Ramai Turis Masuk Jakarta Cuma Transit-Langsung Cabut, Fenomena Apa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri perhotelan di Jakarta mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada kuartal III-2026. Aktivitas korporasi, pemerintahan, hingga penyelenggaraan berbagai event mulai kembali mendorong permintaan kamar hotel.
Kepala Departemen Riset (Head of Research) Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan industri hotel Jakarta mulai menunjukkan sinyal pemulihan pada kuartal III-2026 setelah menghadapi tantangan pada semester pertama.
"Untuk hotel Jakarta di kuartal ketiga ini ada sinyal yang lebih positif dibandingkan di semester pertama. Kita lihat aktivitas korporasi, kemudian dari government atau pemerintah dan event itu mulai kembali sehingga okupansinya lebih baik. Tetapi ada satu catatan penting, pulih itu belum tentu normal," kata Ferry, Rabu (7/10/26).
Kenaikan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk ke Jakarta juga belum dapat langsung diterjemahkan sebagai tambahan pendapatan bagi hotel. Berdasarkan catatannya, jumlah wisman yang masuk melalui Bandara Soekarno-Hatta pada Januari-Juli 2026 meningkat sekitar 6,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Januari sampai Juli itu jumlah wisatawan mancanegara yang masuk melalui Bandara Soekarno-Hatta meningkat sekitar 6,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Secara sekilas memang berita yang positif buat hotel, tapi pertanyaannya apakah setiap tambahan wisatawan itu otomatis menghasilkan tambahan room nights atau kamar yang tersewa? Jawabannya belum tentu," ujarnya.
Membaiknya konektivitas transportasi dan semakin banyaknya pilihan penerbangan membuat wisatawan dapat melakukan perjalanan dengan lebih efisien. Kondisi tersebut justru dapat membuat durasi kunjungan ke Jakarta menjadi lebih singkat.
"Konektivitas transportasi semakin baik, pilihan penerbangan semakin banyak dan itinerary perjalanan juga semakin efisien. Jadi akibatnya orang bisa datang ke Jakarta tapi tinggalnya lebih singkat. Bahkan sebagian hanya transit, melakukan perjalanan bisnis yang singkat dan kemudian melangsungkan perjalanan ke kota lainnya," jelas Ferry.
Kondisi tersebut membuat pelaku industri hotel perlu melihat lebih jauh data kunjungan wisatawan. Jumlah wisman yang datang harus dibandingkan dengan jumlah wisatawan yang benar-benar menginap serta durasi tinggal mereka di Jakarta.
"Jadi ada rantai yang harus kita lihat, berapa wisatawan yang datang. Nah, dari jumlah itu berapa yang benar-benar menginap di Jakarta," tuturnya.
Kondisi tersebut membuat ukuran pemulihan hotel tidak cukup hanya dilihat dari jumlah wisatawan maupun tingkat okupansi. Hotel tetap harus mendapatkan permintaan yang mampu menghasilkan pendapatan, terutama di tengah pola perjalanan wisatawan yang semakin singkat.
"Okupansi memang masih berada di bawah angka tahun lalu sehingga tantangannya sekarang bukan hanya mengisi kamar, tetapi mendapatkan demand yang benar-benar menghasilkan revenue," pungkasnya.
(dce)