CLOSE AD
MARKET DATA

Hashim Beberkan Teknologi Baru dari Taiwan Bisa Tekan Emisi Pabrik

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
07 October 2026 15:35
Ketua Satgas Perumahan (Hunian), Hashim Djojohadikusumo menyampaikan sambutan saat groundbreaking hunian terjangkau di kawasan dekat Stasiun Manggarai, Jakarta, Jumat (21/8/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: FAISAL RAHMAN

Jakarta, CNBC Indonesia - Utusan Khusus Presiden RI Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo membeberkan adanya teknologi baru asal Jepang dan Taiwan untuk menangkap emisi karbon pada sektor industri.

Teknologi penangkap emisi (carbon capture) tersebut dikatakan bisa memangkas emisi hingga 95%.

Hashim menjelaskan bahwa teknologi baru tersebut difokuskan untuk menangkap karbondioksida (CO2) yang dihasilkan oleh sektor industri non-migas. Alat itu sendiri telah diuji coba pada fasilitas produksi PT Petrokimia Gresik di Jawa Timur melalui kerja sama dengan perusahaan asal Jepang dan Taiwan.

"Tapi ada teknologi baru, yang baru muncul. Yang ini adalah dari industri, karbondioksida yang akibat industri, bukan karena pertambangan atau migas. Ternyata ada teknologi dari Jepang, juga dari Taiwan dan sebagainya, yang dipakai di Petrokimia Gresik," ungkap Hashim dalam acara Investor Daily Summit 2026, di Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Hashim membeberkan bahwa penggunaan alat penangkap karbon tersebut terbukti menekan emisi karbon Petrokimia Gresik hingga 95%. Selain memangkas emisi secara signifikan, proses penangkapan karbon tersebut menghasilkan produk sampingan berupa soda ash atau baking soda yang selama ini masih banyak diimpor oleh Indonesia.

"Dan apa yang terjadi? Emisi karbonnya menurut studi dilakukan oleh Petrokimia Gresik dan perusahaan Jepang dan Taiwan, 95% karbon itu ada pengurangan, emisi karbon berkurang 95%. Dan ada produk sampingan, itu namanya soda ash atau baking soda. Di mana baking soda dan soda ash itu banyak diimpor," paparnya.

Menurutnya, penerapan teknologi penangkap karbon tersebut tidak terbatas pada industri petrokimia saja. Alat tersebut juga dapat dipasang pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara, sehingga pembangkit listrik yang ada di Tanah Air dapat terus beroperasi secara berkelanjutan sekaligus menekan emisi.

"Dan ini bisa kita terapkan ternyata bukan hanya di Petrokimia Gresik, kita bisa pakai untuk PLTU. Semua stasiun listrik, pembangkit listrik yang memakai batu bara bisa hidup terus-menerus karena alat-alat ini bisa dipakai," tambahnya.

Untuk mendorong adopsi teknologi penangkap emisi tersebut secara luas di sektor industri domestik, Hashim menyebutkan Kementerian Perindustrian tengah menyiapkan skema insentif khusus bagi perusahaan yang mengaplikasikan alat tersebut.

"Nah memang alat ini ada biaya, tapi pemerintah lagi menyusun, ini Menteri Perindustrian lagi menyusun program insentif khusus bagi pemakai-pemakai alat-alat ini. Dan alat ini bukan hanya dari satu perusahaan, ini teknologi itu sudah ada, ada dari Eropa, ada dari, yang bikin eksperimen di Petrokimia Gresik itu perusahaan dari Taiwan dan dari Jepang," tandasnya.

(wia) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Hashim Akui Biaya Kampanye Politik Pakai Duit Bisnis Migas


Most Popular
Features