap risiko gagal bayar utang, negara Prancis untuk tenor 5 tahun telah melonjak ke angka sekitar 87 basis poin, level tertinggi sejak awal tahun 2013.

Situasi ini diperparah oleh fakta bahwa investor asing memegang sekitar 50% dari utang pemerintah Prancis. Sehingga negara tersebut rentan terhadap risiko divestasi.

Sebagai contoh, dana investasi asal Jepang memiliki porsi obligasi Prancis yang melampaui bobot acuan yang disarankan. Jika mereka merasa khawatir, tekanan jual bisa semakin meningkat.

Di sisi lain, bank-bank Prancis diperkirakan hanya memegang sedikit. Hanya sekitar 8% dari utang pemerintah tersebut.

Krisis Utang?

Potensi krisis utang pun dikhawatirkan bisa terjadi. Apalagi, spread antara biaya pinjaman Prancis dan Jerman kini berada pada tingkat terlebar sejak puncak krisis utang negara Zona Euro pada tahun 2012.

"Pertanyaan besarnya adalah apakah ini merupakan awal dari krisis utang negara baru di kawasan euro, atau apakah pasar telah bereaksi berlebihan," kata analis senior di Deutsche Bank, Jim Reid.

Gubernur bank sentral, Bank of France, Emmanuel Moulin, mengatakan bahwa Prancis harus melakukan segala upaya untuk menghindari krisis utang negara, yang secara tidak langsung mengakui adanya risiko tersebut. Mengingat Prancis harus mendanai kebutuhan pinjaman besar-besaran sebesar €340 miliar tahun depan, saat beban bunga membengkak dengan cepat.

Lingkaran Setan

Jika yield obligasi Prancis terus meningkat, pemerintah pada akhirnya harus melakukan pembiayaan kembali (refinancing) atas utang dalam jumlah yang kian besar dengan tingkat bunga yang jauh lebih tinggi. Beban bunga yang lebih tinggi akan menyebabkan defisit yang lebih besar, yang pada gilirannya mengharuskan penerbitan lebih banyak obligasi, sehingga mendorong suku bunga semakin tinggi.

Kondisi ini disebut sebagai doom loop alias lingkaran setan. Begitu mekanisme ini terbentuk, hal itu dapat memicu krisis yang datang tiba-tiba dan saling memperparah.

Jika situasi ini menjadi cukup parah, mau tak mau akan muncul pertanyaan mengenai kelangsungan posisi Prancis di dalam Zona Euro. Pertanyaan serupa pernah muncul terkait Yunani pada tahun 2012, bahkan terkait Italia pada tahun 2018 dan 2022.

"Tentu saja, meragukan kelangsungan posisi anggota inti merupakan persoalan dengan skala yang jauh berbeda, namun jika krisis terus berlanjut, keraguan semacam itu pasti akan muncul," tulis analisa RT.

Meski demikian, bank sentral Eropa, ECB pasti tak akan tinggal diam. ECB sendiri memiliki instrumen untuk melakukan intervensi.

Kemungkinan Menular?

Saat ini, terdapat kekhawatiran yang cukup besar di Eropa mengenai dampak destabilisasi dari situasi di pasar obligasi Prancis. Namun sejauh ini belum terjadi kepanikan.

Bahkan hingga baru-baru ini, tidak terlihat tanda-tanda penyebaran yang signifikan akibat masalah yang melanda Prancis tersebut. Namun, pelemahan nilai tukar euro belakangan ini merupakan tanda adanya masalah bahwa mata uang tersebut mengalami aksi jual tajam yang sebagian besar disebabkan oleh masalah di satu negara, meskipun harga energi yang tinggi juga turut berperan.


(sef/sef)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Tuntut Perbaikan Pendidikan, 250 Ribu Pelajar Demo di Prancis